Pendapat Nyeleneh Tumbuh Subur dalam Sistem Kapitalisme


Mengakses media sosial saat ini nampaknya menjadi kebutuhan sehari-hari masyarakat. Mulai dari kaum milenial sampai kakek-nenek bahkan anak-anak. Banyak hal positif yang bisa diambil dari media sosial. Namun  tak sedikit pula  hal negatif yang didapatkan jika salah mencerna informasi di media sosial. Seperti belakangan ini, warganet ramai membicarakan unggahan di media sosial yang membolehkan perempuan haid untuk berpuasa. Pendapat ini tentu memicu polemik di kalangan umat Islam. Sebab, syariat Islam tidak memperbolehkan wanita haid menjalankan ibadah puasa.

Detikcom (3-5-2021) melansir, unggahan seorang wanita boleh berpuasa saat haid viral di media sosial. Unggahan itu ditayangkan di akun Instagram @mubadalah.id. Akun tersebut mengunggah pernyataan seorang wanita boleh berpuasa dengan sumber tulisan Kiai im di situs mubadalah.id. dan tulisan di situs tersebut sudah dilihat 11,6 ribu kali.

Dikonfirmasi detikcom, Imam mengaku sudah menghapus unggahannya terkait seorang wanita boleh berpuasa saat haid di akun media sosial pribadinya. Hal itu dilakukan karena telah memicu kontroversi. "Saya sudah hapus di status FB saya, karena memicu kontroversi tidak sehat. Jadi saya hapus," ujar Imam melalui pesan singkat, Minggu (2/5/2021).

Unggahan kontroversial tersebut menyebutkan tidak ada satu pun ayat Al-Qur'an yang melarang perempuan haid berpuasa. Kemudian, disebutkan juga bahwa hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah Ra dan riwayat lainnya menyatakan bahwa Rasulullah hanya melarang shalat bagi perempuan haid dan tidak melarang puasa.

Memang benar dalam Al Qur'an tidak dinyatakan secara jelas larangan wanita haid boleh berpuasa. Namun sebagai seorang Muslim jangan mengambil mentah-mentah informasi yang ada di media sosial apalagi jika itu sudah menyangkut urusan agama. Harus merujuk pada guru yang  jelas keilmuannya. Bukan semata melihat gelar ustaz maupun kyai yang disematkan padanya. Sebagai seorang Muslim, kita harus berhati-hati jika hendak mengambil informasi di media sosial. Terlebih menyangkut ilmu agama, karena saat ini  banyak sekali hal-hal yang menyudutkan umat Muslim dan agama Islam di media sosial. 


Umat Islam Butuh Perisai

Pendapat nyeleneh terkait ajaran Islam tidak muncul kali ini saja. Kapitalisme-sekularisme telah menyebabkan umat Islam terombang-ambing dalam memahami ajaran agamanya. Padahal sudah jelas dalil tentang larangan wanita haid menjalankan ibadah puasa. Hadis dari Aisyah Ra memang menjadi salah satu rujukan soal perempuan yang haid dalam puasa. Hadis dari Aisyah itu disampaikan oleh Imam Muslim. Dalam hadis itu, diceritakan bahwa Aisyah isteri nabi berkata:

"Kami pernah kedatangan hal itu (haid), maka kami diperintahkan meng-qada puasa dan tidak diperintahkan meng-qada shalat." (HR Muslim).

Hadis lain yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Nabi Muhammad Saw dalam bentuk dialog, beliau bersabda:

"Bukankah wanita itu jika sedang haid, tidak salat dan tidak berpuasa?" Mereka menjawab, Ya." (HR Bukhari).

Dari dua hadis tersebut, dapat disimpulkan bahwa perempuan yang haid itu tidak bisa berpuasa. Namun mereka wajib mengganti di hari lain di luar bulan Ramadhan. Soal perempuan haid tak boleh puasa pun sudah jadi kesepakatan para ulama. Sehingga, setiap Muslim harus mematuhinya.

Islam, mengajarkan kita menjadikan hukum Allâh (syari’at Islam) sebagai standar perbuatan (miqyâs al-‘amal). Maka tak heran jika para ulama merumuskan kaidah syar’iyyah (berdasarkan nash-nash Al-Qur’an dan al-Sunnah).

الأَصْلُ فِي اْلأَفْعَالِ التَّقَيُّدُ بِحُكْمِ اللهِ

Hukum asal perbuatan manusia adalah terikat dengan hukum Allâh.”

Ringkasnya, pendapat nyeleneh terkait Islam tumbuh subur dalam kapitalisme-sekularisme. Dengan dalih kebebasan berpendapat, semua orang boleh berpendapat sekali pun tidak memiliki kapabilitas keilmuan terkait. Umat Islam membutuhkan perisai yakni dengan adanya khalifah yang shalih dan adil. Khalifah berkewajiban menjaga akidah umat agar tidak tercampur dengan pluralisme dan liberalisme. Khalifah adalah kepala negara dari sistem pemerintahan Islam (khilafah). Sebab kemuliaan Islam dan kaum Muslimin akan terwujud hanya dalam Khilafah Islamiyyah. Sudah saatnya kaum Muslimin hari ini bersatu padu memperjuangkan tegaknya Khilafah Islamiyyah agar hidup berkah dan terjaga dari pendapat-pendapat yang nyeleneh. Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Ade Ratna Puri
(Sahabat TintaSiyasi)

Posting Komentar

0 Komentar