Ustaz Yusuf Mustakim: Zakat akan Menguatkan Ekonomi Umat Islam



TintaSiyasi.com-- Berbicara soal hikmah zakat, Direktur Institut Kajian Islam dan Masyarakat Ustaz Yusuf Mustakim menyatakan, zakat akan memberikan kekuatan ekonomi kepada umat Islam.

“Hikmah dari zakat, akan memberikan kekuatan ekonomi kepada umat Islam. Sedangkan orang yang membayarkannya kepada Allah, akan mendapatkan ketentraman jiwa,” tuturnya dalam acara Ngabuburit Bareng Asatidz Bersama Ustaz Yusuf Mustakim: Hikmah Zakat, Jumat (7/5/2021) di kanal YouTube Follback Dakwah.

Ia mengatakan, zakat mal memiliki hitungan matematis yang detail ketika menghubungkan menjadi kekuatan ekonomi yang besar. “Masyarakat belum menyadari tentang kewajiban dan juga belum menyadari tentang potensi dari zakat mal ini. Mereka cenderung tidak memberikan perhatian yang serius. Padahal zakat ini merupakan salah satu kekuatan ekonomi,” ujarnya.

Meskipun zakat hanya diberikan kepada golongan tertentu, yaitu dari kalangan delapan asnaf, tetapi menurutnya, dalam ekonomi Islam ada kepemilikan umum, kepemilikan negara, dan tata moneter.

“Tentu kalau dari zakat saja yang diperuntukan hanya untuk delapan asnaf, itu saja sudah dahsyat hitungannya. Apalagi jika ekonomi Islam itu diterapkan,” ujarnya.

Ia menilai, sistem kapitalisme menjadikan negeri yang makmur menjadi miskin. “Negara Afrika memiliki sumber daya mineral yang luar biasa, demikian juga negeri-negeri Timur Tengah yang memiliki sumber energi minyak bumi yang luar biasa," terangnya.

"Negeri kita juga memiliki hutan yang sangat luas. Kita memiliki sumber daya tambang yang  hampir semua jenis bahan bakar itu ada. Tetapi, baik negeri ini, kaum Muslimin di Timur Tengah, maupun di Eropa, mereka terbelenggu dengan utang luar negeri. Padahal kalau kekuatan  ekonomi itu diatur dengan Islam, maka umat islam akan menjadi umat yang terbaik dalam bidang ekonomi,” bebernya.

Menurutnya, dalam Islam, seorang pemimpin wajib bertanggung jawab pada rakyatnya. “Termasuk dalam masalah ekonomi, wajib menjauhkan rakyatnya dari perkara-perkara yang haram,” ujarnya.

Oleh sebab itu, tidak layak seorang pemimpin justru terlibat dengan utang-utang ribawi dan memaksa rakyatnya untuk mengumpulkan uang demi membayar pokok, maupun bunga dari pinjaman. “Jelas masyarakat yang seperti ini, masyarakat yang rusak, seperti halnya yang terjadi di negeri kita ini,” tegasnya.

“Dengan tingginya utang luar negeri yang ribawi ini akan menyeret bangsa ini menjadi bangsa yang justru mengadahkan tangan untuk menerima zakat,” ujarnya.

Menurutnya, Islam adalah agama yang rahmatan lil'alamin, dan rahmatan lil'alamin itu hanya terwujud ketika syariat Islam diterapkan dalam keseluruhannya atau totalitas. “Ketika ada satu saja bagian dari syariat islam yang ditinggalkan, maka tidak akan mendatangkan rahmatan lil'alamin,” ungkapnya.

“Oleh karena itu, mari kaum Muslimin di akhir-akhir bulan Ramadhan ini, buktikan ketakwaan kita dengan bersegera menerapkan syariat Islam dengan naungan Khilafah Islamiyah,” pungkasnya. [] Aslan La Asamu

Posting Komentar

0 Komentar