Kala Penghujung Ramadhan Bukan Penghujung Pandemi

Memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan 1442 H, pandemi Covid-19 di dunia belum juga berakhir. World o Meters mencatat 154.177.380 kasus di seluruh dunia. Sementara di Indonesia sendiri, jumlah kasus terkonfirmasi sebanyak 1.682.004 kasus. Dengan penambahan kasus mencapai 4730 orang dalam 24 jam terakhir, Indonesia memegang rekor tertinggi di Kawasan Asia Tenggara (Pikiran-Rakyat.com, 4 Mei 2021).

Mungkin terasa asing atau tak biasa, manakala Ramadhan dikaitkan dengan pandemi. Pasalnya, Ramadhan itu identik dengan bulan pengampunan dan buah takwa. Sementara itu, persepsi tentang takwa yang otomatis hadir di benak kita, adalah takwa dalam tataran pribadi. Yang segera terlintas di benak adalah perilaku individu yang makin taat beribadah, dan makin amanah dalam posisinya sebagai anak, orang tua atau suami-istri. Sopan santun dan mulianya akhlak akan makin terasa. Urusan-urusan pribadi berjalan baik, tanpa menimbulkan masalah dengan sesama. Inilah sejumlah indikator yang kita benarkan, untuk menilai adakah buah takwa itu telah teraih. 

Tak terbayang dalam benak, bagaimana perwujudan takwa pada suatu masyarakat maupun negara. Mungkin ini merupakan jejak pengaruh persepsi utama dalam kapitalisme sekuler, yang meyakini agama hanyalah urusan pribadi. Pengaruh agama dilihat sebatas takwa pada sosok pribadi. Padahal sulit dibayangkan, bagaimana individu mampu bertakwa dalam sistem kehidupan yang menolak konsep takwa tersebut. Tengok saja saudari Muslimah kita yang hidup di negeri non Muslim, semisal Eropa. Kesadaran akan kewajiban menutup aurat dengan kerudung dan jilbab harus dikonfrontir dengan sikap Islamofobia yang diidap masyarakat di sana. 

Demikian pula di sini. Ancang-ancang umat untuk menginjak pedal gas di sepuluh hari terakhir dengan ibadah dan amal shalih, seakan buyar begitu saja. Mengapa? Karena imbauan belanja kebutuhan lebaran, dan diterimakannya THR atau berbagai bonus lebaran pada hari-hari ini, tiba-tiba mengerem laju perburuan lailatul qadar. Lebih diserbunya tempat-tempat belanja ketimbang bilik-bilik tafakur di dalam masjid, menjadi pemandangan yang lazim di penghujung Ramadhan. 

Padahal Islam tidak nembatasi takwa dalam hal ritual semata. Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhahu, menggambarkan setidaknya ada empat ciri yang terkumpul dalam takwa. 

Ciri pertama, Al-Khaufu minal-Jalil, yakni manusia yang merasa takut kepada Allah SWT yang Maha Agung. Manusia, siapa pun itu dan apa pun kedudukannya di tengah masyarakat, akan memiliki rasa takut hanya kepada Allah Ta'ala. Rasa takut ini akan menciptakan ketundukan yang mutlak kepadaNya. 

Ciri kedua, Al-‘Amalu bi At-Tanzil, manusia yang beramal dengan apa yang diwahyukan oleh Allah SWT. Baik wahyu yang terdapat dalam Al-Qur'an maupun as Sunnah. 

Ciri yang ketiga, Ar-Ridha bil-Qalil, merasa cukup dan ridha dengan pemberian Allah SWT, meskipun hanya sedikit. Maknanya, orang yang bertakwa bersikap ridha, qanaah, dan berprasangka baik dalam menghadapi qadha' atau takdirNya.

Ciri yang terakhir, Al-Isti`dadu li Yaumir-Rahil, yaitu sentiasa mempersiapkan bekal untuk menghadapi kematian dan kembali menghadap Allah. 

Dalam hal pandemi, konsep takwa di atas justru akan mengantarkan kita pada sikap yang khas. Hebatnya dampak pandemi yang diakibatkan jasad renik bernama virus SARS-Cov 2, makin membangkitkan rasa takut dan tunduknya kita kepada penciptanya. Dzat yang berkuasa membuat makhluk super kecil ini mampu melumpuhkan banyak negara. Terjadinya pandemi akan disikapi dengan penuh muhasabah dan mawas diri, serta makin kuat rasa penghambaan kepadaNya. Kesadaran ini akan menggerakkan siapa pun  untuk memahami dan mengambil petunjukNya dalam menghadapi pandemi ini. 

Rasulullah Saw telah memerintahkan adanya karantina wilayah untuk memutus rantai penularan. Obyek yang diseru Rasulullah untuk melakukan karantina wilayah jelas para pemimpin. Dalam komando pemimpin, rakyat akan diperintah dan dilarang dalam kerangka mengamalkan hukum syariat Islam tentang karantina wilayah.

Rasulullah juga memerintahkan seorang pemimpin untuk menjadi penanggungjawab dan perisai yang melindungi rakyatnya. Tak terkecuali dari bahaya wabah. Negara wajib memberikan pengobatan dan mendorong penemuan obat-obatan dan metode penanganan, baik untuk pecegahan maupun pengobatan. Bahkan wahyu pun telah memberikan panduan yang demikian rinci agar negara memiliki kekuatan finansial yang memadai untuk menjalankan fungsi sebagai penanggungjawab dan perisai.

Inilah yang akan ditempuh oleh negara, bahu membahu dengan rakyat, untuk mengakhiri pandemi. Hal ini dilakukan semata karena ketaatannya kepada Allah. Tak ada ruang bagi kehendak mayoritas, korporasi maupun tekanan negara asing, untuk mengambil keuntungan materi dari wabah ini. Keyakinannya akan hari perhitungan inilah, yang mendorongnya untuk berhukum kembali kepada perintah dan laranganNya dalam segala aspek kehidupan. Tak terkecuali, syariat Islam dalam menyelesaikan wabah. 

Semua ketaatan ini tak sebatas langkah manusia yang bertarget duniawi untuk mengakhiri wabah. Melainkan juga akan  menjadi amal berdimensi ukhrawi karena menjadi ibadah di sisi Allah. Dengan begitu, berakhirnya pandemi sebagai hasil penerapan solusi Islam, akan menjadi bukti diraihnya buah takwa dalam semua level. Pribadi, masyarakat dan negara. 

Hilangnya pandemi merupakan perwujudan dari "makhroja" atau jalan keluar dari problematika dunia. Allah SWT berfirman: 

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ

وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ۗاِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

"Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu." (QS at Tholaq:2-3). Oleh karenanya, bila di penghujung Ramadhan ini, pandemi belum akan berakhir, kita butuh merenung kembali. Jujur, sebagai umat dan negara, kita belum meraih buah takwa itu. Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Riani Kurniawati
(Sahabat TintaSiyasi)

Posting Komentar

0 Komentar