Negara tak Lindungi Syariat, Pandangan Nyeleneh makin Subur

Menjalankan ibadah puasa pada Ramadhan hukumnya adalah wajib bagi seluruh umat Islam. Puasa merupakan ibadah yang sangat istimewa dan ditujukan untuk meningkatkan ketakwaan. Tetapi, di balik kewajiban umat Islam menunaikan ibadah puasa Ramadhan, terdapat golongan orang yang diperbolehkan untuk tidak berpuasa. Salah satunya, yakni perempuan yang sedang haid.

Nabi Muhammad Saw pernah bersabda: “'Bukankah wanita itu jika sedang haid, tidak shalat dan tidak berpuasa?' Mereka menjawab, 'Ya'.” (HR Bukhari).

Kemudian hadis berikutnya diriwayatkan oleh Aisyah, “Kami pernah kedatangan hal itu (haid), maka kami diperintahkan meng-qada puasa dan tidak diperintahkan meng-qada salat.” (HR Muslim).

Kedua hadis ini menjadikan rujukan para ulama sejak masa tabiin yang kita tahu sebagai ijma ulama bahwa orang haid tidak boleh berpuasa, haram berpuasa, namun mereka wajib mengganti di hari lain di luar bulan Ramadhan. Hal itu dijelaskan juga di dalam kitab syarah muhadzab dari Imam Nawawai.

Namun, beberapa waktu yang lalu viral di jagat maya, khususnya Instagram ramai dengan perbincangan soal perempuan haid masih bisa berpuasa. Lembaga-lembaga agama Islam menolak dan mengecam alasan tersebut karena tak sesuai ketentuan.
Akun Instagram indonesiafeminis's mengunggah ulang pembahasan dari akun Instagram mubadalah.id soal 'alasan perempuan haid boleh berpuasa'. Dilihat detikcom pada Minggu (2/5/2021), unggahan itu menyebutkan tidak ada satu pun ayat Al-Qur'an yang melarang perempuan haid berpuasa.

Wakil Ketua MUI Anwar Abbas, buka suara, hadis dari Aisyah Ra memang menjadi salah satu rujukan soal perempuan yang haid dalam puasa. Hadis dari Aisyah itu disampaikan oleh Imam Muslim serta hadis lain yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Para ulama sudah sepakat bahwa wanita yang haid tidak sah puasa. Masalah puasa ini adalah masalah ta'abbudi (ibadah) bukan masalah ta'aqquli (rasional) jadi harus ada dasar syar'iyyan-nya. Dan di antara dasarnya adalah 2 hadis di atas," kata Anwar.
"Hukum dasar ibadah itu haram kecuali kalau ada dalil yang membolehkannya. Jadi kita tidak boleh pakai rasio dan atau logika dalam menghadapinya. Tapi harus dasarkan ibadah kita pada dalil-dalil yang ada dalam Al-Qur'an dan assunah," ujarnya.

Ketua PBNU, Masduki Baidlowi, pun sependapat dengan Anwar Abas. Menurutnya, larangan perempuan haid berpuasa telah ditetapkan dalam ijma ulama. Mengenai hukum berpuasa bagi wanita haid sudah menjadi ketetapan sejak dulu tapi mengapa sekarang muncul pandangan-pandangan menyimpang? 


Liberalisasi Syariat makin Tampak

Kaum Muslimin sejatinya hidup dengan aturan yang sudah Allah tetapkan dalam Al-Qur'an serta diutusnya Rasulullah sebagai pembawa risalah tersebut agar menyampaikan kepada seluruh umat manusia, melalui perkataan dan perbuatan beliau yang merupakan penjelas dari Ilisi Al-Qur'an, karena semua merupakan wahyu dari Allah SWT. Namun kehidupan kapitalisme sekuler yang mencengkeram kaum Muslimin saat ini,  meniscayakan kehidupan yang penuh kebebasan, bebas berpikir dan berperilaku sekehendaknya. Aturan agama dipilih dan dipilah, mana yang disukai itu yang diterapkan sedangkan aturan yang mengekang kebebasannya di campakkan, bila pun di ambil maka akan dikompromikan dengan kondisinya tak peduli jika itu merupakan perbuatan menyimpang. Dalil-dalil yang ada di tafsirkan sesuai keinginan mereka.

Begitulah para  pegiat liberalisasi Islam yang kini sudah tak segan-segan lagi untuk melecehkan prinsip-prinsip pokok dalam agama Islam. Bukan hanya pada masalah cabang-cabang fikih tapi juga pada area keimanan seseorang. Paham liberal menjadi tantangan tersendiri bagi umat untuk mempertahankan ajaran syariat agama Islam. Karena pegiat liberalisasi dalam pemikiran keagamaan di Indonesia kini sudah tak terbendung dan makin berani menampakkan identitas dirinya.

Jika selama ini kita menganggap pelecehan terhadap agama Islam hanya datang dari non Muslim. Padahal, tanpa disadari hal itu juga tengah masif dilakukan oleh umat Islam sendiri. Mereka dengan seenaknya menyebut Al-Qur'an sebagai hasil proses kebudayaan, menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an sesuai kepentingannya sendiri. Lalu, mengapa hal tersebut bisa terjadi di negeri yang dihuni mayoritas Muslim ini?


Negara Abai Menjaga Syariat

Meskipun mayoritas Muslim berdiam di negeri ini, namun prinsip-prinsip beragama serta aturan-aturan dalam Islam tidak dijalankan sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah. Bahkan masyarakatnya hanya mengenal Islam sebatas ibadah ritual semata, padahal Islam mencakup segala aspek dalam kehidupan, bukan hanya kehidupan dunia bahkan hingga akhirat. 

Penguasa dan para pemangku kebijakan mengelola negeri ini dengan sistem yang berseberangan dengan Islam, sistem yang menjauhkan agama dari kehidupan, sistem yang hanya menjaga kepentingan para pemilik modal besar. Jadi tak heran jika pengaturan negeri ini menjadi carut marut tak berkesudahan. Termasuk dalam menjaga syariat di tengah masyarakat, sehingga bermunculan pandangan-pandangan nyeleneh terkait ajaran Islam.

Fenomena ini merupakan akibat rapuhnya pilar ketakwaan individu sebab arus pemikiran sekuler liberalis yang tidak terbendung, abainya masyarakat dalam melakukan amar ma’ruf nahi mungkar karena sistem kapitalisme yang membentuk masyarakat saat ini, sudah tidak lagi memiliki pemikiran dan perasaan yang sama yaitu Islam, dan yang menjadi sebab paling utama adalah dukungan sistem kehidupan kapitalisme yang membuat negara tidak menjadikan penjagaan syariat itu sesuatu yang penting dilakukan. Sehingga liberalisasi syariat tumbuh subur yang berpotensi menyesatkan umat. Maka bagaimana agar syariat itu bisa terjaga sehingga pandangan menyimpang bahkan ide menyimpang tidak muncul di benak kaum Muslimin sendiri?


Syariat Terjaga dalam Sistem Islam

Islam pernah memimpin 2/3 dunia dengan kejayaannya, peradabannya maju, umatnya sejahtera. Semua karena Al-Qur'an bukan hanya di lisan dan di hati, tapi betul-betul hadir dalam praktek kehidupan. Syariat dijalankan tidak hanya pada level individu dan masyarakat tapi sampai pada tataran negara. Pemerintahan dikelola menggunakan aturan Islam. Ekonomi, kesehatan, pergaulan, keamanan, kesehatan bahkan politik semua diatur dalam bingkai Daulah Islamiyah (baca: khilafah).

Khilafah sebagai sistem kehidupan yang berperan utama dalam riayah syuunil ummah, memiliki tanggung jawab dalam mengatur seluruh urusan umat, termasuk menjamin tidak ada pandangan menyesatkan bisa berkembang dan disebarkan karena salah satu fungsi negara adalah muhafazah ala ad diin.

Khilafah, peranannya sebagai “junnah” atau perisai, bertanggungjawab melakukan berbagai penjagaan, salah satunya adalah menjaga syariat Islam senantiasa diterapkan dalam masyarakat sehingga tidak ada muncul pandangan nyeleneh. Syariat islam tujuannya adalah menjadikan hidup umat manusia diliputi kebaikan tak sekadar di dunia melainkan juga di akhirat, berdasar Al-Qur'an dan As-sunnah. Bagaimana negara menjaga syariat?

Pertama, menjaga akidah dengan senantiasa melakukan pembinaan kepada umat, terus menerus belajar tsaqafah Islam dan hukum-hukumnya. Memastikan pemahaman dan pemikiran umat bersih dari pengaruh-pengaruh pemikiran lain selain Islam sehingga yang ada hanya samii' na wa atha'na, apa yang Allah perintahkan itu yang dijalankan. 

Kedua, ketika setiap individu memiliki keimanan yang kokoh maka akan lahir masyarakat yang saling mengingatkan darusalam lain sehingga umat terjaga dan tidak mudah terkecoh dengan orang-orang yang seolah paham suatu ilmu tapi ternyata menjerumuskan ke dalam lubang kesesatan.

Ketiga, tentunya negara tidak mengijinkan paham di luar Islam berkembang di tengah umat dengan mengeluarkan aturan dan sanksi bagi siapa saja yang ingin  memalingkan umat dari Islam yang lurus. Dan juga negara memfasilitasi ruang diskusi terkait hal-hal berkaitan dengan hukum-hukum Islam yang mungkin belum dipahami oleh umat.

Demikianlah daulah menjaga syariat Islam, bertanggung jawab atas pelaksanaannya bukan semata tanggung jawab individu, begitu juga dengan masyarakat yang akan senantiasa melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Dan terlebih lagi butuh peran negara, yang  memastikan penerapan syariat dijalankan sebaik-baiknya sehingga mampu menjaga pemikiran-pemikiran umat dari ide-ide menyimpang. Wallahu a’lam bishshawab. []


Oleh: Ema Darmawaty
(Aktivis Muslimah Semarang)

Posting Komentar

0 Komentar