Ucapan Pejabat Jangan Menyakiti Rakyat


“…pengungsi terlalu besar ini sudah menjadi beban pemerintah baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

Banyak publik yang menyayangkan atas ucapan pejabat yang mengatakan pengungsi jadi beban negara. Di saat semestinya membantu dan meringankan beban rakyat yang ditimpa musibah, pejabat ini justru menambah beban baru dengan ucapan yang menyakitkan. Ini juga menimbulkan beban baru bagi negara.

Tak hanya sekali dua kali para pejabat rejim Jokowi ini menyakiti rakyat dengan ucapannya. Ketika cabe mahal suruh tanam sendiri. Ketika daging mahal suruh makan keong sawah. Ketika listrik mahal suruh cabut meteran. Ketika BPJS naik disuruh jangan sakit. Dan masih banyak yang lainnya.

Terkait dengan komunikasi para pejabat ini jika dikaitkan dengan komunikasi Pemerintahan yang Baik dapat kita bahas dalam dua sisi.

Pertama, sikap personal komunikator. Sebelum ucapan seorang pemimpin dinilai publik maka yang dilihat dulu adalah penampilan dan gestur pemimpin itu. Pemimpin harus menampakan etika yang baik dalam berpakaian dan bertindak.

Di antara karakter penting yang diperlukan dalam komunikasi yang baik adalah Respect dan Humble. Respect merupakan Rasa hormat dan sikap menghargai dalam kita berkomunikasi dengan orang lain. Suatu komunikasi yang dibangun atas dasar sikap saling menghargai dan menghormati akan membangun kerjasama yang baik. Tentu pula tak kan keluar ucapan senada "pengungsi jadi beban negara".

Sedangkan karekter yang kedua adalah Humble diartikan sebagai sikap hangat, rendah hati (bukan rendah diri). Sikap ini membangun rasa menghargai orang yang diberi pesan. Sikap rendah hati dapat dikatakan sebagai bentuk penghargaan komunikator terhadap komunikan sebagai penerima pesan.

Sikap ketiga adalah empathy. Yang dimaksud di sini adalah kemampuan kita untuk menempatkan diri kita pada situasi atau kondisi yang dihadapi oleh orang lain. Salah satu prasyarat utama dalam memiliki sikap empati adalah kemampuan kita untuk mendengarkan atau mengerti terlebih dulu sebelum didengarkan atau dimengerti oleh orang lain.

Dari prinsip-prinsin karakter komunikasi yang baik itu dapat kita bangun sikap dan ucapan yang baik. Janganlah ketika mau berkunjung ke tempat pengungsian dengan gaya seperti mau pesta pernikahan. Atau seperti mau pergi pelantikan anggota DPR seperti gaya mereka yang dilantik baru-baru ini. Dengan penampilan yang tidak tepat itu sudah mengawali komunikasi yang buruk.

Kedua, materi komunikasi yang disampaikan. Dalam kepemimpinan pemerintahan yang baik, materi komunikasi menjadi sangat penting. Pemimpin yang baik harus punya kemampuan menyusun materi komunikasi dengan baik. Itulah sebabnya pemimpin sering diberikan teks pidato agar tidak salah ucap.

Materi yang disampaikan juga harus bisa dipahami audiennya. Ini menyangkut 1) Pilihan kata yang tepat, harus Audible bisa dimengerti dan dipahami. 2) Clarity, kejelasan dari pesan itu sendiri sehingga tidak menimbulkan multi interpretasi atau berbagai penafsiran yang berlainan. 3) Gimik yang tepat, penampakan wajah dan gerakan tubuh mesti sinkron. Sesusi antara ucapan dan gerakannya.

Dengan komunikasi yang baik itu akan bisa membangkitkan kepercayaan publik dan merangsang partisipasi masyarakat. Mereka akan terdorong untuk saling membantu sesama dan membantu pemerintahan. Komunikasi yang baik membuat masyarakat mengerti dan merasa nyaman untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk mereka dan negara.

Pada era rejim jokowi ini di banyak kejadian pejabat yang suka salah ucap. Bahkan beberapa pejabat tinggi setingkat menteri bisa keliru dalam berkomunikasi. Tak terkecuali menteri senior pun menyakitkan publik dalam berkomunikasi.

Ada menteri yang bicara kepada anak buahnya di depan publik, “emang yang gaji kamu siapa?” ini sangat menyakiti anak buahnya. Sekaligus menunjukan kemampuan komunikasi yang rendah. Bukankah yang gaji dia dan anak buahnya itu negara, bukan rejim pemerintahan? Makanya mereka di gaji dari APBN, belanja negara bukan belanja rejim pemerintahan.

Bahkan baru-baru ini ada pejabat senior rejim Jokowi yang berkomunikasi menyakitkan rakyat, katanya “…pengungsi terlalu besar ini sudah menjadi beban pemerintah baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.” (inews.id).

Ucapan ini tentu sangat tidak elok dan sangat menyakitkan bagi para pengungsi yang sedang ditimpa musibah. Tak ada orang yang mau hidup mengungsi dengan segala keterbatasan fasilitas jika tidak ada musibah. Jika tak mau membantu maka jangan menyakiti dengan ucapan. Karena lidah itu akan ditanya dipengadilan akhirat kelak.

Jika belum mampu meringankan beban saudara-saudara kita yang tertimpa musibah, minimal menghibur dengan ucapan yang baik. Setan yang menggoda manusia pun tak membisikkan kata-kata yang menyakitkan. Sudah semestinya Pemimpin yang baik mengucapkan kata yang indah-indah, minimal tak menyakiti dengan kata-kata.

Bahkan dengan kata-kata yang baik pun seorang pemimpin mesti hati-hati karena bisa saja masih terjerumus munafiq jika tak berbuat baik. Apalagi sudah tak berbuat baik ucapannya menyakitkan.

Jauh 14 abad yang lalu, Khalifah Umar bin Khaththab pun mewanti-wanti kita:
“Sesuatu yang paling aku khawatirkan dari kalian adalah munafiq alim (yang berpengetahuan).”
Kemudian ditanyakan, “Bagaimana mungkin munafik memiliki sifat alim?”
Umar menjawab, “Ia berbicara dengan penuh hikmah namun melakukan kezaliman atau kemungkaran.”

Jadi setiap kita mesti hati-hati dalam ucapan agar tak menyakiti sesama. Setelah itu terus Berupaya untuk berbuat baik agar sama ucapan dan tindakan dan tak tergolong munafiq alim.

Sebagai sesama saudara, tentu kita turut berduka atas berbagai musibah yang menimpa sebagian masyarakat negeri ini. Apalagi sebagai pejabat, tentu punya kewajiban yang lebih besar untuk mengurus rakyat. Jangan dianggap sebagai beban karena itu amanah. Jika merasa berat berarti itu masalah kapasitas. Tanggungjawab lebih besar dari kemampuan yang dimiliki.

Jika belum mampu membantu minimal dengan ucapan yang baik dan iringan doa. Sebagaimana pesan pemimpin pemerintahan terbaik sepanjang sejarah, baginda nabi Muhammad SAW telah mengingatkan kita :
Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari).

Baik kita sama-sama berdoa buat saudara-saudara kita yang ditimpa musibah,
Ada yang ditimpa kebakaran dan kabut asap seperti di Sumatera dan Kalimantan, ada yang ditimpa musibah kerusuhan seperti di Papua dan ada yang ditimpa bencana Gempa seperti di Maluku.

Semoga berbagai beban ucapan dari para pemimpin yang tidak paham itu tak terjadi lagi dan juga berbagai bencana alam, segera berakhir dari negeri ini. Amin. []

NB; Penulis pernah belajar pemerintahan di STPDN angkatan ke-04 dan IIP Jakarta angkatan ke-29 serta MIP-IIP Jakarta angkatan ke-08.


Oleh: Wahyudi al Maroky
(Dir. Pamong Institute)

Posting Komentar

0 Komentar