Ustaz Ahmad Sudrajat: Masa Bani Abbasiyah, Masa Keemasan Muslimin


TintaSiyasi.com -- Khadim Majelis Sirah Sahabat Yogyakarta Ustaz Ahmad Sudrajat, menyebutkan bahwa masa Kekhilafahan Bani Abbasiyah sebagai golden age (masa keemasan) Muslimin. 

"Ini disebut sebagai golden age-nya Muslimin. Ketika kita bicara masa keemasannya kaum Muslimin, ya rujukannya di masa Bani Abbasiyah, ketika kaum Muslimin sebagai pusatnya sains dan teknologi, filsafat dan lain sebagainya," ungkapnya dalam Ngabuburit bareng Asatidz: Masa Khilafah Bani Abbasiyah di saluran YouTube Follback Dakwah, Kamis (29/4/2021). 

Ustaz Ahmad menjelaskan, di masa Abbasiyah yang berkuasa kurang lebih 500 tahun (750-1258 Masehi) itu, kaum Muslim telah mencapai banyak prestasi. Menurutnya, para pemimpin di masa Bani Abbasiyah memiliki kepedulian yang sangat tinggi terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. 

"Abu Ja’far Al-Mansyur yang kemudian diteruskan putranya, Al-Mahdi. Al-Mahdi kemudian diteruskan putranya, Harun Al-Rasyid. Harun Al-Rasyid kemudian diteruskan lagi oleh Al-Makmun. Itu memang orang-orang yang memiliki kepedulian terhadap pengetahuan dan teknologi itu sangat besar, sangat luar biasa, ilmu itu dinilai sangat tinggi," ujarnya. 

Ia mengungkapkan, Abu Ja’far Al-Mansyur saat itu telah menjadikan Bagdad sebagai ibu kota Daulah Abbasiyah dengan perencanaan yang matang. Di masanya juga telah dilakukan upaya untuk mendapatkan buku-buku astronomi dari Romawi kuno. Lalu, lanjutnya, di masa Al-Mahdi, mulai dibangun rumah sakit, mulai dilakukan upaya-upaya untuk menerjemahkan buku-buku. 

Lebih lanjut, Ustaz Ahmad menjelaskan, di masa Khalifah Harun Al-Rasyid yang berkuasa selama sekitar 20 tahun, Bani Abbasiyah mengalami percepatan yang luar biasa hingga menjadi mercusuar peradaban dengan dibangunnya Baitul Hikmah, sebuah tempat untuk mengkaji berbagai macam ilmu, khususnya ilmu astronomi, pengembangan ilmu kalam, kedokteran, juga ilmu kimia. 

"Di saat itulah kemudian Bani Abbasiyah itu menjadi mercusuar, di tengah peradaban dunia yang pada waktu itu Eropa masih berada pada masa kegelapan raja-raja absolut sehingga orang yang cerdik pandai dari seluruh dunia, ketika mereka hendak mencari ilmu, ketika mereka hendak menuntut ilmu, ya maka tidak ada pilihan lain, kecuali ke kota-kota atau wilayah negeri kaum Muslimin, seperti Bagdad, atau mereka melihat ke arah barat seperti Andalusia," terangnya. 

Menurutnya, pada masa itu berkembang sains dan teknologi hingga masyarakat mengenal Al-Farabi, Al-Farghani, Al-Farozi, Al-Battani, ulama-ulama pada waktu itu yang menekuni bidang astronomi. Demikian pula, lanjutnya, Ibnu Sina dengan karyanya yang sampai sekarang masih dipakai untuk rujukan sebagai akar dari ilmu kedokteran modern, dalam ilmu kimia ada Jabr ibnu Khayyar serta dalam ilmu matematika ada Al-Khawarizmi. 

Ustaz Ahmad menambahkan, selain berdirinya lembaga-lembaga ilmu pengetahuan tersebut, di masa Bani Abbasiyah juga mengalami perkembangan ilmu agama (ulumuddiin). Menurutnya, di masa itu empat imam besar Ahlussunnah (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hammbal) menghasilkan karya yang pengaruhnya masih terasa sampai sekarang. 

"Di antaranya adalah ilmu-ilmu atau yang kemudian kita kenal ulumuddin atau ilmu-ilmu agama. Contoh yang paling munumental, misalnya berkembangnya ilmu fikih dan ushul fikih. Pada masa Abbasiyah inilah empat imam besar ahlussunnah itu berkarya," imbuhnya. 

Selain itu, menurutnya, di masa itu juga berkembang ilmu tafsir, ilmu hadits, juga ilmu filsafat. Ustaz Ahmad menjelaskan, keistimewaan ulama pada masa Abbasiyah, mereka memiliki keahlian dalam banyak bidang. 

"Satu hal yang istimewa dari ulama pada masa itu, bukan hanya menguasai satu bidang studi atau satu jenis keahlian saja. Selain seorang filosof, tapi juga ahli matematika atau kedokteran. Mereka memiliki keahlian dalam banyak hal," terangnya. 

Namun demikian, Ustaz Ahmad menjelaskan bahwa pesatnya perkembangan yang menjadikan Abbasiyah berlimpah kemakmuran tersebut ternyata memberikan pengaruh terhadap khalifah berikutnya. 

"Mereka memiliki kota-kota yang luar biasa, sangat terkenal, dikunjungi banyak orang. Maka ini memberikan pengaruh. Keadaan yang nyaman, penuh prestasi, penuh berbagai penemuan menyebabkan hilangnya visi khalifah-khalifah yang melanjutkan berikutnya. Maka, pada paruh kedua, mereka mulai mengalami kemerosotan," ungkapnya. 

Menurutnya, saat wilayahnya semakin luas, khalifah semakin lemah, muncul berbagai imaroh (kekuasaan) yang secara struktural di bawah Abbasiyah, tetapi secara riil mereka independen, kesatuan negara semakin melemah sehingga kelompok-kelompok yang selama ini menanti saat paling tepat untuk menyerang kaum Muslim itu datang. 

"Itulah akhir Abbasiyah. Ketika kegemilangan, kecemerlangan prestasi yang luar biasa dari sebuah negara yang besar, pelan namun pasti semakin surut, semakin padam cahanyanya seiring dengan persatuan yang tidak bisa diwujudkan dengan baik, sehingga serangan dari kekuatan-kekuatan asing itu bisa mengalahkan mereka," pungkasnya.[] Saptaningtyas

Posting Komentar

0 Komentar