Tenggelamnya KRI Nanggala-402, antara Musibah dan Urgensi Pengurusan Alutsista


Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, duka cita mendalam untuk para prajurit TNI Angkatan Laut yang menjadi korban tenggelamnya Kapal Selam KRI Nanggala-402 di Perairan Utara Pulau Bali. Tak hanya dirasakan oleh keluarga korban, peristiwa ini menjadi duka dan kesedihan bagi bangsa Indonesia.

Dikutip dari Kontan.co.id-Denpasar, 25/04/2021 bahwa tenggelamnya KRI Nanggala-402 diawali ketika kapal selam buatan Jerman ini mengikuti latihan penembakan senjata strategis TNI AL 2021 pada Rabu 22 April 2021, dini hari. Setelah beberapa hari dilakukan pencarian, pada Sabtu, 24 April 2021, sore kapal pun dinyatakan tenggelam atau subsunk dan 53 prajurit dinyatakan gugur. Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Yudho Margono mengatakan kapal selam tersebut ditemukan terbelah menjadi tiga bagian. Tenggelamnya KRI Nanggala-402 merupakan insiden fatal terbaru yang terkait dengan kapal selam di seluruh dunia.

Negara Indonesia yang dua pertiganya merupakan wilayah perairan, sehingga Indonesia disebut sebagai negara maritim. Beberapa ciri negara maritim yaitu pertama memiliki kawasan laut yang sangat luas. Kedua, secara geografis dikelilingi oleh perairan dan laut. Ketiga, pada umumnya berbentuk kepulauan atau memiliki banyak pulau. Keempat, kebanyakan penduduknya sebagai nelayan. Kelima, mempunyai kekayaan alam dan laut yang besar. 

Kita harus menyadari bahwa ketentuan Allah SWT tentang kejadian atau musibah yang menimpa umat manusia tidak bisa kita prediksi. Akan tetapi Allah telah mengatur seluruh keadaan yang Allah kehendaki seperti dalam QS. Ali Imran (3) ayat 145 yang artinya, "Dan setiap yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Siapa yang menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala (dunia) itu, dan siapa yang menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala (akhirat) itu, dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur."

Maka dari itu, musibah tenggelamnya KRI Nanggala-402 bersama 53 prajurit yang gugur dalam tugas adalah qadla (ketetapan) dari Allah SWT yang tidak bisa ditunda dan ditawar. Baik dalam situasi dan dalam keadaan apapun serta di mana pun berada. 

Namun, musibah ini pun harus menjadi pelajaran agar negara serius dalam mengurus dan memperbaiki alutsista. Jangan sampai para prajurit menjadi korban kurangnya prioritas negara dalam memperhatikan perbaikan alat alusista dengan alasan anggaran yang terbatas. 

Dalam Islam, negara wajib mempersiapkan para tentara terbaik dan terlatih. Juga persiapan senjata dan alutsista tercanggih. Selain untuk menggentarkan musuh, hal ini bertujuan untuk melaksanakan kewajiban jihad, dakwah dan menyebarkan Islam. Untuk mewujudkannya perlu adanya institusi pelaksana syariat yakni Khilafah Islam. Semoga institusi ini dapat kembali hadir dan berjaya dengan kemajuan alutsistanya. Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Yani Riyani 
(Ibu Rumah Tangga & Aktivis Muslimah)

Posting Komentar

0 Komentar