Ramadhan Berlalu Wujudkan Kehidupan Baru


Masih dalam suasana Fitri. Taqabbalallahu Minnaa wa Minkum. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1442 H, mohon maaf lahir dan batin. 
Ramadhan telah berlalu. Idul Fitri telah menghampiri. Hari Raya telah menyapa. Puasa berganti berbuka. Yang tersisa sejatinya adalah takwa. Bukan kembali bergelimang dosa. Begitulah seharusnya kita setelah sebulan menahan hawa nafsu dan dahaga.

Idul Fitri tahun ini kita rayakan bersama saat bangsa ini masih dirundung oleh ragam ujian. Sebagaimana Idul Fitri sebelumnya, di tengah suka-cita perayaan hari raya, duka masih tetap menyelimuti kita semua. Corona masih mengintai setiap insan manusia. Israel di sepuluh hari terakhir Ramadhan kembali mengirimkan rudalnya ke Palestina. Muslim di Xinjiang hidup terlunta-lunta dan selalu di siksa.

Rentetan penderitaan menghujam kaum Muslimin. Menyiksa lahir dan batin. Bukan hanya itu, pemikiran-pemikiran liberal pun mampu melemahkan kondisi umat Islam.
Isu pluralisme melalui teori moderasi Islam dimasukkan untuk mengotori pemahaman. Islamofobia sengaja disebar agar timbul benih-benih ketakutan dan permusuhan. Ide kesetaraan gender (feminisme), nasionalisme, dan demokrasi terus didengungkan agar kapitalisme tetap mencengkeram seluruh umat Islam.


Introspeksi Diri

Jika kita introspeksi, baik secara pribadi, sebagai masyarakat, dan sebagai umat Rasulullah SAW. Mungkin, di antara kita banyak orang yang baik, tapi apakah masyarakat kita sudah baik? Kaum Muslim di seluruh dunia dalam kondisi terbaik?

Saat kita gembira merayakan hari raya, beberapa hari yang lalu, di sisi lain saudara-saudara kita di berbagai belahan dunia dalam kondisi menderita. Ada yang dijajah, disiksa, diboikot, hingga dicuci otaknya untuk meninggalkan Islam. Mereka tidak berdaya dan membutuhkan perlindungan dan keamanan dari pemimpin yang adil lagi saleh. Di negeri ini penuh dengan berbagai kesempitan hidup.

Mengapa ini bisa terjadi? Dan apa yang menjadi penyebabnya? Ini dikarenakan banyak umat Islam yang telah menyimpang dari aturan Allah SWT. Atau berpaling dari Al-Qur’an. Ingat firman Allah SWT yang artinya: “Siapa saja’ yang berpaling dari peringatan-Ku maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit dan kami akan mengumpulkan dia pada Hari Kiamat nanti dalam keadaan buta...” (QS Thaha: 124).

Menurut Imam Ibnu Katsir makna “berpaling dari peringatan-Ku” adalah: menyalahi perintah-Ku dan apa yang Aku turunkan kepada Rasul-Ku, melupakannya dan mengambil petunjuk dari selainnya (Tafsir Al-Qur’an al-'Azhim, V/323). Sedangkan penghidupan yang sempit, tidak lain adalah kehidupan yang semakin miskin, melarat, sengsara, menderita, terjajah, teraniaya, tertindas dan sebagainya, sebagaimana yang kita saksikan dan dirasakan sekarang di negeri Islam.

Oleh karena itu, setelah Ramadhan berlalu hendaklah menjadi momentum untuk membuktikan diri, bahwa kita adalah umat terbaik yang layak serta berhak disebut umat pilihan di hadapan Allah SWT. Yakni, umat yang siap melakukan perjuangan besar sehingga terwujud perubahan dunia.


Kehilangan Jati Diri

Seluruh penderitaan yang kita rasakan, seharusnya membangkitkan kesadaran bahwa kaum Muslimin seakan kehilangan gelar khairu ummah. Sebutan umat terbaik tak lagi disandang oleh umat Islam. Yang ada hanya keterpurukan, penyiksaan, penghinaan, hingga keterbelakangan.

Selain itu, hak-hak kaum Muslim pun dirampas paksa. Hidup mereka dibayang-bayangi rasa takut. Kekayaan mereka direnggut oleh sistem korup. Ulama-ulama yang lurus dikriminalisasi. Hingga masyarakat pun tidak lagi bebas berpendapat karena jerat undang-undang.

Semua itu telah menodai kesucian hari nan fitri. Kita tidak bisa menikmati kemenangan sejati. Secara individu mungkin mendapatkannya, tapi kemenangan sebagai umat terbaik di hadapan umat lain, belum. Justru saat ini kita hidup dalam sistem sekuler yang jauh dari Islam.


Memaksimalkan Dakwah Bil Haq

Masih ingatkah kita dengan tujuan berpuasa selama Ramadhan? Allah menyeru kepada seluruh orang yang beriman untuk menjalankan puasa. Tujuan terakhir berpuasa adalah untuk meningkatkan ketakwaan kita. Di hari yang masih fitri ini, seharusnya kita memperoleh ketakwaan yang berlipat ganda.
Ketika kita melihat, mendengar dan merasakan penderitaan umat Islam di seluruh dunia, masihkah kita diam-diam saja? Padahal, ketakwaan kita sudah bertambah. Idealnya, jika bertambah ketakwaan seseorang, bertambah pula kepekaan terhadap sekelilingnya. Apalagi dengan kondisi saudara di Palestina, Xinjiang, India, Myanmar, dan tempat lainnya. Tidakkah tergerak hati untuk menolong mereka?

Selain itu, sebagai panggilan keimanan, kita dituntut untuk taat secara total. Wajib mengambil Islam tanpa tebang pilih. Menolak pemikiran asing yang bertentangan dengan Islam. Membenarkan yang salah dan meluruskan pemahaman yang bengkok. Akan tetapi, hal itu tidak bisa kita lakukan kalau hanya berdiam diri.

Perumpamaan orang yang mengingkari kemungkaran dan orang yang terjerumus dalam kemungkaran adalah bagaikan suatu kaum yang berundi dalam sebuah kapal. Nantinya, ada sebagian berada di bagian atas dan sebagiannya lagi ada di bagian bawah kapal tersebut. Yang berada di bagian bawah kala ingin mengambil air, tentu ia harus melewati orang-orang di atasnya. Mereka berkata, 'Andai kata kita membuat lubang saja sehingga tidak menggangu orang yang berada di atas kita’. Seandainya yang berada di bagian atas membiarkan orang-orang bawah menuruti kehendaknya, niscaya semuanya akan binasa. Namun, jika orang bagian atas melarang orang bagian bawah berbuat demikian, niscaya mereka selamat dan selamat pula semua penumpang kapal itu.” (HR Bukhari No. 2493)

Sampai di sini, dapat dipahami jika kita hanya berdiam diri, maka kemungkaran, keterpurukan kaum muslim akan tetap ada. Oleh sebab itu, diperlukan upaya dan kemauan yang sungguh-sungguh untuk memperbaiki semuanya. Hanya dakwah amar makruf nahi munkar jalan satu-satunya kita maksimalkan dakwah bil haq, berjuang demi tegaknya Islam dalam naungan Khilafah Rasyidah.


Wujudkan Kehidupan Baru dan Kemenangan Hakiki

Jika kita melihat kondisi umat lebih dalam dan lebih luas. Ramadhan ke Ramadhan nampaknya tidak membawa perbaikan apapun bagi umat Islam. Umat tetap berkubang dalam dosa karena hidup tanpa aturan Islam.

Di negeri ini, bahkan sebagian dari mereka termasuk para penguasa sekular dan kroninya tak sungkan-sungkan memosisikan diri sebagai musuh Islam dan umatnya. Menuding ajaran Islam sebagai biang teror dan perpecahan. Lalu memfitnah para pendakwahnya dan orang-orang yang ingin hidup dengannya sebagai radikalis yang layak dikriminalisasi dengan memberlakukan undang-undang refresif anti Islam. Sementara di luar sana, betapa banyak umat Islam yang menjalani Ramadhan dan Idul Fitri dalam teror berkepanjangan. Terusir, terhina dan terjajah.

Alhasil, kaum Muslim, baik di negeri ini maupun di banyak belahan dunia lain, hingga kini masih saja dalam keadaan tersingkir. Terpinggirkan. Kalah di semua lini.
Keadaan ini tentu ironis dengan kenyataan, bahwa setiap tahun kaum Muslim merayakan Idul Fitri dengan sukacita. Sebab, sebagaimana dinyatakan oleh sebagian ulama, Idul Fitri adalah Hari kemenangan. Menang melawan hawa nafsu. Menang melawan setan. Menang melawan setiap kecenderungan dan perilaku menyimpang. Menang dalam menegakkan keadilan. Menang melawan setiap kezaliman. Bahkan menang melawan gembong kekufuran. Inilah yang kita saksikan dalam lintasan sejarah seperti Perang Badar, Fathi Makkah, dan lain sebagainya. Hari raya yang penuh dengan kemenangan semacam inilah yang sepantasnya dirayakan.

Oleh sebab itu, untuk mewujudkan kehidupan baru dan kemenangan hakiki, hendaklah kita berjuang untuk mengubah keadaan dunia yang sebelumnya jauh dari aturan Islam, berupa menuju keadaan yang tunduk dan patuh pada aturan Allah SWT. Inilah perubahan besar dunia menuju diterapkannya syariah Islam secara kaffah. 
Syariat Islam secara kaffah hanya bisa terwujud nyata dengan adanya institusi yang melaksanakannya, yakni khilafah. Momentum berakhirnya puasa Ramadhan, insya Allah telah melahirkan kembali jutaan umat Islam yang telah memiliki kadar keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT yang tinggi, besar, dan kuat. Dan ini menjadi modal bagi terbitnya fajar kemenangan Islam di muka bumi ini.

Umat harus bersatu, menyamakan persepsi dan tujuan pergerakan menuju arah yang ditetapkan Allah dan Rasul. Intelektual, penguasa, militer, ulama, umat, seluruh komponen membentuk simpul dukungan yang kuat terhadap penerapan hukum Allah SWT. Melanjutkan kehidupan Islam dengan aktivitas dakwah menyeru manusia kepada kemuliaan Islam, menyongsong kehidupan baru dan kemenangan hakiki hidup dalam naungan institusi Islam yang menyejahterakan. Ini harus jadi cita-cita bersama yang lahir dari ketakwaan setelah digembleng sebulan penuh pada bulan Ramadhan, sehingga terwujud nyata dalam amal perbuatan dan keyakinan penuh untuk menyambut kemenangan Islam dalam khilafah.

Sungguh, fajar kemenangan Islam sudah dekat. Saatnya kita bersama-sama menyambut janji Allah itu dengan bersama-sama  bahu membahu memperjuangkannya.
Syariat Islam merupakan jaminan bagi keamanan, kebaikan, dan kesejahteraan umat manusia. Bagi kita umat Islam, berupaya menegakkannya dalam kehidupan ini adalah syarat bagi kita agar berhak memenuhi kehidupan baru yang akan disebut sebagai pemenang dan menjadi orang yang patut berbahagia di hari raya nanti.

Semoga Allah SWT berkenan memberi umat ini kehidupan baru dan kemenangan yang sebenarnya dalam waktu yang tidak lama. Mengangkatnya dari kehinaan, menjadi kembali mulia. Amiin. Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Mariyam Sundari, S.Sos.I
(Pemerhati Perempuan dan Sosial)

Posting Komentar

0 Komentar