Mengapa Jubir Lurah Tidak Berkata Jujur?


TintaSiyasi.com-- "Iya, benar Pak Lurah memang mengatakan seperti itu dan maksudnya ya memang begitu. Hal itu dilakukan dalam rangka moderasi beragama."

Mengapa jubir lurah tidak berkata seperti di atas saja? Jujur dan lugas. Tak ada kesan menutupi maksud dan tujuan, agar sesuai dengan maksud dan tujuan klarifikasi: memberikan kejelasan dan menghilangkan ambiguitas. 

Namun bila sang jubir sejujur begitu, mestilah penolakan dari kaum Muslim semakin keras. Jadi terpaksa berkelit dengan berbagai cara. 

Karena seawam-awamnya orang Islam, sadar betul babi itu haram, maka menolak keras ketika Pak Lurah menganjurkan membeli babi daring sebagai oleh-oleh pengganti mudik Lebaran.

Kesadaran kaum Muslim mesti ditingkatkan. Upaya moderasi beragama yang dilakukan Pak Lurah dan perangkatnya bukan hanya terkait babi. Masih ingat, berita Pak Lurah makan sop kelelawar? Meskipun sama-sama haram, tak semua Muslim sadar bahwa kelelawar haram. 

Pak Lurah juga pernah bikin peraturan lurah yang membolehkan asing membuka pabrik minuman keras. Untung saja, kaum Muslim sadar miras itu haram, maka ramai-ramai menolaknya. Sehingga dicabut kembali. 

Itu sejatinya upaya moderasi beragama yang dilakukan Pak Lurah untuk membuat kaum Muslim semakin melanggar keharaman dan menjadikannya sebagai sesuatu yang lazim, sesuai dengan maunya kafir penjajah. 

Itu baru dalam bidang makanan dan minuman. Pola yang sama diberlakukan pula dalam ajaran Islam di bidang lainnya. Termasuk dalam pendidikan, pergaulan, pemerintahan dan seterusnya.

Kasus terbaru, dalam seleksi tes alih status pegawai pemberantas koruptor menjadi aparat kelurahan. Pertanyaannya sangat moderat sekali. Meminta Muslimah berkerudung untuk melepas kerudungnya. Ketika tidak mau melepas, disebut egois. 

Kenapa dikatakan egois? Karena si Muslimah ini tetap berpikir, bersikap dan berprilaku sesuai ajaran Islam terkait menutup aurat atas (kepala).

Bila kaum Muslim sudah berpikir, bersikap dan berprilaku seperti maunya kafir penjajah, maka disebutlah sebagai Muslim moderat. Muslim yang toleran (padahal sejatinya kebablasan karena melanggar keharaman).

Bila umat Islam tetap berpegang teguh pada akidah dan syariat Islam dalam hal-hal yang bertentangan dengan kepentingan kafir penjajah, maka akan dikatakan egois, intoleran, radikal, anti ini anti itu.

Jadi, jangan bangga bila kafir penjajah, Pak Lurah dan perangkatnya mengatakan bahwa kita ini moderat serta tak perlu berkecil hati bila mereka mengatakan kita ini intoleran.

Sejatinya mereka begitu karena sangat bernafsu membuat kaum Muslim seperti yang kafir penjajah mau. Terkait ini, Allah SWT mewanti-wanti kaum Muslimin dalam Al-Qur'an surah al-Baqarah [2] ayat 120, yang artinya:

"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: 'Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)'. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu."   

Itulah pedoman kaum Muslimin. Harga mati yang tidak bisa ditawar lagi. Namun Rasulullah SAW bersabda dalam salah satu hadits shahih yang diriwayatkan Imam Muslim, yang artinya: 

“Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga sekiranya mereka masuk ke dalam lubang biawak sekalipun kalian pasti akan mengikuti mereka.” Kami bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu kaum Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab: “Siapa lagi kalau bukan mereka?” 

Itulah yang terjadi sekarang, yang menimpa Pak Lurah dan perangkatnya sehingga bukannya menegakkan syariat Islam secara total,  mereka malah jualan moderasi beragama untuk memberangus dakwah Islam kafah. 


Depok, 27 Ramadhan 1442 H | 9 Mei 2021 M

Joko Prasetyo
Jurnalis

Posting Komentar

0 Komentar