Wanita Haid Boleh Berpuasa? Inilah Kebebasan Berpendapat


Dalam kehidupan demokrasi liberal, terdapat jaminan kebebasan berpendapat dan mengeluarkan suatu pemikiran. Sehingga seringkali pendapat dari seseorang bertentangan dengan pendapat pihak yang lain. Sebagaimana yang cukup ramai belakangan ini di jagad dunia maya, terkait pernyataan bolehkah perempuan haid menjalankan puasa Ramadhan?

Dikutip dari detiknews.com, adalah akun Instagram mubadalah.id yang mengunggah 'alasan perempuan haid boleh berpuasa'. Unggahan itu menyebutkan tidak ada satu pun ayat Al-Qur'an yang melarang perempuan haid berpuasa. Kemudian, disebutkan juga bahwa hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah Ra dan riwayat lainnya menyatakan bahwa Rasulullah hanya melarang shalat bagi perempuan haid dan tidak melarang puasa (Minggu, 02 Mei 2021).

Dikonfirmasi detikcom, Imam mengaku sudah menghapus unggahannya terkait seorang wanita boleh berpuasa saat haid di akun media sosial pribadinya. Hal itu dilakukan karena telah memicu kontroversi. "Saya sudah hapus di status FB saya, karena memicu kontroversi tidak sehat. Jadi saya hapus," ujar Imam melalui pesan singkat, Minggu (2/5/2021).

Meskipun postingan terkait kebolehan wanita berpuasa saat haid sudah dihapus, namun kejadian ini cukup menyita perhatian banyak pihak. Terlebih masalah syariat terkait ibadah mahdhah sudah ada panduannya yang jelas dan tidak bisa diutak atik sesuka hati.


Pandangan Syariat Terkait Wanita Haid

Islam sebagai Diin yang sempurna sungguh telah memberikan pengaturan yang terbaik bagi kaum wanita. Bahkan masalah haid pun juga diatur sedemikian rupa. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai sebab kekurangan agama wanita, beliau berkata, “Bukankah wanita jika haid tidak shalat dan tidak puasa?” (HR. Bukhari, no. 304; Muslim, no. 79).

Bagi wanita yang berhalangan untuk puasa karena haid, maka dia mempunyai kewajiban untuk mengqadha’ puasa di hari yang lain. Dari Mu’adzah dia berkata, “Saya bertanya kepada Aisyah seraya berkata, ‘Kenapa gerangan wanita yang haid mengqadha’ puasa dan tidak mengqadha’ shalat?’ Maka Aisyah menjawab, ‘Apakah kamu dari golongan Haruriyah? ‘ Aku menjawab, ‘Aku bukan Haruriyah, akan tetapi aku hanya bertanya.’ Aisyah menjawab, “Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat.” (HR. Muslim, no. 335).

Di atas adalah panduan syariat jika seorang wanita keluar darah haid, maka haram baginya untuk melaksanakan ibadah puasa. Pemahaman yang demikian sungguh merupakan pemahaman yang sudah umum diketahui juga oleh umat Muslimin.


Bebas Berpendapat

Namun sungguh disayangkan, dalam kehidupan demokrasi liberal, memang sangat dimungkinkan untuk mengeluarkan perkataan atau sikap yang bertentangan dengan nilai-nilai akidah Islam. Bahkan di negeri mayoritas Muslim sekalipun, kebebasan berpendapat ini sudah menjadi sesuatu yang "biasa" dilakukan.

Maka sangat urgen mewujudkan lagi peran negara untuk menjaga akidah umat Islam dari segala hal yang bisa merusaknya dan menjerumuskan dalam kesesatan pemikiran. Butuh kekuatan dari pemangku kebijakan agar umat benar-benar bisa beribadah dan beramal sesuai panduan syariat Islam. Dan tentunya kondisi ini akan terwujud jika ada muhasabah dan penegakan hukum yang adil di tengah-tengah masyarakat. Sehingga tidak akan terjadi berulang-ulang pandangan menyesatkan yang dengan mudah disebarluaskan lewat media sosial.

Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Fatihah ayat 5-7 yang artinya: “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya, bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”.

Semoga Allah Ta'ala senantiasa menjaga kita dan menunjukkan jalan yang lurus yaitu jalan kebenaran Islam, Aamiin. Wa ma tawfiqi illa bilLah'alayhi tawakkaltu wa ilayhi unib. []


Oleh: Dahlia Kumalasari
(Pendidik)

Posting Komentar

0 Komentar