Prof. Fahmi Amhar: Jihad akan Memajukan Teknologi Militer Kaum Muslimin



TintaSiyasi.com--Pakar Riset Bidang Sistem Informasi Spasial dan Peminat Sejarah Militer Islam Prof. Dr-Ing. Fahmi Amhar mengatakan, jihad akan memajukan teknologi militer kaum Muslimin.

"Karena itu jihad tidak boleh berhenti. Jihadlah yang akan terus memajukan teknologi militer kaum Musliminmuslimin," ujarnya dalam Live Event-Focus Grup Discussion ke-13: Membangun Alutsista dan Pertahanan Negara di kanal Youtube Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa, Sabtu (1/5/2021).

Ia mengatakan, sejak awal kaum Muslim sangat terbuka dalam mempelajari teknologi militer. Ia mengungkapkan, di masa perang Ahzab, Rasulullah SAW menerima usulan untuk membuat parit dari Salman al-Farisi yang berasal dari Persia. Juga Rasulullah pernah mengirim sejumlah sahabat untuk berburu ilmu ke Cina untuk mempelajari cara membuat mesiu yang saat itu belum dikenal di luar Cina.

Prof. Fahmi, sapaan, akrabnya, menjelaskan beberapa kemajuan teknologi militer kaum Muslimin di masa lalu. Pertama, menurut laporan independen dari Perancis, pada tahun 1228 tentara Muslim sudah menggunakan bahan peledak yang dikemas dalam pot-pot tembikar, kemudian dilontarkan dengan ketapel raksasa, untuk mengalahkan tentara Salib pimpinan Ludwig IV. 

Kedua, ia memgungkapkan pada tahun 1260 tentara muslim Mesir telah menggunakan pistol untuk mengalahkan tentara Tartar di Ain Jalut, yang komposisi mesiunya terdiri dari 74 persen salpeter, 11 persen sulfur, dan 15 persen karbon. Selain itu Mereka juga sudah menggunakan pakaian tahan api untuk melindungi dari bubuk mesiu itu.

Ketiga, pada tahun 1270, Insinyur Kimia Hasan al-Rammah dari Suriah menuliskan dalam kitabnya al-Furusiyya wa al-Manasib al-Harbiyya (Buku tentang formasi perang dan peralatan perang) hampir 70 resep kimia bahan peledak (seperti kalium nitrat) dan teknik pembuatan roket. 

Prof Fahmi mengatakan, Hasan al-Rammah juga menemukan torpedo yang meluncur di air dengan sistem roket berbahan peledak canghih dilengkapi tiga lubang pengapian dan itu belum dikenal di Cina atau Eropa sampai abad-14 M.

Keempat, ia mengatakan, Ibnu Khaldun pernah menuliskan bahwa pada tahun 1274 penggunaan meriam telah dimulai oleh Abu Yaqub Yusuf dalam menaklukkan kota Sijilmasa (Maroko). Namun, lanjutnya, penggunaan "senjata super" yaitu meriam raksasa berdiameter 762 mm yang dapat melontarkan peluru batu ataupun mesiu hingga seberat 680 kg, pertama kali pada saat penaklukan Konstantinopel tahun 1453 oleh tentara Muhammad al-Fatih. 

Kelima, pada 1582, Fathullah Shirazy, seorang matematikawan dan ahli mekanik Persia-India yang bekerja untuk Dinasti Mughal menemukan senapan mesin yang dapat mengoperasikan meriam berikut membersihkan hingga 16 lubang mesiu secara otomatis.

Keenam, ia menjelaskan, teknologi militer di masa khilafah Islam juga mencakup hal-hal yang paling "sederhana" seperti ilmu metalurgi untuk menghasilkan pedang dan tombak yang lebih kuat, metode komunikasi militer untuk menyampaikan pesan-pesan rahasia secara cepat, hingga astronomi navigasi untuk memandu kapal-kapal perang ke tujuannya dengan akurat.

Prof. Fahmi juga mengungkapkan bahwa di berbagai era kekhilafah, peran para perekayasa militer terus meningkat. Korps perekayasa yang terdiri dari pandai besi (metalurgist), tukang kayu, ahli keramik, ahli kimia dan sebagainya dibentuk, dan mereka bekerja di bawah komando yang langsung bertanggung jawab kepada Amirul Jihad.

Ia melanjutkan, meski kehebatan persenjataan tentara Khilafah Utsmani masih di atas seluruh persenjataan Eropa bersama-sama, namun mereka pernah mengalami salah strategi ketika berusaha menaklukkan Wina Austria tanpa tetesan darah pada tahun 1683. 

Ia memaparkan, umat Islam perlu mengembangkan senjata militer di luar senjata konvensional (senjata tajam dan senjata api, baik matra darat, laut dan udara), yaitu senjata A, B, C, D, E. 

"Senjata A untuk senjata atom/nuklir. B untuk senjata biologi. C untuk senjata Chemical/kimia. D untuk senjata digital, yaitu yang menyerang sistem cyber lawan. E untuk senjata extra-terrestrial yang diterapkan di ruang angkasa (space)," jelasnya. 

Ia menegaskan, semua itu dalam rangka memenuhi perintah Al-Qur'an untuk mengembangkan segala upaya untuk menggetarkan musuh.

"Umat Islam terdahulu memahami perintah Qur'an untuk mengembangkan segala upaya, termasuk teknologi militer dan alutsista, untuk menggentarkan musuh-musuhnya," tandasnya.[] Nurwati

Posting Komentar

0 Komentar