Idul Fitri, Saatnya Umat Islam Mewujudkan Ketakwaan Hakiki


Umat Islam di dunia saat ini sedang bersuka cita menyambut hari raya Idul Fitri. Mereka merayakan dengan berbagai cara sesuai kebiasaan negaranya masing-masing. Idul Fitri mereka lakukan dalam rangka menikmati kemenangan setelah berhasil melalui puasa Ramadhan selama satu bulan penuh. Namun sudahkah buah dari Ramadhan yaitu ketakwaan telah ada dalam diri kita? Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surat Al Baqarah ayat 183 yang artinya, "Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.

Ketakwaan ini tidak hanya secara individu. Lebih lanjut sudahkah ketakwaan ada dalam bangsa kita? Ketakwaan yang tercermin dengan pelaksanaan hukum-hukum Allah SWT dalam segala aspek kehidupan. Sayangnya hal tersebut saat ini belum terwujud di negeri ini. Meski Indonesia ini adalah negeri dengan mayoritas Muslim. Bahkan salah satu masalah kronis di negeri ini adalah masalah korupsi. 

Korupsi telah menggurita di negeri ini. Mulai dari pejabat tinggi hingga pejabat tingkat RT. Padahal seharusnya di negeri yang mayoritas Muslim ini korupsi adalah salah satu hal yang dilarang. Karena Allah SWT telah melarang korupsi. Dalam Fiqih Islam memang tidak ada istilah khusus tentang korupsi. Namun modus korupsi dalam Islam termasuk tindakan penyelewengan. Di sisi lain korupsi juga masuk risywah atau upaya pemberian harta kepada penguasa untuk mencapai kepentingan tertentu yang semestinya tidak ada pembayaran. 

Jika kita melihat realitas negeri ini belakangan ini KPK yang notabene merupakan lembaga pemberantasan korupsi justru di tes dengan yang tidak bersandar dengan keagamaan bahkan menyimpang agama dan tidak relevan dengan tugasnya. Salah satu soal dalam tes wawasan kebangsaan membahas tentang LGBT yang jelas-jelas dilarang oleh agama. Juga perkara jilbab dan qunut. Dalam tes wawasan kebangsaan ini ternyata 75 orang pegawai KPK dinyatakan tidak memenuhi syarat dan terancam dipecat. Padahal dari 75 orang pegawai ini diantaranya adalah Novel Baswesdan dan Andre Nainggolan. 

Novel Baswesdan salah satu penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi yang sedang menyelidiki kasus korupsi di kementerian kelautan dan perikanan sedangkan Andre Nainggolan sedang menangani kasus korupsi bantuan sosial. Selain keduanya yang tidak lulus Tes Wawasan Kebangsaan juga ada 9 orang yang saat ini menjabat kasatgas. Bahkan para pengurus inti dari wadah kepegawaian KPK juga dinyatakan tidak lulus Tes Wawasan Kebangsaan (www.kompas.com). Sebuah kecurigaan disampaikan oleh mantan ketua KPK Abraham Samad bahwa ada upaya untuk menyingkirkan orang-orang yang lurus di dalam KPK (www.tribunnews.com). Ini menimbulkan pertanyaan apakah pertanyaan dalam TWK relevan dalam rangka upaya pemberantasan korupsi? Apakah ajaran agama yang diajarkan dengan lurus dan konsisten menghambat pemberantasan korupsi? 

Saat ini bangsa ini sedang mengalami krisis keagamaan. Bahkan agama Islam yang notabene adalah agama mayoritas penduduk negeri ini justru diserang dengan berbagai opini radikal, keras dan sebagainya. Orang-orang yang istiqamah memegang Islam justru dituduh dengan berbagai opini negatif. Ulama-ulamanya bahkan dikriminalisasi bahkan ada yang dipenjara. Ini semua tentu membawa implikasi negatif pada umat. Umat semakin terbawa dengan arus opini yang menyudutkan Islam dan semakin jauh dengan ajaran Islam yang lurus. Ajaran sekularisme semakin menancap pada diri umat. Yaitu ajaran yang menjauhkan agama dalam aspek kehidupan. 

Di sisi lain momen Idul Fitri umat Islam ternyata tidak hanya mendapat 'opini negatif' tentang pemikiran Islam. Bahkan umat Islam di Palestina mendapat serangan dari Israel. Umat Islam terampas haknya untuk merayakan Idul Fitri. Keberadaan umat Islam sebagai umat yang terbaik tidak tampak. Umat Islam kehilangan jati dirinya dan terampas haknya untuk menikmati kegembiraan buah dari puasa Ramadhan. Ini semua disebabkan sistem kapitalisme sekuler yang melingkupi dunia telah menjajah umat Islam baik secara fisik maupun pemikiran. Maka kesungguhan bagi kita adalah dengan mewujudkan ketakwaan sepenuhnya dengan menerapkan hukum-hukum Allah SWT dalam segala aspek kehidupan. Ini sebagaimana perintah Allah SWT dalam Al-Qur'an surat Al Baqarah ayat 208 yang artinya, "Masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah (menyeluruh)."

Ayat ini secara jelas memerintahkan kita untuk masuk ke dalam Islam secara menyeluruh di berbagai aspek kehidupan. Maka ketika seorang Muslim ingin mewujudkan ketakwaan dalam dirinya harusnya dilakukan dengan menjalankan seluruh perintah Allah SWT dan menjauhi laranganNya. Ini tentu saja tidak hanya bisa dilakukan oleh seorang Muslim secara individu saja. Karena aturan Allah SWT mengatur seluruh aspek termasuk aspek pemerintahan. Sehingga individu Muslim tidak akan mampu menerapkan secara personal tapi butuh negara yang menerapkan aturan Islam secara menyeluruh. Inilah sebenar-benarnya ketakwaan. Inilah ketakwaan yang hakiki. Semoga kita bisa segera mewujudkannya. Aamiin. []


Oleh: Desi Maulia, S.K.M 
(Praktisi Pendidikan)

Posting Komentar

0 Komentar