Wajib Mengikatkan Diri dengan Shibghah Allah SWT


Ada kaidah yang terkait dengan keimanan dan kekafiran yang tidak akan menyatu pada diri seorang hamba yakni kalau tidak beriman maka ia kufur baik Yahudi, Nasrani, kapitalisme ataupun sosialisme. Kekufuran tidak akan langsung berhadapan dengan dengan keimanan, sehingga Yahudi, Nasrani, kapitalisme dan sosialisme akan bersama-sama menggandeng orang yang dapat dibeli untuk bekerja bersama-sama memerangi keimanan. Tak heran ini terjadi karena kekufuran itu satu agama (alkufru millah aqidah).

Kekufuran dan keimanan ada hubungannya dengan ucapan dan perbuatan (fi’il), Allah SWT Maha Mengetahui apakah itu kekufuran atau keimanan meskipun tarafnya sangat lembut sekalipun. Karena sesungguhnya hamba tidak akan pernah dapat menipu Allah SWT.

Oleh karenanya, Allah SWT menyeru agar hamba-Nya senantiasa terikat dengan shibghah-Nya Allah sebagaimana Firman Allah SWT,

صِبۡغَØ©َ اللّٰÙ‡ِ ‌ۚ ÙˆَÙ…َÙ†ۡ اَØ­ۡسَÙ†ُ Ù…ِÙ†َ اللّٰÙ‡ِ صِبۡغَØ©ً ÙˆَّÙ†َØ­ۡÙ†ُ Ù„َÙ‡ٗ عٰبِدُÙˆۡÙ†َ

Artinya: “Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghanya dari pada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah.” (TQS Al Baqarah [2]: 138).

Seorang hamba harus terikat dengan صِبْغَØ©َ اللّٰÙ‡ِ . Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim juga disebutkan Ibnu Mardawaih, dari riwayat Asy’ats bin Ishaq, dari Ja’far bin Abi Al Mughirah, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas RA, bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Bani Israil mengatakan, ‘Musa, apakah Rabbmu memberi warna?’ Maka Musa berkata, ‘Takutlah kalian kepada Allah’. Lalu Allah berseru kepada Musa, ‘Musa, mereka bertanya kepadamu, apakah Rabbmu memberi warna? Jawablah, Ya. Aku memberi warna: Merah, putih, hitam, dan semua warna yang berasal dari celupanku’.” (HR. Abu Nu’aim dalam kitab Al Hilyah (IV/276).

Kemudian  صِبۡغَØ©َ  merupakan celupan dan  صِبۡغَØ©َ اللّٰÙ‡ِ bermakna celupannya Allah yaitu Islam. Orang yang beragama itu akan nampak jelas identitasnya. Seperti halnya mencelupkan kain pada warna ia akan meninggalkan jejak (atsar)nya di kehidupan sehari-hari di setiap lini kehidupan, meskipun ada pihak yang menyanggah bahwa ini adalah ranah privatisasi. Namun tatkala seorang hamba telah melakukan ibadah di lingkup privatisasinya, melakukan muamalah dengan sesama manusia berdasarkan hukum syara’ maka ini menandakan hamba tersebut telah menghiasi dirinya dengan  صِبۡغَØ©َ اللّٰÙ‡ِ. 

Oleh karena itu, sikap seorang hamba yang beriman harus jelas, tidak boleh ada ambigu sedikit pun dalam menyikapi kekufuran. Ia harus tegas dalam menyikapi kekufuran selembut apapun itu dari perkara hati, ucapan apalagi perbuatan. Menyadari dengan sepenuh hati, selain Islam termasuk kapitalisme dan sosialisme adalah bentuk kekufuran. Karena kapitalisme dan sosialisme telah membawa manusia ke persimpangan yang jauh dari keimanan, menjadikan Allah SWT kehilangan haknya sebagai Pengatur dan atau pun Pencipta manusia, alam semesta dan kehidupan. 

Padahal harusnya manusia itu ÙˆَّÙ†َØ­ۡÙ†ُ Ù„َÙ‡ٗ عٰبِدُÙˆۡÙ†َ Hanya kepadanyalah kami menyembah. Menjadikan diri sempurna sebagai hamba yang tunduk secara total untuk melaksanakan apa yang telah diperintahkan oleh Allah SWT di semua tatanan kehidupan tanpa terkecuali. Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Novida Sari, S.Kom
(Santri Daring I’robul Quran Di Bawah Asuhan KH. Hafidz Abdurrahman)

Posting Komentar

0 Komentar