Mazhar Khan Ingatkan Tujuan Puasa Ramadhan adalah Takwa Totalitas



TintaSiyasi.com-- Aktivis Muslim Inggris Mazhar Khan mengingatkan, tujuan puasa Ramadhan adalah ketakwaan totalitas. "Tujuan puasa Ramadhan adalah mewujudkan takwa bagi pelakunya. Jadi, takwa tidak hanya berhubungan dengan ibadah, tapi, totalitas seluruh interaksi," tuturnya dalam The Qur’an: A Cure for Humanity di kanal YouTube Hizb Britain, Senin (03/05/2021). 

Menurutnya, takwa adalah persoalan yang sangat fundamental bagi seoarang muslim. "Takwa sesungguhnya adalah persoalan hubungan antara perbuatan manusia dengan keyakinannya terhadap Allah SWT. Perbuatanmu dan imanmu. Takwa adalah sesuatu yang fundamental bagi seorang Muslim," ujarnya. 

"Mana yang halal dan haram dalam segala hal juga diterangkan dalam Islam sebagai wujud takwa. Jadi, takwa tidak hanya berhubungan dengan ibadah, tapi seluruh interaksi dengan keluarga, bagaimana interaksimu dengan lingkungan kerja, masyarakat, pemerintahan, serta hubungan kemasyarakatan dengan standar halal dan haram," jelasnya. 

Ia mengambil contoh fakta saat bulan Ramadhan, ketika umat Islam mayoritas memahaminya sebagai bulan untuk berpuasa dan bukan untuk kewajiban lainnya. Sehingga terjadi pendapat yang menganggap seseoarang aneh jika bicara politik di saat Ramadhan karena berdalih tidak tepat. 

Pemahaman menyikapi bulan Ramadhan sebagai bulan meningkatkan spiritual dan takwa, tetapi kata Mazhar tidak dengan penjelasan yang benar. Hal tersebut menimbulkan ketidaknyaman bagi umat saat Ramadhan untuk membahas politik karena meyoritas membahas ibadah saja seperti shalat dan bukan yang lainnya. 

Ia menyatakan sepakat, urusan ibadah memang harus diperhatikan sesuai tuntunan Nabi Muhammad SAW. "Tetapi, tidak cukup sampai di sana saja. Tidak boleh hanya konsentrasi terhadap individu semata. Harus memberikan perhatian dan konsen terhadap kondisi umat di seluruh dunia," jelasnya. 

Ia mencontohkan seperti Pakistan yang merupakan negeri Muslim, dipimpin seoarng Muslim, tetapi dengan hukum kufur, sehingga penguasanya justru membunuh rakyatnya sendiri. Dari situ, ia mengatakan, perintah Rasulullah SAW yang menjadi kewajiban umat untuk mengimplementasikan Islam di seluruh dunia khususnya negeri-negeri Muslim. 

Ia mengingatkan, kilas balik masa lalu sekitar 600 atau 700 tahun yang lalu. Ia menyatakan, andai para sahabat hidup hari ini, pasti keheranan melihat kebiasaan umat di bulan Ramadhan. Sebab jelasnya, bulan Ramadhan dimaknai para sahabat dan orang-orang terdahulu selain untuk berpuasa, juga sebagai bulan yang diberkati, bulan kekuatan, bulan pengharapan terbaik, dan bulan untuk melakukan semua perbuatan baik.

Sehingga, ia mengatakan, para sahabat tidak selalu berdiam diri di mihrab-mihrab atau masjid, tetpai juga melaksanakan jihad, meski dalam kondisi berpuasa. Ia mengatakan justru yang aneh adalah jika memaknai Ramadhan hanya untuk ibadah spiritual. "Padahal peperangan-peperangan hebat itu terjadi di bulan Ramadhan. Sebab kekuatan, harapan, dan kesabaran menjadi berlipat ganda dimiliki umat di bulan Ramadan," bebernya.

Sesungguhnya, pelaksaan puasa pada bulan Ramadhan bukanlah semata-mata untuk menahan lapar kata Mazhar. Melainkan, sebagai latihan untuk membuktikan ketaatan kepada Allah dan jalan menuju takwa.

"Penjelasannya begini terkait memahami taat perintah Allah dengan puasa. Allah SWT melarang sesuatu yang sebenarnya halal kita lakukan. Namun, menjadi haram di bulan Ramadhan, yaitu makan dan minum di siang hari," bebernya. 

"Nah, dengan larangan tersebut selama 30 hari apakah kita tidak mau berpikir, kenapa kita mau meninggalkan makan dan minum padahal halal tidak haram? Jadi, persoalannya bukan pada makan dan minumnya, tetapi lebih kepada bukti ketundukan kepada perintah dan larangan Allah SWT,” paparnya lagi.

Ia menjelaskan, dari pelaksaan puasa, seharusnya menjadi perhatian umat Islam untuk memahami sesuatu yang dibolehkan dan tidak. "Jadi jelas, takwa bukan spesifik hanya untuk ibadah, tetapi untuk seluruh perbuatan yang kita lakukan," tegasnya.

Pemahaman yang tidak jelas tentang takwa dan Ramadhan, ia sebutkan karena efek dari dari pemikiran umat hari ini secara umum di tengah-tengah masyarakat yang memahami agama secara sekuler dan individualis.

“Sudah pasti, inilah efek dari pemikiran kita hari ini, efek pemikiran secara umum di tengah-tengah masyarakat kita yang memahami agama secara sekuler, dan indivdualis. Inilah efek dari penyakit tersebut," bebernya.

Menurutnya, orang-orang Quraisy yang beragama Yahudi, Nasrani atau para penyembah berhala, ketika mereka disampaikan terkait Islam, mereka tidak dapat menerima Islam sebagai pengatur segala aspel kehidupan. "Mereka tahu bahwa Islam datang untuk semua lapisan masyarakat, semua aspek kehidupan akan diatur oleh Islam. Inilah perkara yang tidak dapat diterima oleh mereka saat itu,” pungkasnya.[] M. Siregar

Posting Komentar

0 Komentar