Mudik Dilarang, Pasar Banjir Pengunjung


Menteri Keuangan, Sri Mulyani, mempunyai cara jitu dalam mendongkrak perekonomian Indonesia yang lagi lesu karena pandemi. Eks Direktur Pelaksana Bank Dunia itu minta rakyat tetap membeli baju Lebaran meski dilarang untuk mudik (Warta Ekonomi, 24/4/2021).

Himbauan dari Menteri Keuangan ini seolah diiyakan oleh masyarakat. Terbukti dengan banjirnya pengunjung di pusat-pusat perbelanjaan. Di Pasar Tanah Abang misalnya, pada minggu (2/5/2021) pengunjung Pasar Tanah Abang diprediksi mencapai 100 ribu orang (Liputan6, 3/5/2021).

Ketua Koperasi Pedagang Pasar Tanah Abang, Yasril Umar, mengatakan membeludaknya pengunjung di Pasar Tanah Abang karena dipicu beberapa hal, salah satunya aturan kebijakan larangan mudik oleh Pemerintah (CNBC Indonesia, 2/5/2021).

Melihat fakta yang ada, pemerintah seolah tidak serius dalam menerapkan kebijakan pencegahan penularan Covid-19. Terbukti dengan adanya larangan mudik, tapi di saat yang sama pemerintah sendiri yang mendorong masyarakat untuk berbelanja dengan alasan perbaikan ekonomi. Padahal seperti di ketahui sangat sulit untuk mengindari terjadinya kerumunan di pusat perbelanjaan. Saat terjadi kerumunan maka potensi menyebarnya virus akan sangat tinggi. Untuk itu tidak cukup dengan hanya mengembalikan hal ini pada kesadaran individu semata. Harus ada kebijakan yang tegas dari pemerintah tanpa terkungkung kepentingan yang lain. 

Tapi sayang, saat ini Indonesia menerapkan sistem kapitalis yang menempatkan kepentingan ekonomi di atas segalanya. Sehingga dalam membuat kebijakan penanganan pandemi akan menghasikan kebijakan yang paradoks dan kontradiktif. 

Selain itu, penanganan Covid-19 yang dilakukan pemerintah sejak awal tidak menyentuh akar pesoalan sama sekali. Misalnya saja kebijakan lockdown di wilayah pertama kali muncul wabah tidak dilakukan. Kurangnya upaya memisahkan antara masyarakat yang sehat dan yang sakit. 

Berbeda dengan sistem Islam yang menerapkan aturan Islam kaffah secara sempurna baik dalam masalah kesehatan, pendidikan, ekonomi, sanksi dan lain-lain.  Maka saat terjadi wabah seperti pada kepemimpinan Umar bin Khattab, beliau menjadikan Islam sebagai rujukan untuk menghentikan wabah. Umar menerapkan sabda Rasulullah Saw, “Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah itu terjadi ditempat kalian tinggal janganlah kalian meninggalkan tempat itu.” (HR Al-Bukhari).

Hadis tersebut merupakan penjelasan tentang kebijakan lockdown. Selain itu, Khalifah Umar juga memerintahkan agar memisahkan interaksi antara yang sakit dengan yang sehat. 

Keberhasilan dalam penanganan pandemi tidak hanya karena kebijakan negara tetapi juga adanya peran umat. Umat yang mempunyai pemahaman, standarisasi dan keyakinan yang sama dengan negara maka akan membuatnya mudah diatur. Bahkan saat kondisi negara kesulitan, maka umat akan dengan suka rela mendukung, menjaga dan membantu negara.

Bayangkan jika negara yang selama ini memusuhi umat, berbeda pemahaman, standarisasi dan keyakinannya. Maka akan sangat sulit negara untuk dijaga dan didukung oleh umat. Apalagi jika negara terus menerus melakukan tindakan diskriminatif terhadap rakyatnya. inilah pentingnya membangun negara dengan kekuatan umat. Dibangun dengan keyakinan dan pandangan yang sama yang dimiliki oleh umat. 

Dalam kondisi krisis umat tetap berdiri menjadi penjaga dan menjadi penopang utama kekuasaan negara. Karena selama ini negara mengurus urusan mereka. Memberikan apa yang menjadi haknya yakni sandang, pangan, pendidikan, keamanan dan kesehatan dengan sempurna. Pengurusan ini mutlak, sebab Allah telah menempatkan penguasa sebagai raa’in atau pengurus urusan rakyat sebagaimana sabda Rasulullah Saw, “Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR Al-Bukhari).

Krisis dan pandemi sudah terjadi dalam sejarah kehidupan umat manusia. Termasuk dalam era kejayaan Islam. Tapi semua berhasil dilalui karena negara dan umat bergandengan tangan. Inilah rahasia mengapa khilafah bisa bertahan hingga 14 abad. Semua karena dukungan umat dengan penerapan Islam secara kaffah. []


Oleh: Mia Purnama, S.Kom
(Sahabat TintaSiyasi)

Posting Komentar

0 Komentar