Ramadhan Bulan Meraih Takwa dan Kembali Fitrah


Sebentar lagi insya Allah kita akan bertemu dengan  bulan Ramadhan (bulan puasa) untuk menjalankan kewajiban sebagai seorang Muslim. Walaupun masih suasana wabah namun tidak mengurangi semangat untuk menyambut bulan suci ini. Bulan yang penuh berkah dan kemuliaan, bulan yang di dalamnya terdapat seribu bulan (lailatul qadar), bulan saat Al-Qur'an pertama kali diturunkan serta pahala amalan shaleh dilipatgandakan.

Bulan Ramadhan, Allah perintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk melaksanakan ibadah puasa agar kelak bisa meraih derajat takwa. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 183 yang berbunyi:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS Al-Baqarah ayat 183)

Ada dua hal yang terkandung dalam ayat ini yaitu: Pertama, seruan untuk melaksanakan ibadah puasa adalah orang-orang yang beriman. Kewajiban ini hanya Allah perintahkan bagi orang yang mengimani rukun iman yang enam (iman kepada Allah, malaikat, kitab, rasul, hari kiamat serta qadha dan qadar baik dan buruknya berasal dari Allah)

Iman menurut al-'allama Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitabnya 'Nizhamul Islam' dalam bab 'Thariqul Iman',  yaitu pembenaran yang bersifat pasti dengan dalil dan bukti. Karena keimanan harus diperoleh dengan jalan akal serta memuaskan akal yaitu dengan dalil-dalil yang qath'i (jelas dan pasti) baik qath'i tsubut (jelas dan pasti sumbernya) dan qath'i dilalah (jelas dan pasti penunjukan/maknanya), seperti yang terdapat dalam Al-Qur'an ayat muhkamat dan hadits mutawatir agar diperoleh keimanan yang kokoh yang tak tergoyahkan. 

Sebagaimana kisah Rasulullah dengan orang Arab Badui ketika dia ditanya bagaimana cara membuktikan akan adanya Allah Sang Maha Pencipta? Dia menjawab: "Adanya kotoran onta membuktikan adanya onta (yang telah melewati kota Madinah)". Dengan makna bahwa adanya alam semesta, manusia dan kehidupan ini berarti ada yang menciptakannya sekaligus mengaturnya.

Dan banyak lagi ayat-ayat Al-Qur'an yang berkenaan agar kita melakukan proses berfikir terkait memperoleh keimanan. Baik dengan melihat, merenung dan mentadaburi ciptaan-Nya sehingga diperoleh sebuah keimanan yang kokoh bagai karang yang tak goyah dihempas gelombang lautan. 

Mengapa harus orang yang beriman yang diseru untuk melaksanakan puasa? Dan mengapa perlunya memperoleh keimanan yang kokoh?

Karena iman kepada rukun iman merupakan kunci amalan diterima oleh Allah. Yaitu beriman kepada Allah dan rasul-Nya yang terdapat dalam rukun Islam yang pertama yaitu 'syahadatain', sehingga dengan telah membuktikan bahwa Allah adalah Sang Pencipta dan Muhammad Saw adalah Rasulullah dan yang dibawa Muhammad Saw yaitu Al-Qur'an sebagai wahyu yang telah Allah turunkan. Sehingga apapun yang disampaikan Allah melalui Al-Qur'an al-Karim dan hadis nabi baik terkait keimanan dan hukum syara' wajib untuk diterima sebagai konsekuensi keimanan kepada Allah SWT.

Karena orang yang tak beriman (kepada rukun iman) amalannya seperti debu yang diterbangkan angin (QS. al-Furqan ayat 23) atau seperti fatamorgana yang disangka air oleh orang-orang dahaga (QS. An-Nur ayat 34) dan lain-lain.

Dan juga karena keimanan yang diperoleh dengan jalan akal (proses berfikir) ini akan membuat kita mampu serta ikhlas menjalankan segala kewajiban, meninggalkan yang haram, mengoptimalkan yang sunnah, meminimalkan yang makruh serta memilih yang mubah yang bermanfaat dan meninggalkan yang tidak bermanfaat, karena sudah terbukti kuat bahwa perintah dan larangan ini berasal dari Sang Pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan. Yang pasti Sang Pencipta akan memberikan yang terbaik untuk ciptaan-Nya.

Dengan demikian keimanan yang diperoleh dari proses berfikir ini akan menciptakan keimanan yang kokoh kepada Allah yang telah menciptakan alam, manusia dan kehidupan ini dan iman kepada rukun iman dan rukun Islam lainnya dengan menjalankan semua perintah dan larangan-Nya yang terdapat dalam empat sumber hukum Islam yaitu Al-Qur'an, sunnah, ijma' sahabat dan qiyas.

Kedua, perintah puasa agar memperoleh derajat takwa. Takwa hanya bisa diperoleh oleh orang yang beriman. Takwa adalah takut kepada Allah berdasarkan kesadaran dengan mengerjakan segala perintah-Nya dan tidak melanggar dengan menjauhi segala larangan-Nya serta takut terjerumus dalam perbuatan dosa. Tidak akan bisa mencapai derajat takwa jikalau dia tidak beriman.

Selama Ramadhan orang-orang Muslim yang beriman menjalankan ibadah seperti puasa rela menahan haus dan lapar tanpa siapa pun mengetahuinya kecuali dia dan Allah saja. Serta mau terikat dengan hukum-hukum syara' (walaupun masih parsial) seperti menutup aurat, melaksanakan shalat sunnah (tarawih dan witir) berjamaah di masjid, membaca Al-Qur'an, bersedekah, meninggalkan perkataan-perkataan kotor dan lain-lain. Yang sebenarnya fitrah manusia itu memang terikat pada aturan-Nya.

Oleh karena itu setelah selesai bulan Ramadhan ini seharusnya menjadikan manusia kembali ke fitrah yaitu kebutuhan manusia kepada Sang Pencipta dengan kembali kepada aturan-Nya, sebagai makhluk ciptaan Allah yang lemah, terbatas dan serba kurang. Sehingga membutuhkan peraturan yang berasal dari yang Maha Kuat, Maha Sempurna dan Maha Mengetahui yang terbaik untuk hamba-Nya.

Namun sayangnya kebanyakan ibadah puasa yang dijalankan selama ini hanya berupa rutinitas tahunan belaka. Ketika Ramadhan ramai-ramai menutup aurat, tempat-tempat maksiat ditutup, masjid-masjid ramai membaca Al-Qur'an, Al-Qur'an dikhatamkan berkali-kali yang sebelumnya mungkin hanya setahun sekali dan bahkan hanya menjadi hiasan di lemari. Namun setelah melewati Ramadhan aktifitas tersebut hilang dan kembali seperti biasa.

Hal seperti inilah yang dikatakan sebagai sekularisme yaitu pemahaman yang memisahkan agama (Islam) dari kehidupan atau dipisahkan agama dari urusan politik. Taat hanya di bulan Ramadhan dan di tempat-tempat tertentu dan hanya berkaitan dengan urusan individu saja. Padahal Islam adalah agama yang sempurna. Agama yang tidak hanya mengurusi masalah akhirat saja tapi juga mengurusi urusan dunia (pergaulan, ekonomi, politik, pemeahaman, pendidikan dan lain-lain).

Jika saja di bulan Ramadhan kita bisa taat pada aturan-Nya, takut bermaksiat kepada-Nya, takut untuk membangkang perintah-Nya apalagi menentang serta memusuhi ajaran-Nya. Begitu pula seharusnya di bulan-bulan berikutnya.

Namun mirisnya kondisi sekarang akibat diterapkannya sistem demokrasi kapitalis sekuler di tengah-tengah kaum Muslimin semenjak keruntuhan institusi Islam (Daulah Khilafah Islamiyyah) terakhir di Turki Utsmani 100 tahun yang lalu, umat Islam tidak lagi menjadikan Islam sebagai peraturan hidup, tidak lagi menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman yang dengannya manusia menjalankan roda kehidupan.

Padahal tujuan dari penciptaan manusia tidak lain hanyalah untuk taat, tunduk dan patuh kepada-Nya. Sebagaimana firman Allah dalam surat adz-Dzariyat ayat 56:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

"Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah (taat, tunduk dan patuh) kepada-Ku." (TQS adz-Dzariyat ayat 56).

Jadi, tujuan penciptaan manusia hanyalah untuk taat, tunduk dan patuh hanya kepada Sang Pencipta bukan kepada yang lain. Apalagi manusia makhluk yang senantiasa banyak khilaf dan salah, punya banyak kekurangan dan keterbatasan, sehingga peraturan yang dibuatnya pun akan banyak terjadi kesimpangsiuran dan tidak bisa dijadikan sebagai penyelesai permasalahan (problem solving).

Oleh karena itu kembali kepada aturan Allah, taat, tunduk dan patuh merupakan fitrah diciptakannya manusia yang harus terwujud setelah melaksanakan ibadah puasa. "Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahanbahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (TQS Ar-Ruum: 30).

Oleh karena itu Ramadhan kali ini harus dijadikan momentum perubahan ke arah yang lebih baik, menjadi lebih taat dengan menerapkan syariat Islam secara kaffah dan tidak takut kepada siapa pun selain kepada Allah saja sebagai hasil dari penerapan sebulan puasa menjawab seruan Allah Dzat yang Maha Sempurna:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Artinya, “Wahai orang yang beriman, masuklah kamu semua ke dalam Islam secara kaffah (keseluruhan). Dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagi kalian.” (QS Al-Baqarah ayat 208).

Wallahu a'lam bishshawab.[]

Oleh: Fadhilah Fitri S.Pd.I
(Aktivis Dakwah)

Posting Komentar

0 Komentar