Bukan Hanya KH Hasyim Asy’ari, Banyak Sejarah Islam Penting Lainnya Tak Masuk Draf KSI



TintaSiyasi.com-- Selain hilangnya entri tokoh KH Hasyim Asy’ari, Jurnalis Tabloid Media Umat Joko Prasetyo menilai, banyak pula sejarah Islam yang penting lainnya tidak masuk dalam draf Kamus Sejarah Indonesia (KSI) Jilid I yang diterbitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). 

"Karena yang dituntut kaum Muslim hanya nama KH Hasyim Asy'ari saja, padahal kalau kita mau jujur banyak," ungkap Om Joy, sapaan akrabnya, dalam Bincang Media Umat edisi 288: Parade Kezaliman Jelang Ramadhan, Jumat (23/4/2021) di kanal YouTube Follback Dakwah.

Salah satu fakta sejarah penting yang tidak masuk, menurut Om Joy, di antaranya adalah surat kabar Bandera Islam.

Ia merasa heran mengapa media massa terbitan Jepang agar orang Jawa bisa bahasa Jepang disebut di situ (draf KSI), media massa terbitan Cina disebut, media massa jauh di pelosok Sumatera sana juga ada disebut di situ. 

“(Namun) media massa yang namanya Bandera Islam yang terbit tahun 1924-1926 yang didirikan oleh Sarekat Islam dalam rangka memeperjuangkan tegaknya kembali khilafah, tidak ada," ujarnya.

Ia mengatakan, koran Bandera Islam membahas Komite Khilafah. Komite Khilafah itu isinya ada Muhammadiyah, ada Sarekat Islam, ada cikal bakal NU dan ormas-ormas Islam lainnya, sejarah besar.

"Tidak masuk (dalam KSI), Komite Khilafahnya enggak ada, Bandera Islamnya enggak ada. Walaupun mereka menyebut tokoh-tokoh Islam seperti Abdul Wahab Hasbullah, tidak nyinggung-nyingung Komite Khilafah. Padahal dia itu sebagai Wakil Ketua Komite Khilafah," bebernya.

"Juga nyebut nama tokoh-tokoh yang lain semua enggak disinggung-singgung khilafahnya, Bandera Islamnya. Jadi, memang kental sekali penguburan sejarah itu, kental sekali," katanya.

Om Joy menyebutkan bila nanti akhirnya KH Hasyim Asy'ari dimasukkan ke KSI, kaum Muslim mestilah senang. Namun sejatinya, rezim tetap yang menang. "Karena berhasil mengubur sejarah Islam yang sangat penting," jelasnya.

Ia menilai, hal itu dilakukan karena ingin mengubur sejarah umat Islam yang memahami kewajiban menegakkan khilafah di dunia. "Karena menunjukkan bahwa Muslimin Nusantara saat itu masih paham bahwa khilafah itu wajib, masih paham membaiat khalifah itu kewajiban kaum Muslim sedunia," pungkasnya.[] Munamah


Simak selengkapnya di  YouTube Follback Dakwah

Posting Komentar

0 Komentar