Berwisata Pasca Ramadhan, Akankah Mengantarkan kepada Takwa?


Belum sehari umat Muslim mengakhiri puasa dan merayakan Idul Fitri, takwa itu pun diuji. Apakah puasa mengantarkan rasa takut kepada Allah yang sangat besar hingga membuat Muslim makin taat kepada-Nya, ataukah sebaliknya? Ternyata, tak sedikit yang gagal melalui ujian tersebut. Berwisata pasca Ramadhan telah membuat sebagian Muslim terjebak pada berbagai aktivitas keharaman.

Misalnya banyak orang yang membuka aurat bahkan telanjang di tempat-tempat umum, bersolek, berpacaran, meminum khamr, melakukan kesyirikan, mengunjungi candi-candi karena menganggapnya sebagai situs budaya, padahal tempat-tempat tersebut masih menjadi tempat ibadah non-Muslim. Dan aktivitas haram lainnya.

Belum lagi berkaitan dengan perintah Allah yang juga banyak terabaikan seperti shalat lima waktu. Mengingat banyak sekali tempat wisata di negeri ini yang sangat minim fasilitas shalatnya termasuk fasilitas toilet dan air bersih untuk berwudlu. Tempat wudlu kadang terbuka, sehingga menyulitkan kaum perempuan untuk berwudlu tanpa tersingkap auratnya. Tempat shalat pun sering sangat kecil, tak sebanding dengan jumlah pengunjungnya. Siapa pun yang pernah berkunjung ke mal-mal atau tempat wisata alam di berbagai kota di Indonesia, bisa menjadi saksi bagaimana realitasnya.
Mungkin ada beberapa tempat yang cukup bagus fasilitasnya, tapi jumlah yang menyediakan demikian itu bisa dihitung dengan jari. Tidak heran, banyak diantara pengunjung wisata yang meremehkan shalat karena dianggap menyulitkan, sehingga shalat pun ditunda dan akhirnya tak tertunaikan. Astaghfirullah.

Ini semua disebabkan karena iman yang masih lemah, ditambah lagi sangat rendahnya kepedulian Muslim. Banyak di antara Muslim yang membiarkan Muslim lain yang bermaksiat saat berwisata karena tak berani menegur atau menasihatinya. Hal ini diperparah dengan kondisi penguasa hari ini yang tak menerapkan hukum Allah dalam mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Pilihan antara maksiat atau takwa akhirnya benar-benar diserahkan pada tanggung jawab individu. Hampir tak ada peran negara untuk mengaturnya. Bagaimana Islam memandang?

Islam telah mengaitkan wisata dengan tujuan-tujuan yang mulia. Di antaranya adalah untuk beribadah. Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya wisatanya umatku adalah berjihad di jalan Allah.” (HR Abu Daud, 2486, dinyatakan hasan oleh Al-Albany dalam Shahih Abu Daud dan dikuatkan sanadnya oleh Al-Iraqi dalam kitab Takhrij Ihya Ulumuddin, no. 2641). Nabi SAW mengaitkan wisata dengan tujuan yang agung dan mulia, yaitu untuk berjihad sebagai bagian dari beribadah kepada Allah SWT. Wisata bagi kaum Muslim semestinya menjadi sarana untuk semakin menambah kesadaran akan kebesaran Sang Pencipta dan semakin takwa kepada-Nya. Juga menjauhkan diri dari segala aktivitas yang diharamkan oleh syariat. Bukan dengan melakukan maksiat. 
Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: S. Yuniawati
(Pendidik & Aktivis Muslimah)

Posting Komentar

0 Komentar