Tanah Palestina Direbut Israel, Pengamat: Tidak Ada Pembelaan Pemimpin Negeri Muslim, karena Nasionalisme



TintaSiyasi.com-- Menanggapi rilis data Biro Pusat Statistik Palestina (PCBS) pada 45 tahun peringatan Hari Tanah Palestina (30/03/2021) yang menyatakan Israel telah merebut 85 persen tanah Palestina, Pengamat Hubungan Internasional Budi Mulyana, S.IP., M.Si. mengatakan pemimpin negeri-negeri Muslim tidak melakukan pembelaan karena terbelenggu sekat-sekat nasionalisme.

“Kita bisa melihat kenapa sikap dari pemimpin-pemimpin negeri-negeri Muslim itu seperti tadi (tidak melakukan pembelaan terhadap Palestina), karena mereka sudah terbelenggu dengan sekat-sekat nasionalisme, sehingga merasa tidak punya kepentingan yang kuat untuk melakukan pembelaan terhadap saudara kita di Palestina,” ungkapnya dalam acara Kabar Malam: Bukankah Eksistensi Israel Adalah Aksi Jahat! Kamis (01/04/2021) di YouTube News Khilafah Channel. 

Ia mengatakan, umat Islam harusnya menyadari bahwa persoalan Palestina adalah masalah global yang sifatnya hegemonik, bukan isu satu dua negara yang ada di dunia Arab. Lebih lanjut menurutnya masalah itu bukan hanya sekadar masalah orang Palestina tapi seluruh umat Islam.

"Saya pikir ini penting, diberikan sebuah penyadaran kepada seluruh elemen umat Islam, bahwa umat Islam saat ini tidak dalam posisi yang seharusnya. Ajaran Islam meminta kita untuk menjadi umat yang ummatan wasathan. Yaitu umat yang menjadi teladan. Sehingga dengan begitu Islam akan betul-betul menjadi rahmatan lil 'alamin. Dan syariat Islam mendorong kita, Islam ini harus menjadi agama yang ditunjukkan syiarnya," jelasnya

Ia menegaskan, setiap jengkal tanah umat Islam harus dipertahankan. Tetapi, ungkapnya, ketika payung dunia Islam tidak ada, yakni runtuhnya Kekhilafan Islam Turki Utsmani berakhir tahun 1924, masalah dunia Islam itu dikembalikan kepada masing-masing bangsa. 

Labih lanjut, ia mengungkapkan, paham nation state (negara bangsa) ini menjadi penyebab Dunia Islam terpecah-belah menjadi negara bangsa. Hal itulah menurutnya yang menghilangkan keutuhan atau kesatuan sebagai satu ikatan dunia Islam. "Mereka tersibukkan dengan problematika dan kepentingan masing-masing negaranya dan merasa tidak punya kepentingan untuk melakukan pembelaan terhadap Palestina,” terangnya.

"Ini kan semua adalah buah dari konspirasi internasional. Buah dari upaya negara-negara adi daya saat itu. Inggris, Perancis, kemudian pasca perang dunia II, dilanjutkan oleh Amerika. Dan itu dulu punya umat Islam. Ketika umat Islam masih dibawah naungan Kekhilafan Islam, baik pada masa Turki Utsmani, Abbasiyah, Umayyah, Khulafaur Rasyidin," ungkapnya.

Budi menegaskan, tanpa kekuatan sebuah negara global (lhilafah) dalam menghadapi kekuatan kapitalisme global yang saat ini sedang eksis, yang faktanya rusak dan merusak, maka umat Islam tidak akan pernah bisa menunjukkan eksistensinya secara global.

"Jadi, ini penting untuk membangun kesadaran dulu di kalangan umat Islam. Kajian terkait dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wa salam, yang kemudian dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidin, dan para khalifah setelahnya, itu menunjukkan bagaimana Islam itu menjadi mercusuar dunia," pungkasnya.[] Reni Tri Yuli Setiawati

Posting Komentar

0 Komentar