Pandangan Nyeleneh “Haid Boleh Puasa”, di Mana Peran Negara Menjaga Syariat?


Dunia maya sedang dihebohkan dengan adanya unggahan di akun Instagram @mubadalah.id. Akun tersebut mengunggah pernyataan bahwa seorang wanita boleh berpuasa saat haid dengan sumber tulisan Kiai im di situs mubadalah.id dan unggahan itu menyebutkan tidak ada satu pun ayat Al-Qur'an yang melarang perempuan haid berpuasa. Namun ternyata unggahan tersebut banyak menuai kontroversi di jagat dunia maya. Munculnya pandangan “nyeleneh” ini menandakan bahwa abainya negara dalam melindungi syariat. Lalu, bagaimana seharusnya peran negara terhadap permasalahan ini? Yuk kita telurusi faktanya.

Dilansir dari detikNews (Senin, 3 Mei 2021), Imam mengaku sudah menghapus unggahannya terkait seorang wanita boleh berpuasa saat haid di akun media sosial pribadinya. Hal itu dilakukan karena telah memicu kontroversi. "Saya sudah hapus di status FB saya, karena memicu kontroversi tidak sehat. Jadi saya hapus," ujar Imam melalui pesan singkat, Minggu (2/5/2021).

Namun tulisan tersebut sudah terlanjur menyebar dan viral. Unggahan mengenai pernyataan perempuan boleh berpuasa saat haid itu masih ada di akun Instagram dan situs mubadalah.id. Imam menegaskan dirinya tak pernah mengirimkan tulisannya ke situs mana pun terkait dengan wanita haid boleh berpuasa. Menurutnya, tulisannya itu hanya diunggah di akun Facebooknya yang kini sudah dihapus. "Saya tidak pernah mengirim tulisan ke manapun, dan tidak memberi izin. Kan sudah saya hapus dari FB," katanya.

Apabila kita menelurusi faktanya dalam sistem demokrasi saat ini negara mendorong liberalisasi syariat dan menumbuh suburkan pandangan menyimpang yang bisa menyesatkan umat. Kehidupan yang liberal saat ini menjadikan interaksi manusia di dunia maya khususnya, berlangsung tanpa aturan. Semua orang bebas melakukan apapun, bebas beroponi tanpa melihat standar hukum syara, dan juga bebas membuat unggahan yang “nyeleneh” termasuk tentang wanita haid boleh berpuasa. 

Dalam Islam, interaksi di dunia maya sama dengan interaksi di dunia nyata yang keduanya harus terikat dengan hukum Allah SWT. Setiap postingan, tayangan, caption, klik, like, share, dan komentar akan dimintai pertanggung jawaban di yaumul akhir. Karena kesadaran selalu diawasi oleh Allah SWT setiap orang tidak akan bisa seenaknya beroponi dengan bebas di dunia maya dengan pandangan yang dapat menyesatkan umat. 

Dalam sistem pemerintahan Islam (Khilafah) memiliki lembaga i’lamiyah (penerangan) dan syurthah (polisi) yang berada di bawah kontrol Khalifah secara langsung. Keduanya melakukan pengawasan dan pemantauan berdasarkan standar hukum Islam untuk mendeteksi adanya pelanggaran syariat dalam pemanfaatan media infromasi. Khalifah akan membersihkan masyarakat dari pemikiran-pemikiran yang rusak dan merusak, juga pemikiran-pemikiran yang sesat dan menyesatkan, termasuk berbagai unggahan “nyeleneh” yang beredar di dunia maya. 

Demikianlah sistem Islam mencegah, mengawasi, dan memberi sanksi yang efektif, sehingga berbagai unggahan “nyeleneh” akan terhenti dari akarnya dan umat akan jauh dari pandangan menyimpang yang dapat menyesatkan pemikiran. Dan satu-satunya cara agar tidak muncul lagi unggahan-unggahan “nyeleneh” yang lain adalah dengan menerapkan Islam secara kaffah, sebagaimana firman Allah SWT yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (TQS. Al Baqarah: 208).[]


Oleh: Agustinae
(Sahabat TintaSiyasi)

Posting Komentar

0 Komentar