Mengupas Tuntas Pendapat Nyeleneh

Puasa adalah ibadah yang istimewa. Untuk menjalankan puasa butuh tuntunan dan syarat melaksanakan ibadah. Tidak sekedar asal-asalan melakukannya, bahkan tidak diperbolehkan menimbang-nimbang sesuai hawa nafsu sendiri. Karena amalan ini hanya Allah SWT sajalah yang akan memberikan tabungan pahalanya.

Belum lama di jagat Maya beredar unggahan Imam Nakhai yang menyebutkan bahwa perempuan haid  boleh berpuasa. Sebab, di dalam Al-Qur'an dan hadis tidak ada larangan untuk menjalankan rukun Islam tersebut. Ia membolehkan perempuan haid berpuasa didasarkan pada tiga alasan (Suaranya.com, 01/05/2021).

Nakhai mengungkapkan tiga alasan kebolehan perempuan haid berpuasa: Pertama, dalam Al-Qur’an tidak ada satu ayat pun yang melarang perempuan haid untuk puasa. Ayat tentang haid hanya menegaskan tentang larangan jimak dan bahwa perempuan haid berada dalam keadaan tidak suci yang menghalangi ibadah yang mensyaratkan suci. Seperti shalat. Sementara, puasa tidak disyaratkan suci, yang penting “mampu” melakukannya.
Kedua, perempuan yang haid lebih mirip disebut sebagai orang sakit yang diberi dispensasi (rukhshah) antara menjalankan puasa atau meninggalkannya dengan mengganti di hari yang lain. Maka, perempuan haid seharusnya juga mendapat “rukhshah”, antara melakukan puasa dan tidak. Jika Perempuan memilih melakukannya karena haidnya tidak menggangu kesehatannya, maka boleh termasuk di dalamnya.
Ketiga, hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Aisyah ra. yang menyatakan bahwa Rasulullah Saw hanya melarang shalat bagi perempuan haid dan tidak melarang puasa. Sebab, makna qadha yang dimaksud hadis adalah “mengganti di luar waktunya”. Namun, sesungguhnya sangat mungkin bermakna “melaksanakan di dalam waktunya.” (Mubadalah.id, 26/04/2021).


Pendapat Nyeleneh tidak Wajib Diikuti

Wakil Ketua MUI Anwar Abbas memberikan tanggapan. Ia pun menjelaskan tentang hadis riwayat Aisyah ra. yang disimpulkan bahwa memang kewajiban puasa Ramadhan tidak terhapus bagi perempuan haid. Hanya saja, saat haid, perempuan tidak boleh berpuasa, sehingga wajib menggantinya di hari yang lain (qadha).

Bagi mayoritas kaum Muslim pemikiran -yang membolehkan perempuan haid berpuasa- sangat menggangu. Sebab ini adalah pemikiran nyeleneh yang lahir dari kebebasan berpikir, tanpa menggali dalil-dalil lebih dalam, secara dangkal langsung menghukumi sebuah perbuatan.

Dua tahun silam, juga pernah dilontarkan oleh, Yulianti Muthmainnah. Setahun yang lalu pula sebagai Ketua Pusat Studi Islam, Perempuan dan Pembangunan Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan (ITB-AD) Jakarta, menyatakan hal yang sama, bahwa perempuan haid tidak dilarang berpuasa. Dalam pemahamannya, haid bukanlah darah kotor tetapi sebagai darah sakit. Karena itu ketika perempuan sedang haid, artinya dia sedang sakit (ibTimes.id, 04/05/2020).

Selanjutnya pemikiran semacam ini juga pernah menjangkiti seorang ulama salah satu pesantren di Jawa Timur. Saat itu ia tertangkap mengonsumsi narkoba bersama beberapa anak didiknya. Ketika diusut, ternyata si guru tadi mengajarkan doktrin yang menyimpang. Menurutnya narkoba tidak ada dalam Al-Qur’an dan hadis, pun tak ada kalimat larangannya. Jadi, ia menyimpulkan narkoba adalah halal (kabarmadura.com, 23/01/2020).


Merindukan Sosok Teladan

Akidah dan ibadah bukanlah permainan. Meski kedua hal ini termasuk ranah individu, negara tetap bertanggung jawab menjaga kemurniannya. Sebagaimana dilakukan Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq Ra. saat kemunculan Musailamah yang mengaku sebagai nabi baru dan kaum Muslimin di beberapa wilayah yang tak lagi mau membayar zakat. Sang Khalifah pun memberikan ketegasan atas kedua urusan itu.

Meskipun ada beberapa sahabat yang tidak sependapat dengan Abu Bakar, beliau tetap teguh pendirian. Abu Bakar berpendapat, membayar zakat adalah kewajiban. Jika kewajiban tidak dijalankan bagaimana pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT? Inilah bentuk ketegasan sang Khalifah dalam menjaga kemurnian akidah dan ibadah umatnya.

Bisa dibayangkan jika saat itu Khalifah Abu Bakar diam? Mungkin saat ini kita tidak lagi mengenal zakat karena sudah ditinggalkan setelah Rasulullah Saw. wafat. Bahaya bukan?

Begitu pula dengan masalah yang muncul saat ini. Banyaknya pemikiran nyeleneh membuktikan negara abai dalam melindungi akidah dan ibadah umat. Oleh karena itu, jika ingin kemurnian Islam terjaga, butuh pemimpin yang kuat dan taat syariat. Bagaimana mau menjaga kemurnian agama jika pemimpinnya saja tidak taat syariat?

Ajaran Islam akan tetap murni selama penjaganya menerapkan Islam secara menyeluruh. Ketika Islam tidak berada di bawah penjagaan sistem yang benar, ajarannya akan terus terdistorsi oleh aturan yang menguasainya.


Hukum Terkait Ibadah bersifat Tawqifi

Para ulama telah mengklasifikasikan puasa sebagai bagian dari ibadah mahdhah, dan hukum terkait dengan puasa ini -sebagaimana ibadah mahdhah lainnya-  bersifat Tawqifiyyah (otoritas penuh) yang menjadi hak Allah SWT. Karena itu, aturan mainnya harus datang dari Allah Zat Yang Maha Pencipta, bukan dari yang lain. Terkait ibadah mahdhah (di antaranya adalah tentang puasa ini) sama sekali tidak ada campur tangan manusia, melainkan seluruhnya sesuai dengan ketentuan yang Allah berikan, tidak boleh ditambah ataupun dikurangi.

Dalam kitab Asyakhshiyyah al-Islamiyyah juz 3 karya Syekh Taqiyuddin An-nabahani ini, demikian halnya dalam kitab Tafsir al-Wushul Ilal Ushul karya Syekh 'Atha' bin Khalil dijelaskan bahwa suatu keterangan yang bisa dijadikan sebagai dalil harus ditetapkan bahwa asalnya dari Allah SWT, yaitu dibawa oleh wahyu. Keterangan yang memenuhi kriteria ini hanya ada empat, yaitu Al-Qur’an, Hadis, Ijmak Sahabat dan Qiyas.

Dari penjelasan ini, dapat kita pahami bahwa yang dijadikan dalil atau rujukan hukum syariat bukan hanya Al-Qur’an, tetapi ada Hadis, Ijmak Sahabat, dan Qiyas. Ketika ada yang mengatakan bahwa berpuasanya perempuan haid tidak ada dalam Al-Qur’an, lantas mengatakan bahwa Islam tidak mengaturnya dan berkesimpulan boleh, ini jelas keliru. Mengapa? Karena terkait haramnya perempuan haid berpuasa sekalipun tidak dijelaskan secara terperinci dalam Al-Qur’an, akan tetapi dijelaskan secara terperinci di dalam hadis dan ijmak sahabat.

Dalam hal ini, hadis berfungsi sebagai penjelas apa yang ada di dalam Al-Qur’an. Contoh yang sangat jelas adalah di dalam Al-Qur’an ada perintah wajibnya mendirikan shalat; tetapi tentang tata cara shalat dan jumlah rakaat tiap shalat fardhu, tidak diatur dalam Al-Qur’an tetapi ada dalam hadis.

Jika mereka konsisten, seharusnya mereka memperlakukan hal yang sama terhadap masalah shalat. Namun mereka tidak melakukannya. Berarti tidak konsisten. 
Yang benar, hadis adalah sama-sama merupakan wahyu dari Allah dan memiliki beberapa fungsi terhadap Al-Qur’an, di antaranya adalah menjelaskan atau memerinci apa yang ada di dalam Al-Qur’an, bahkan menambah hukum baru yang tidak dijelaskan oleh Al-Qur’an.

Dalam hal ini, kewajiban berpuasa dijelaskan di dalam Al-Qur’an, sebagaimana yang tercantum dalam QS Al-Baqarah: 183. Sedangkan tata caranya secara terperinci dijelaskan di dalam hadis Rasulullah, termasuk siapa yang wajib berpuasa. Demikian halnya siapa yang haram berpuasa, apa yang membatalkan puasa, dan sebagainya.

Ulama sepakat bahwa puasa wajib maupun sunah haram dilakukan perempuan haid. Bila dia tetap berpuasa, puasanya tidaklah sah (Maratibul Ijmak, hal. 72).

Ibnu Qudamah berkata, “Ahlul Ilmi sepakat bahwa perempuan haid dan nifas tidak halal untuk berpuasa, bahkan keduanya harus berbuka di bulan Ramadhan dan meng-qadha-nya. Bila keduanya tetap berpuasa, puasa tersebut tidak mencukupi keduanya (tidak sah)...” (Al-Mughni, kitab Ash-Shiyam, Mas'alah wa Idza Hadhatil Mar'ah AU Nafisat).


Dalil Pengharaman Puasa bagi Perempuan Haid Tidak Hanya Hadis dari Aisyah

Jika kita telusuri lebih lanjut, sesungguhnya dalil pengharaman perempuan haid berpuasa tidak hanya hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah saja. Masih ada hadis-hadis lain yang berstatus bisa dijadikan hujah (argumentasi) untuk menjadi dalil permasalahan ini.

Tidak pernah aku melihat yang kurang akal dan agamanya, tetapi mampu menghilangkan keteguhan lelaki yang teguh, melebihi kalian wahai para perempuan”. Maka, para perempuan bertanya kepada nabi, “Apa maksudnya kami kurang akal dan kurang agamanya wahai Rasulullah?” Nabi menjawab, “bukanlah persaksian perempuan itu semisal dengan persaksian setengah lelaki?” Mereka menjawab, “Ya benar.” Nabi melanjutkan, “itulah kurangnya akal. Dan bukanlah perempuan jika haid ia tidak shalat dan tidak puasa?” (HR Bukhari no. 1462, Muslim no. 80).

Bukankah jika perempuan itu haid ia tidak shalat dan tidak puasa?” Mereka menjawab, “Betul.” Beliau bersabda, “Demikianlah bentuk  kekurangan agama mereka.” (HR Bukhari).

Selain hadis Rasul, ada juga ijmak sahabat yang bisa dijadikan dalil tentang haramnya perempuan haid berpuasa saat Ramadhan dan wajib untuk meng-qadha-nya pada bulan-bulan lainnya selain Ramadhan. Al-Imam An-Nawawi telah menukilkan dalam Al-Majmu' (6/259) maupun dalam Al-Minhaj (3/250) adanya ijmak (kesepakatan ulama) bahwa perempuan haid harus meng-qadha puasa yang ditinggalkannya.

Al-Imam Abu al-Ma'ali Abdul Malik Ibn Abdillah Ibn Yusuf al-Juwaini, “Umat (ulama) telah beriman bahwa yang wajib dilakukan itu adalah puasa yang sah dilakukan. Kemudian mereka sepakat tidak sah puasa perempuan haid. Karena bagaimana bisa sah, sedangkan telah ada Ijmak perempuan haid dianggap bermaksiat kepada Allah apabila mereka menahan diri dari yang membatalkan sembari tetap berniat berpuasa.” (Al-Juwaini, al-Talkhish Fi Ushul al-Fiqh).


Khatimah

Demikianlah, sesungguhnya Islam telah menjelaskan secara terperinci bahwa haram hukumnya seorang perempuan haid berpuasa. Hal ini didasarkan hadis-hadis sahih dan Ijmak sahabat.

Jadi, tidak benar pendapat yang mengatakan bahwa perempuan haid boleh berpuasa saat Ramadhan. Yang harus dilakukan seorang Muslim adalah sami'na wa atha'na terhadap apa yang telah ditetapkan Allah SWT., serta berhati-hati terhadap orang-orang yang hendak memalingkan kita dari pemahaman Islam yang benar.

Kewajiban kita saat ini adalah belajar tsaqofah Islam dan hukum-hukum Islam, sehingga kita faham Islam dengan benar dan tidak mudah terkecoh oleh orang-orang yang tampaknya “membela Islam”, tapi sesungguhnya hendak menjauhkan umat dari pemahaman Islam yang lurus. Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Mariyam Sundari S.Sos.I
(Pemerhati Perempuan dan Sosial)

Posting Komentar

0 Komentar