'Kekalahan' di Hari Kemenangan, Mengapa?

Kesedihan mendalam tidak hanya saat perpisahan dengan bulan Ramadhan nan mulia ini. Air mata berderai, hingga menyambut hari kemenangan air mata itu tak beranjak dari hati dan pipi kaum Muslimin. Kesedihan menyaksikan bagaimana di bulan mulia ini kaum Muslimin lagi dan lagi mendapat perlakuan buruk. Ketenangannya untuk beribadah kepada Rabbnya diusik oleh sekelompok umat, baik persoalan menistakan Islam dari mulut kaum pembenci sampai kepada penyerangan kaum Muslimin di Palestina terhadap zionis Israel laknatullah alaih.

Ribuan warga Palestina diserang di masjid al-Aqsha oleh ratusan polisi Israel dalam perlengkapan anti huru hara. Dari kasus itu, sedikitnya 205 warga Palestina dan 17 petugas terluka (kabar24.bisnis.com, 09/05/2021). Di malam 10 terakhir Ramadhan seharusnya diisi dengan memperkuat aktivitas ibadah di masjid dengan i’tikaf penuh kekhusyukan mengharapkan mendapat keberkahan malam lailatul qadr justru harus merasakan kegentingan menjaga masjid al-Aqsha dengan persenjataan seadanya.

Bisa dikatakan sebagai kekalahan. Kekalahan kaum Muslimin di belahan negeri Muslim lainnya dengan kaum Muslimin yang ada di Palestina. Betapa iri hati ini, menjumpai aspek ruhiyah pada saudara kita di Palestina selalu lebih unggul dibanding kita disini yang lebih banyak memikirkan dan menghabiskan waktu dengan keegoan memenuhi kepentingan diri dan keluarga. Selain itu, tak kalah pentingnya adalah fakta kekalahan kaum Muslimin atas penjajahan yang masih melenggang menguasai kaum Muslimin atas negeri-negeri mereka.

Salah besar jika menganggap kita hidup baik-baik saja, sudah nyaman, dan bisa menetapi negeri yang aman dari penjajahan, tidak sebagaimana negeri Muslim di Palestina, Suriah, Myanmar dan lainnya. Pertanyaannya, apakah penjajahan itu hanya berupa fisik yang terindera?

Faktanya ada penjajahan tak berdarah tapi dampaknya pasti mematikan, yakni penjajahan pemikiran dan peraturan (Undang-undang). Inilah yang jauh lebih berbahaya. Tak terindera tapi nyata dirasakan.

Mengadopsi pemikiran dan narasi dari para penjajah seperti yang terjadi saat ini atas serangan getol berupa konsep Islam moderat dan nasionalismenya, tidak disadari mampu memecah kaum Muslimin baik yang berada di satu wilayah negeri yang sama hingga pada tataran global.

Adapula senang mengimpor peraturan lalu disahkan dalam bentuk undang-undang dari Negara-negara superpower baik dari Barat maupun Asia. Berapa banyak undang-undang yang dipakai oleh Indonesia berasal dari luar? Menurut Prof. Muladi selaku perumus RUU KUHP di kemenkumham masuknya KUHP Belanda ini ke Indonesia abad ke-18 melalui pendidikan hukum. Kemudian melalui doktrin ajaran Belanda, yurisprudensi dan juga melalui asas konfrontensi (suara.com (20/9/2019) hingga hari ini masih setia digunakan.

Ditambah lagi dicekik dengan utang yang makin membengkak, tentu sangat mudah untuk didikte oleh negara luar sebagai pemberi utang. Walhasil kedaulatan menjadi pertanyaan. Adakah?
Maka semua itu bentuk penjajahan yang sedang eksis namun kita terlena seolah kondisinya all is well alias baik-baik saja.

Hilangnya kesadaran memaknai Islam sebagai sistem hidup yang tidak hanya diterapkan saat di bulan Ramadhan atau terbatas pada ruang masjid adalah kesedihan yang teramat mendalam. Tak heran jika penjajah termasuk pada zionis Israel leluasa menyerang kaum Muslimin tanpa ada rasa kemanusiaan meski di bulan mulia ini.

Penjajahan akan terus terjadi dan menunjukkan posisi kaum Muslimin tengah menghadapi kemunduran yang sangat parah. Kemunduran dalam hal keterikatannya terhadap agamanya maupun pada ilmu dan peradaban. Hal itu terjadi tentu banyak faktor yang melingkupinya namun faktor utamanya adalah tidak memiliki kekuatan strategis yakni kekuatan pemahaman Islam yang menyeluruh (kaffah) serta kekuatan sebuah negara sebagai perisai -yakni khilafah- yang melindunginya dari segala bentuk penjajahan.

Meraih kemenangan bukan hanya sekedar ungkapan kata yang menjadi buah bibir tiap tahunnya tetapi betulkah itu telah diraih dalam kehidupan nyata kita baik secara individu maupun kaum Muslimin keseluruhan? Kemenangan di hari Idul Fitri bukan hanya kemenangan yang dimaknai telah tuntas menjalankan ibadah puasa full sebulan padahal esensinya yakni terbentuknya ketaatan dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya baik mulai dari ranah individu, masyarakat hingga negara.

Atau kita patut bertanya, kita telah memenangkan apa setelah melewati Ramadhan? Benarkah kita telah menang mengalahkan hawa nafsu sebagai musuh sejati selama di bulan Ramadhan? lalu bagaimanakah pada musuh yang nyata dari musuh-musuh Islam dan kaum Muslimin?

Semoga bulan Ramadhan ini Allah mengampuni semua kesalahan kaum muslimin seluruhnya, memberikan Rahmat dan pertolongan-Nya kepada kaum muslimin hingga kemenangan hakiki itu benar-benar terwujud dalam kehidupan Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur, dalam sebuah negara yang menerapkan Islam secara menyeluruh sebagai peraturan hidup. Allahumma aamiin. Wallahu a'lam. []


Oleh: Putri Dwi Kasih Anggraini
(Sahabat TintaSiyasi)

Posting Komentar

0 Komentar