Ramadhan Mendekat, Cap Teroris ke Islam Semakin Melekat


Kembali terjadi, penembakan yang diduga aksi teror. Kali ini yang menjadi sasaran adalah Mabes Polri, Jakarta Selatan. Terduga teroris yang menyerang Mabes Polri diduga adalah perempuan. Hal ini dilihat dari pakaian yang dikenakannya, berupa gamis berwarna hitam, berkerudung biru, dan memakai tas selempang berwarna hitam.

Dalam sebuah video amatir yang beredar, dengan durasi tidak sampai satu menit itu terdengar suara letusan senpi. Orang tak dikenal itu kemudian jatuh tersungkur tak berdaya. Adapun area yang menjadi tempat insiden, disebut sangat dekat dengan ruang kerja Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan lebih lanjut dari pihak kepolisian. Peristiwa ini terjadi tak lama setelah Polri melakukan sejumlah penggerebekan terhadap terduga teroris, usai terjadi aksi teror bom bunuh diri di Makassar pada Minggu (28/3/2021).

Aksi teror di Makassar itu, menurut Polri, diduga dilakukan kelompok Jamaah Ansharut Daulah. Namun, ada hal yang menarik untuk disoroti, para pelaku menggunakan sejumlah atribut Islami. Seakan ingin menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang Muslim sebelum melakukan penyerangan. Entah apakah Muslim asli maupun tidak, yang pasti Islam kembali dicederai dengan pelabelan teroris. 

Padahal Islam tidak mengajarkan demikian. Sebagaimana firman Allah subhanahu  wata'ala yang artinya: "Allah tidak melarang kamu untuk berbuat adil  terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil." (Al-Mumtahanah: 8).

Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam juga melarang tentara membunuh wanita dan anak-anak. "Jangan mengkhianati, jangan berlebihan, jangan membunuh seorang anak yang baru lahir." (HR. Bukhari dan Muslim).

"Barangsiapa telah membunuh seseorang yang memiliki perjanjian dengan Muslim tidak akan mencium aroma surga, meskipun aroma surga telah tercium dari jarak yang ditempuh waktu empat puluh tahun." (HR. Bukhari dan Ibnu Majah).

Nabi Muhammad juga menyebut tindakan pembunuhan sebagai dosa besar kedua dan memperingatkan ada hari kiamat nanti, hisab bagi pembunuh adalah yang pertama. Jangankan kepada manusia,  umat Islam bahkan diwajibkan bersikap baik kepada hewan dan dilarang menyakiti mereka. 

Suatu ketika Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Seorang wanita dihukum karena dia memenjarakan seekor kucing sampai mati. Karena itu, dia ditakdirkan ke neraka. Saat dia memenjarakannya, dia tidak memberi kucing makanan atau minuman, juga tidak membebaskannya untuk makan." (HR. Bukhari dan Muslim).

Berbuat baik kepada semua mahluk merupakan tuntunan dalam Islam. Nabi juga pernah mengisahkan tentang seseorang yang diampuni seluruh dosanya hanya karena memberi minum seekor anjing yang kehausan. 

Ketika ditanya tentang berbuat baik kepada hewan, Nabi bersabda: "Ada pahala untuk kebaikan bagi setiap hewan atau manusia yang hidup." (HR. Muslim).

Saat menyembelih hewan qurban juga umat Islam diperintahkan melakukannya dengan cara yang mengurangi kesakitan hewan. Nabi Muhammad bersabda: “Ketika kamu menyembelih hewan, lakukanlah dengan cara yang terbaik. Seseorang harus mengasah pisaunya untuk mengurangi penderitaan hewan." (HR. Muslim dan Tirmizi).

Berdasarkan dalil-dalil di atas, maka tindakan teror kepada warga sipil yang tidak berdaya, penghancuran besar-besaran bangunan dan properti, termasuk rumah ibadah agama lain, aksi bom bunuh diri, tindakan melukai pria, wanita, dan anak-anak yang tidak bersalah, semuanya dilarang dan tindakan menjijikkan menurut Islam. 

Maka bagaimana pelaku teror ini mengatasnamakan ajaran Islam sementara hal tersebut tidak diajarkan? Adapun bagi penegak hukum sendiri diharapkan untuk menegakkan keadilan dan tidak berat sebelah terkait kasus teror ini.

Umat Islam sudah dibuat trauma dengan serentetan penyerangan terhadap masjid dan ulama. Kesigapan dalam mengumpulkan barang bukti beberapa waktu lalu yang pada akhirnya, para pelakunya rata-rata dinyatakan mengalami gangguan jiwa (Bisnis.com, 02/10/2020). Meski banyak pihak yang meragukan keabsahannya. Belum lagi kasus 6 laskar FPI yang berakhir pilu, saat mereka yang jadi korban mereka pula yang dinyatakan tersangka (Kompas.com, 09/03/2021). Sungguh ironis akhir kisah yang tertoreh jika yang menjadi korban adalah Muslim. Namun jika terkait aksi teror, saat pelakunya Muslim atau menunjukkan identitas Muslim, dengan tanggap semua barang bukti terkumpul, penangkapan dilakukan, dan kembali mengaitkan dengan kelompok Islam tertentu. 

Sungguh umat ini terus menerus menjadi sasaran opini teroris meski telah nyata ajarannya tidak satupun membenarkan aksi tersebut. Semoga kebenaran dan keadilan segera terungkap dan kedamaian terwujud terlebih menghadapi bulan suci Ramadhan yang tinggal menghitung hari.

"Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan." (Q.S Al.Maidah: 8).

Wallahul musta'an.[]


Oleh: Anita Nur Oktavianty
(Pemerhati Sosial)

Posting Komentar

0 Komentar