TKW Disiksa Majikan, Pemerhati: Perempuan Jadi Buruh Migran, Seharusnya tak Boleh Terjadi


TintaSiyasi.com-- Menanggapi Tenaga Kerja Wanita (TKW) Suryana yang disiksa majikan dan meminta tolong melalui akun sosial medianya agar segera dipulangkan dari Bahrain, Pemerhati Kebijakan Keluarga dan Generasi Ustazah Ratu Erma Rahmayanti, S. P mengatakan, para perempuan yang menjadi buruh migran adalah fakta yang salah dan tidak seharusnya boleh terjadi.

“Tentu fakta Bu Suryana yang kerja di Bahrain, dan juga para perempuan bangsa ini yang menjadi buruh migran adalah fakta yang salah, yang seharusnya tidak boleh terjadi,” ujarnya kepada TintaSiyasi.com, Jumat (02/04/2021).

Menurutnya, fakta yang salah tersebut sangat ironis karena malah dianggap sebagai pahlawan devisa. "Sekian persen dari remitensi mereka dimanfaatkan untuk pembiayaan sektor ekonomi pemerintah. Hasil keringat mereka digunakan juga. Sudahlah tidak diurusi di sini, ketika bekerja di luar negeri pun tidak luput dari berbagai pungutan, belum lagi menjadi korban mafia perdagangan orang,” bebernya.

Ketika ditanya apakah kepulangan TKW ke tanah air bisa menjadi solusi, ia menjelaskan, hal tersebut hanyalah solusi sesaat keluar dari masalahnya. ”Nah, dari beberapa fakta TKW yang dipulangkan oleh pemerintah, setelah pulang kesini pun tetap menghadapi masalah kesulitan hidup," bebernya. 

Ia mengungkap, beberapaa laporan dari organisasi peduli buruh migran tentang TKW yang berhasil diselamatkan dan pulang ke Indonesia setelah pulang ke sini, nyaris tidak ada satu pun yang dilakukan pemerintah. "Misalnya kasus Aisyah. Pemerintah tidak berbuat apa-apa untuk merehabilitasi namanya dan keluarganya dari stigma pembunuh, dan untuk mendapatkan pekerjaan pun sulit,” jelasnya. 

Ia mengemukakan, menurut Ketua Migran Care, kerentanan perempuan yang bekerja ke luar negeri makin besar, karena ada pemberangkatan non prosedural atau ilegal. "Mereka tidak punya skill khusus, karena tidak dibekali keterampilan. Mayoritas menjadi pembantu rumah tangga yang sering jadi korban eksploitasi," ujarnya.

"Migran care juga berpendapat bahwa negara tak berperan. Negara hadir dan total menyelamatkan pekerja migran dengan memberikan bantuan hukum hanya saat di luar negeri. Namun, setelah mereka kembali ke tanah air, negara abai," imbuhnya.

Menurutnya, kesejahteraan seharusnya dapat dirasakan oleh rakyat di Indonesia. Jika negara mengelola kekayaan alam dengan benar, tidak perlu ada TKW seperti Suryana dan kasus lainnya yang harus pergi ke luar negeri demi mengejar kebahagiaan.

“Keluarga Bu Suryana dan kita, berhak hidup bahagia dan sejahtera. Merasakan anugerah Allah SWT dari kekayaan Indonesia jika dikelola pemerintah dengan benar. Sehingga tidak perlu ada Bu Suryana dan perempuan lain yang pergi ke luar negeri demi hidup bahagia," jelasnya. 

"Semestinya Indonesia dengan kekayaan negara dari berbagai sumber daya alam yang jumlahnya sangat besar, sanggup mewujudkan cita-cita kebahagiaan rakyatnya dan kemakmuran bangsa," tambahnya.

Selain itu, ia menegaskan, sesungguhnya, tugas untuk mencari nafkah bukanlah dibebankan kepada perempuan dalam sudut pandang Islam. Agar hidup keluarga bahagia, ia menjelaskan, kepala keluarga (suami) harus bekerja memenuhi kebutuhan anggota keluarganya. 

"Islam akan mencegah adanya perempuan yang bekerja ke luar negeri, meninggalkan suami dan anak-anaknya, menjadi penopang ekonomi keluarga, sebab itu bukan tugas pokok perempuan dan bukan kewajibannya," tukasnya. 

"Meninggalkan pengasuhan anak-anak adalah pelalaian hak mereka. Padahal tugas pengasuhan anak selama ibunya masih ada diamanahkan kepadanya," paparnya. 

Ia menambahkan, Islam melarang perempuan memerosokkan dirinya dalam hinaan dan penderitaan. Meski hukum Islam membolehkan perempuan bekerja, maka tidak boleh dalam pekerjaan yang mengeksploitasi tenaganya, pekerjaan berat yang menindasnya, atau mengeksploitasi kecantikan dirinya, sehingga merendahkan martabat. 

"Aturan Islam memberikan kebolehan wanita dalam mengembangkan skill profesionalitasnya untuk bekerja," katanya. Menurutnya, profesionalitas wanita akan menjadi dukungan bagi penguatan kemakmuran dan kehormatan bangsa. Sehingga, tidak akan dibiarkan dia bekerja keluar negeri untuk menguatkan negara lain. 

“Fenomena adanya perempuan yang bekerja di negara selain negara Islam, mereka pergi sendiri, meninggalkan anak-anak, tinggal di sana tanpa mahram atau keluarganya, bisa dipastikan tidak akan ada,“ tandasnya.[] M. Siregar

Posting Komentar

0 Komentar