Alat Rapid Antigen Bekas Bikin Was-Was


Polisi menetapkan lima orang tersangka dalam kasus daur ulang alat rapid test antigen di Bandara Kualanamu, Sumatera Utara. Polisi memperkirakan praktik ini telah berlangsung sejak Desember 2020. Juru bicara satuan tugas Covid-19 Provinsi Sumatera Utara Benny Satria mengatakan stik antigen yang tidak boleh didaur ulang dan termasuk limbah B3 (Bahan berbahaya dan beracun). Seperti yang tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan (KMK)  3602 Tahun 2021 tentang penggunaan Rapid Test Diagnostic Antigen dalam pemeriksaan Covid-19 (kompas.com, 30/4/2021).

Meski stick swab antigen dicuci dengan cairan alkohol hal ini tidak akan membuat virus yang menempel mati. Bahkan yang ada justru menularkan virus seperti yang dikatakan epidemiolog dari Universitas Indonesia Pandu Riono bahwa penggunaan alat bekas dalam pelayanan Rapid Test antigen sangat berbahaya karena dapat menularkan virus.

Sungguh terlalu, di tengah musibah pandemi yang menimbulkan efek luar biasa di semua sektor tetap saja ada oknum yang memanfaatkan kondisi ini untuk mencari keuntungan. Dilansir dari news.detik.com (30/4/2021), Kapolda Sumatera Utara Irjen Panca Putra menduga bahwa para tersangka meraup keuntungan hingga mencapai Rp. 1,8 miliar dari praktik menggunakan alat tes antigen bekas di Bandara Internasional Kualanamu.

Tindakan para tersangka ini bukan hanya tindakan amoral melainkan juga tindakan kriminalitas. Mereka mengejar keuntungan materi dengan membahayakan kesehatan publik. Tindakan oknum seperti ini memang wajar kita dapati dalam karakteristik masyarakat kapitalis.


Kapitalisme Melahirkan Manusia Serakah

Kapitalisme telah mengubah pandangan manusia hanya berorientasi untuk menghasilkan materi sebanyak-banyaknya di setiap kesempatan dan peluang tanpa memikirkan dampaknya kepada orang lain. Insiden ini menunjukkan untuk kesekian kalinya kebobrokan sistem kapitalisme jika diterapkan dalam masyarakat. 

Diperkirakan, sejak tiga bulan terakhir ada sekitar 9.000 orang yang menggunakan layanan yang menggunakan alat rapid test bekas. Mereka semua berpotensi tertular dan menularkan virus kepada keluarga, masyarakat dan lingkungan kerjanya. Sungguh kejam, demi keuntungan mereka bisa melakukan hal yang tak manusiawi hingga membuat seluruh masyarakat Indonesia geram dan was-was. Tidak taat resiko kena hukuman, giliran taat kena kibul oknum kesehatan.

Maka sudah semestinya jika para pelaku kejahatan ini diberi sanksi tegas agar kejadian ini tidak terulang kembali. Sayangnya hukum yang berlaku saat ini adalah hukum buatan manusia yang bersumber dari kesepakatan-kesepakatan yang mereka lakukan sendiri. 

Mereka menentukan standar benar dan salah hanya berdasarkan logika akal manusia yang lemah dan terbatas jangkauannya. Aturan agama hanya diposisikan sebagai salah satu norma hukum yang akan disepakati kemudian dimodifikasi sesuai dengan hasil kesepakatan mayoritas.

Inilah produk hukum dari sistem sekularisme. Sebuah gagasan batil karena memisahkan agama dalam kehidupan manusia. Alhasil, produk hukum yang dihasilkan sering tidak memberi efek jera bagi para pelaku kriminal. Hukum mudah diubah-ubah sesuai dengan kepentingan yang berlaku saat itu. Hal inilah yang menjadi akar penyebab ketidakamanan dalam masyarakat bukan sekadar ulah oknum tertentu melainkan cara pandang yang diterapkan sekarang yakni sekuler kapitalisme.


Hukum Islam Memberikan Keadilan

Tidak ada satupun hukuman di dunia ini yang memberikan keadilan, rasa aman bagi masyarakat dan efek jera yang begitu luar biasa bagi pelaku kejahatan dan mampu mencegah masyarakat untuk melakukan kriminalitas selain hukum dalam sanksi Islam yakni uqubat.

Fungsi sistem sanksi Islam adalah sebagai pencegah (zawajir) dan penebus dosa (jawabir), yakni mencegah orang-orang untuk melakukan tindakan dosa dan kriminal sekaligus menggugurkan sanksi di akhirat bagi pelaku kriminal yang telah dikenai sanksi di dunia. Seperti sabda Nabi Saw dari Ubadah bin Shamit,

"Siapa di antara kalian yang memenuhinya, maka pahalanya di sisi Allah. Siapa yang melanggarnya lalu diberi sanksi, maka itu sebagai penebus dosa baginya. Siapa yang melanggarnya namun (kesalahan itu) ditutupi oleh Allah, jika Allah menghendaki, Dia akan mengampuninya jika Ia menghendaki, Dia akan mengazabnya." (HR. Bhukari)

Inilah karakteristik sanksi Islam yang digali bukan dari akal manusia yang lemah dan terbatas tapi dari Sang Pembuat manusia yakni Allah SWT Sang Pencipta sekaligus Sang Pembuat aturan. Maka sangat niscaya keadilan tercipta.

Tindakan yang memproduksi dan memperjualbelikan alat Rapid Test Antigen bekas ini jelas membahayakan keselamatan dan keamanan publik. Oleh karena itu sanksi yang akan diterima oleh para pelaku termasuk kedalam jenis sanksi ta'zir.

Abdurrahman Al Maliki dalam kitab-nya Nizham Al-Uqubat menjelaskan bahwa ta'zir adalah sanksi atas kemaksiatan yang di dalamnya tidak had dan kafarat

Kasus ta'zir terbagi menjadi tujuh: Pertama, pelanggaran terhadap kehormatan. Kedua, penyerangan terhadap nama baik. Ketiga, tindak yang bisa merusak akal. Keempat, penyerangan terhadap harta milik orang lain. Kelima, gangguan terhadap keamanan atau privasi. Keenam, mengancam keamanan negara. Ketujuh, kasus-kasus yang berkenaan dengan agama.

Adapun hukuman yang akan diterima dapat berupa: Pertama. Hukuman mati. Kedua. Hukuman cambuk yang tidak boleh lebih dari 10 kali. Ketiga. Penjara. Keempat. Tempat pengasingan. Kelima. Pemboikotan. Keenam. Salib. Ketujuh. Ganti rugi. Kedelapan. Penyitaan harta. Kesembilan. Mengubah bentuk barang. Kesepuluh. Ancaman yang nyata. Kesebelas. Nasihat dan peringatan. Keduabelas. Pencabutan sebagian hak kekayaan. Ketigabelas. pencelaan (tawbikh). Keempatbelas. pewartaan (tasyhir)

Qadhi (Hakim) akan menjatuhkan hukuman kepada pelaku sesuai dengan level kriminalitas yang dilakukannya. Inilah jaminan yang diberikan sistem Islam dalam mewujudkan keamanan dan keselamatan masyarakat.

Lebih dari itu, sesungguhnya diperlukan pula upaya untuk mengubah cara pandang dalam masyarakat dari yang hanya berorientasi pada keuntungan materi seperti masyarakat kapitalis ke masyarakat yang berorientasi meraih keridhaan Allah SWT semata dalam setiap aktivitasnya. Orientasi tersebut akan menjaga masyarakat dari tindakan kriminalitas dan amoral sehingga tercipta rasa aman dalam kehidupan. []


Oleh: Nabila Zidane
(Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban)

Posting Komentar

0 Komentar