Ramadhan Meraih Takwa, Butuh Sistem yang Menjaga


Menyambut bulan suci Ramadhan, Komisi Penyiaran Indonesia menerbitkan surat edaran sebagai panduan pelaksanaan siaran selama bulan Ramadhan 2021. Di dalamnya berisi beberapa ketentuan pelaksanaan yang perlu diperhatikan dalam rangka meningkatkan kekhusyukan umat Islam dalam menjalankan ibadah di bulan suci tersebut.

Menurut Ketua KPI Pusat, Agung Suprio, bahwa maksud dan tujuan dari edaran ini adalah untuk menghormati nilai-nilai agama berkaitan dengan pelaksanaan ibadah di bulan Ramadhan. Selain itu, edaran ini sebagai panduan siaran bagi lembaga penyiaran pada saat Ramadhan. 

Menurut Agung, surat edaran ini dikeluarkan setelah memperhatikan hasil keputusan Rapat Koordinasi dalam rangka menyambut Ramadan 1442 H tanggal 10 Maret 2021 lalu yang dihadiri KPI, Kementerian Agama, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, dan perwakilan lembaga penyiaran. Selain itu, penetapan surat diputuskan dalam rapat pleno KPI Pusat tanggal 16 Maret 2021 (KPI.go.id, 21/03/2021).

Adapun beberapa ketentuan yang termuat dalam Surat Edaran no.2 tahun 2021 tersebut di antaranya: Memperhatikan kesopanan busana yang dikenakan oleh presenter, host, dan atau pendukung atau pengisi acara agar sesuai dengan suasana Ramadan; Lebih berhati-hati dalam menampilkan candaan (verbal/nonverbal) dan tidak melakukan adegan berpelukan/bergendongan/bermesraan dengan lawan jenis pada seluruh program acara baik yang disiarkan secara live (langsung) maupun tapping (rekaman); Tidak menampilkan gerakan tubuh atau tarian yang berasosiasi erotis, sensual, cabul, baik secara perseorangan maupun bersama orang lain (Detik.com, 19/03/2021).

Memang tidaklah mengherankan jika aturan ini dikeluarkan karena mayoritas masyarakat Indonesia masih menempatkan televisi sebagai media yang paling banyak dikonsumsi yakni 89%. Lalu video online, seperti YouTube dan Instagram, menempati peringkat berikutnya yaitu 46% (databoks.katadata.co.id, 16/01/2020).

Dari hasil penelusuran Global Web Index tahun 2020 juga diperoleh data bahwa aktivitas masyarakat Asia Tenggara rata-rata menonton televisi hampir dua jam dalam satu hari. Durasi itu lebih lama dibandingkan layanan streaming video yang ada dikisaran 1-1,5 jam per hari. Misalnya, penduduk Indonesia sendiri menonton TV selama 1,8 jam, sementara streaming video hanya satu jam. Angka ini menjadikan Indonesia berada di peringkat ketiga sebagai penonton TV dengan durasi terlama, setelah Filipina dan Thailand.


Hukum Menonton dalam Islam

Televisi hanyalah alat/media yang tidak bisa berbuat seperti halnya manusia. Maka status televisi disini tergantung dari bagaimana manusia memanfaatkannya. Adapun aktivitas  menonton adalah bagian dari perbuatan melihat (nazhar) secara umum. Dalil-dalil yang ada secara umum menegaskan kebolehannya. Misal firman Allah SWT (artinya), "Katakanlah, ’Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi." (QS Yunus [10] : 101). Juga firman-Nya (artinya), "Katakanlah,’Dialah yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati." (QS Al-Mulk [67] : 23).

Ayat-ayat ini menunjukkan perbuatan melihat (nazhar) hukum asalnya boleh. Perbuatan melihat ini disebut perbuatan jibiliyyah, yakni perbuatan yang secara fitrah dilakukan manusia sejak penciptaannya, seperti berdiri, berjalan, tidur, makan, minum, melihat dan mendengar. (Al-Amidi, Al-Ihkam fi Ushul Al-Ahkam, I/173; Syuwaiki,Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas, hlm. 260) dikecualikan dari kebolehan ini jika ada dalil yang mengharamkan melihat sesuatu, misal melihat aurat.

Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

”Katakanlah kepada laki-laki yang beriman,’Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’” (QS. An-Nur [24] : 30).

Adapun bagi perempuan:

وَقُلْ لِّلْمُؤْمِنٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ اَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلٰى جُيُوْبِهِنَّۖ

"Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya.." (QS. An-Nur [24] : 31).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

هذا أمر من الله تعالى لعباده المؤمنين أن يغضوا من أبصارهم عما حرم عليهم، فلا ينظروا إلا إلى ما أباح لهم النظر إليه ، وأن يغضوا أبصارهم عن المحارم

“Ini adalah perintah dari Allah Ta’ala kepada hamba-hambaNya yang beriman untuk menjaga (menahan) pandangan mereka dari hal-hal yang diharamkan atas mereka.Maka janganlah memandang kecuali memandang kepada hal-hal yang diperbolehkan untuk dipandang. Dan tahanlah pandanganmu dari hal-hal yang diharamkan.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6/41)

Jika televisi dijadikan sarana untuk hal-hal yang positif seperti mendengarkan berita, syiar Islam, ataupun hiburan yang tidak melanggar aturan Islam, maka hukumnya boleh. Namun sangat disayangkan karena kecenderungan masyarakat Indonesia justru lebih memilih konten hiburan yang mengandung nilai-nilai yang bertentangan dengan Islam, sebut saja infotaiment yang berisi gosip, sinetron yang menampilkan adegan cinta antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, adegan kekerasan yang dipicu oleh perselisihan dan balas dendam,, ajang audisi nyanyi yang menampilkan wanita Muslimah dengan kostum terbuka dan goyangan yang memancing syahwat lawan jenis.


Butuh Solusi yang Solutif

Islam adalah agama yang sempurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia mulai dari hal yang kecil hingga hal yang terbesar, tidak hanya mengatur urusan ibadah tapi juga mengatur aktivitas muamalah, politik, sosial, budaya dan lainnya.

Memberikan batasan penyiaran dengan konten vulgar dan sebagainya yang khusus di bulan Ramadhan tidaklah efektif untuk menjaga ketakwaan kaum muslimin. Karena bulan Ramadhan adalah satu dari 12 bulan Hijriyah. Lantas bagaimana dengan 11 bulan lainnya? Justru esensi takwa dilihat dari perubahan yang terjadi setelah melewati puasa sebulan penuh.

Inilah titik penting adanya peran negara. Dalam Islam, negara berperan penting dalam menyebar, memantau dan memastikan nila-nilai kebajikan itu berjalan dengan baik. Apa saja yang diperintahkan oleh Allah maka negara berperan besar untuk mewujudkannya dan apa saja yang dilarang oleh Allah maka negara pula yang berkuasa untuk mencegahnya.

Sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, "Sesungguhnya seorang imam adalah perisai, orang-orang berperang dari belakangnya dan menjadikannya pelindung, maka jika ia memerintahkan ketakwaan kepada Allah ‘azza wa jalla dan berlaku adil, baginya terdapat pahala dan jika ia memerintahkan yang selainnya maka ia harus bertanggungjawab atasnya.“ (HR. al-Bukhari, Muslim, an-Nasai dan Ahmad).

Wallahu a'lam bishshawab.[]

Oleh: Anita Nur Oktavianty
(Pemerhati Sosial)

Posting Komentar

0 Komentar