Terorisme Bukan Bagian dari Islam, Terorisme Musuh Bersama


Manusia cukup ditekan dan diberi rasa takut, maka akan panik serta menimbulkan spekulasi. Dimunculkan rasa takut dengan bencana, maka hidup seolah terasa sempit. Ditakuti dengan kriminalitas maka akan waspada, dibuat rasa takut akan hukuman negara maka akan muncul ketundukan pada pembuat hukum. Rasa takut dipelihara untuk mengubah kondisi dan keadaan serta merekayasa rasa agar manusia sesuai dengan misi sebenarnya. Termasuk rasa takut yang dibuat oleh terorisme bom, bukan kali pertama terorisme di negeri ini muncul serta selalu dikaitkan dengan salah satu agama.

Minggu, setelah selesai misa di Gereja Katedral Makassar, pasangan suami istri berinisial L (suami) dan YSF (istri), melakukan serangan bom bunuh diri. Pemboman tersebut tepat dilakukan tepat di gerbang masuk gereja makassar (Kompas.com, 30/03/2021).

Menteri agama Yaqut menyatakan bahwa tidak ada agama apapun yang melakukan kekerasan dan teror dengan alasan apapun, karena menurutnya semua agama mengajarkan kasih sayang serta kedamaian dan saling mencintai antar sesama manusia, Menag juga berharap agar para pemuka agama menyampaikan hal tersebut kepada jama'ahnya (Republika.co.id, 28/03/2021).

Pernyataan Menteri Agama sudah benar, namun pada faktanya setiap kali terjadi bom bunuh diri, pelaku berdandan dengan Islami. Seolah Islam memiliki label sarang teroris dengan diketahui bahwa pelaku bom kemarin berwasiat bahwa dirinya sedang mengorbankan diri untuk syahid. Maka pemikiran masyarakat tentang jihad, syahid dan istilah Islam lainnya sungguh sangat kabur dan jauh dari ajaran sesungguhnya. Hal ini karena adanya sekularisme, pemisahan agama dari kehidupan sehingga pemeluk agamanya sendiri pun kurang memahami apa yang dimaksud dengan syahid, jihad serta ajaran Islam lainnya. 

Catatan penting, bahwa Islam benar mengajarkan jihad namun jihad yang dimaksud bukan melukai diri sendiri di suatu tempat agar menimbulkan keresahan serta melukai orang lain. Jihad sesungguhnya adalah menghilangkan rintangan fisik yang menghalangi dakwah Islam, serta jihad dalam makna ini dapat dilakukan ketika khilafah telah tegak dengan perintah khalifah. Dan jika terbunuh oleh musuh, pada saat itu karena sedang membela Islam dari musuh-musuh Islam serta niat ikhlas karena Allah ta'ala maka ialah yang dinamakan mujahid serta matinya disebut syahid. 

Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb, telah menceritakan kepada kami Jarir dari Suhail dari ayahnya dari Abu Hurairah dia berkata, Rasulullah Saw bersabda: Apa yang dimaksud orang yang mati syahid di antara kalian? Para sahabat menjawab, Wahai Rasulullah, orang yang mati terbunuh karena berjuang di jalan Allah itulah orang yang mati syahid. Beliau bersabda: Kalau begitu, sedikit sekali jumlah ummatku yang mati syahid. Para sahabat berkata, Lantas siapakah mereka wahai Rasulullah? Beliau bersabda: Barangsiapa terbunuh di jalan Allah maka dialah syahid, dan siapa yang mati di jalan Allah juga syahid, siapa yang mati karena suatu wabah penyakit juga syahid, siapa yang mati karena sakit perut juga syahid. Ibnu Miqsam berkata, Saya bersaksi atas bapakmu mengenai hadis ini, bahwa beliau juga berkata, orang yang meninggal karena tenggelam juga syahid.” (HR. Muslim).

Lalu siapa yang dimaksud musuh-musuh Islam? Yaitu orang kafir yang memerangi Islam secara fisik dan mengganggu kaum Muslimin dalam menggenggam keimanannya. Pertanyaannya, apakah orang-orang non Muslim khususnya di Indonesia adalah musuh yang nyata dengan memerangi kaum Muslim secara fisik? Tentu tidak. Selain itu, kita juga belum memiliki pemimpin yang menegakkan Islam sepenuhnya sehingga kewajiban membela diri, keluarga serta agama secara fisik hanya berlaku ketika negara kita diperangi. 

Wahai orang-orang beriman, Allah tidak melarang kalian berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang kafir yang tidak memerangi kalian karena agama kalian. Mereka juga tidak mengusir kalian dari kampung halaman kalian. Sungguh Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. al-Mumtahanah: 8).

Jadi jangan salah kaprah memahami arti jihad maupun syahid, karena Islam tidak pernah mengajarkan tindakan kekerasan. Bahkan nyawa di dalam Islam sangat dihargai, termasuk nyawa orang kafir yang tunduk dengan ketetapan Islam, yang sering disebut sebagai kafir dzimmi.

Rasulullah Saw menegaskan; “Siapa menyakiti dzimmi, maka aku menjadi lawannya pada hari kiamat.”  (HR. Muslim).

Siapa menyakiti dzimmi, maka sungguh ia menyakitiku. Dan siapa menyakitiku, maka sungguh ia menyakiti Allah.” (HR. Thabrani).

Maka sudah sangat jelas bahwa Allah tidak melarang kita berbuat baik kepada non Muslim. Kaburnya pemahaman tentang hal ini karena sejarah Islam mulai dijauhkan, dan memahami isi dari Al Qur'an seolah bukan hal yang utama untuk diterapkan dalam kehidupan. Sejatinya kita harus memgetahui musuh kita bersama adalah pihak-pihak yang mengadu domba, pihak-pihak yang memunculkan teror di setiap tempat, ialah sistem yang menjauhkan kita dari ketenangan. Yaitu sistem yang membebaskan orang-orang berperilaku selama tidak menganggu hak orang lain, pada kenyataannya pernyataan tersebut tidak dapat menjamin keselamatan semua orang karena kita tidak mengetahui hal jahat apa yang akan terjadi jika demikian.

Jadi, masyarakat memang memerlukan aturan yang tidak multi tafsir, aturan yang tidak berasal dari manusia. Aturan yang pakem dan para mujtahid tidak menentukannya dengan nafsu-nafsu mereka walau mereka manusia. Namun para mujtahid merujuk kepada hukum-hukum Allah sesuai syariat-Nya. 

Agar pemaknaan terorisme tidak melekat pada Islam hakiki, maka kita harus banyak menyebarkan bahwa Islam tak mengajarkan ajaran membom diri sendiri untuk memunculkan rasa takut. Edukasi masyarakat dengan penyadaran dan pemahaman Islam yang benar anti doktrin, namun diajak diskusi dan berpikir agar hati menerima ketenangan dan akal puas dengan tetap bernalar bahwa keimanan yang benar bukan dengan membom diri. 

Untuk mendekatkan ajaran Islam yang benar tentu kita perlu pendidikan Islam, yang di dalamnya mengajarkan bahwa Islam dulu pernah memimpin 13 abad ummat manusia dengan cara yang ma'ruf dan disyariatkan oleh Allah. Dan hal tersebut hanya bisa kita lakukan saat aturan Islam diterapkan, dengan sadar berjuang untuk mengkaji lagi langkah perjuangan yang benar mengikuti tuntuntan Rasulullah adalah modal kita untuk meminta pada Allah agar segera turun janjiNya, sehingga Islam bisa diterapkan secara menyeluruh dan bisa menjadi kunci perdamaian dan ketentraman dunia, serta rahmatan lil 'alamin. Karena kita jangan sampai dibodohi lagi dengan rasa takut dari musuh-musuh Islam yang tak ingin umat bersatu. Allahu akbar.[]

Oleh: Yauma Bunga Yusyananda
(Anggota Komunitas Ksatria Aksara Kota Bandung)

Posting Komentar

0 Komentar