Surat Kepala Negara kepada si 'Anu'


Bagaimana jika tiba-tiba teman kita yang semula baik lalu berubah jadi buruk. Semula dia rajin ibadah, suka memberi dan suka menolong, berubah jadi ahli maksiat. Tiba-tiba berubah, suka mabuk, suka maki-maki, suka mengambil hak orang dan lain-lain. Apa yang mesti kita lalukan?

Ternyata kasus demikian bukan saja terjadi di zaman now. Bahkan dimasa Khalifah Umar pun sudah terjadi kasus seperti itu. Konon kala itu ada seorang tokoh terpandang dikaumnya, punya posisi penting sebagai wakil mereka. Mungkin kalau zaman now posisinya semisal anggota DPD atau anggota DPR.

Telah dikisahkan dari Yazid Al-Asam yang telah menceritakan bahwa dahulu ada seorang lelaki penduduk negeri Syam yang mempunyai kekuatan (berpengaruh). Dia biasa menghadap kepada Khalifah Umar sebagai perutusan (perwakilan) dari kaumnya.

Setelah sekian lama lelaki itu tidak menghadap sang khalifah. Maka pada suatu hari Khalifah Umar merasa kehilangan dia, lalu menanyakan tentangnya, "Apakah yang telah dilakukan oleh si Fulan bin Anu?" Orang-orang menjawab, "Wahai Amirul Mu’minin, dia sekarang gemar minum-minuman ini (khamr)."

Saat itu, Khalifah Umar memanggil juru tulisnya (sekretarisnya), lalu berkata kepadanya, "Tulislah, dari Umar ibnul Khattab kepada fulan bin anu.

Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu, sesungguhnya aku memuji kepada Allah dalam surat yang ditujukan kepadamu ini, bahwa tidak ada Tuhan yang wajib disembah selain Allah, Yang Mengampuni dosa dan Menerima tobat serta sangat keras hukuman-Nya. Yang Mempunyai karunia, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, dan hanya kepada-Nya lah makhluk dikembalikan."

Setelah itu Khalifah Umar menyerukan kepada teman-temannya agar mendoakan buat teman mereka. Semoga ia sadar dan kembali bertobat kepada Allah.

Ketika surat itu sampai kepada lelaki yang dimaksud, maka ia langsung membacanya dan ia baca berulang-ulang. Lalu berkata, "Yang Mengampuni dosa, Yang Menerima tobat, Yang sangat keras hukuman-Nya. Umar telah memperingatkan diriku akan hukum-Nya dan dia menjanjikan bahwa Allah akan memberikan ampunan bagiku."

Selanjutnya diriwayatkan oleh Al-Hafiz Abu Na'im melalui hadits Ja'far ibnu Barqan yang dalam riwayatnya ditambahkan bahwa lelaki itu setelah menerima surat terus-menerus mengoreksi dirinya hingga ia menangis, lalu menghentikan perbuatannya dan bersikap baik dalam tobatnya itu.

Dari kisah ini dapat kita ambil hikmah sebagai berikut:

Pertama; Setiap orang bisa saja berubah. Ada yang berubah ke arah kebaikan, ada juga yang tergoda untuk maksiat. Orang baik yang berubah jadi buruk, ia akan lebih banyak berkumpul dengan teman barunya yang buruk. Ia akan meninggalkan dan melupakan teman baiknya. Demikian pula sebaliknya.

Kedua; Bagi teman baiknya punya kewajiban mengingatkan dan menasihatinya. Teman yang baik harus senantiasa mengajak untuk selalu ingat kepada Allah. Senantiasa pula mengingatkan, hanya Allah yang layak di puji dan disembah. Hanya kepada Allah saja memohon ampun dan bertobat. Hanya Allah yang maha keras siksanya dan maha luas karunianya. Dan hanya kepada Allah saja semua makhluk akan kembali.

Ketiga; selain mengingatkan dan menasihati temannya, mereka juga wajib mendoakannya agar kembali menjadi orang baik. Inilah yang diperintahkan Khalifah Umar agar mereka mendoakan buat teman mereka. Semoga ia sadar dan kembali bertobat kepada Allah.

Keempat; Pemimpin negara pun punya kewajiban mengingatkan warganya. Bahkan dengan kewenangannya, ia harus melindungi warganya agar tak terjatuh pada perbuatan maksiat. Dengan kewenangannya pula ia harus mencegah dan menutup setiap pintu dan celah yang bisa mengantarkan orang berbuat maksiat. Karena sebagai pemimpin pastilah akan dimintai pertanggungjawaban diakhirat kelak.

Dalam kisah tersebut, khalifah Umar bahkan menulis surat khusus untuk mengingatkan warganya yang diduga melakukan maksiyat (minum khamar/miras). Dan dengan surat itu ternyata sang lelaki (Fulan bin Anu) yang sangat berpengaruh di kalangan kaumnya itu bisa bertobat dan kembali jadi orang baik.

Istilah Fulan adalah sebutan orang yang tak disebut nama aslinya. Sedangkan ANU juga sebutan bagi orang yang tak disebutkan nama aslinya. Dikalangan milenial kini sering disebut Si "Nganu".

Walhasil, bila kita melihat ada seseorang dari teman kita yang terjerumus ke dalam kekeliruan atau maksiat maka harus segera mengingatkannya. Meluruskan kekeliruannya, meneguhkan hatinya agar kembali condong kepada kebaikan. Selain itu, kita pun mendoakan semoga Allah menerima tobatnya.

Kiranya diantara sesama teman baik bisa saling mendoakan dan jadi penolong sesama teman. Dan semoga kita tak menjadi penolong setan yang mengajak teman kejalan keburukan. []

(Disarikan dari tafsir Surat Ghafir)


Oleh: Wahyudi al Maroky
(Dir. PAMONG Institute)

NB: Penulis pernah belajar pemerintahan di STPDN angkatan ke-04 dan IIP Jakarta angkatan ke-29 serta MIP-IIP Jakarta angkatan ke-08.

Posting Komentar

0 Komentar