Prof. Suteki Menduga Ada Kepentingan Oligarki dalam Wacana Jabatan Presiden Tiga Periode



TintaSiyasi.com-- Pakar Hukum dan Guru Besar Universitas Diponegoro (Undip) Semarang Prof. Dr. Suteki S.H., M,Hum., menduga ada kepentingan oligarki dalam wacana jabatan presiden tiga periode.

"Saya menduga ini adalah kepentingan oligarki. Jadi, kepentingan orang yang di sekelilingnya itu, yang tidak ingin move on," ujarnya dalam Fokus Live: Tiga Periode Jabatan Presiden, Ada Apa? di Youtube Fokus Khilafah Channel, Ahad (28/3/2021).

Ia mengatakan, periode jabatan presiden, secara konstitusi mustahil untuk diubah. Menurutnya, jika diubah melalui amandemen Undang-Undang Dasar 1945, maka hukum akan berlaku retroaktif dan bertentangan dengan prinsip hukum modern. Periode jabatan presiden juga tak bisa diubah melalui Sidang Istimewa, sebab Sidang Istimewa hanya untuk meminta pertanggungjawaban presiden.

Prof. Suteki, sapaan akrabnya, menjelaskan, lamanya masa bakti presiden atau kekuasaan mana pun itu tidak penting, selama presiden atau penguasa mau memegang amanah konstitusi dengan baik. Di samping itu, presiden juga harus mempunyai roadmap dan milestone yang jelas, sehingga, muncul banyak inkonsistensi. Contoh inkonsistensi adalah kebijakan impor beras yang ditetapkan setelah presiden mengumumkan stok beras aman sampai bulan Juni 2021 dan menjelang panen raya.

Ia menambahkan, tidak ada gunanya periode jabatan presiden ditambah jika kebijakannya tidak sesuai dengan milestone yang ada. "Kalau misalnya kita punya milestone itu, meskipun presiden itu hanya sekali menjabat, atau dua kali menjabat, atau mungkin sampai lima kali menjabat, kalau tidak sesuai dengan milestone, ya for what?" tandasnya.

Ia menghimbau kepada masyarakat untuk belajar dari penetapan presiden seumur hidup melalui TAP MPRS nomor 3 tahun 1963 yang menimbulkan pengalaman buruk di masa lalu, agar masyarakat tidak mengikutinya.

Ia membantah argumen pihak yang pro terhadap usulan jabatan presiden 3 periode dengan dalih pandemi. Yakni, tidak etis jika para elit politik mencalonkan diri menjadi presiden pada tahun 2024 sedangkan rakyat masih menderita akibat dampak pandemi covid-19. 

Ia menyebut alasan itu mengada-ada sebab tidak ada jaminan bahwa jika presiden menjabat untuk ketiga kalinya akan bisa mengatasi persoalan dan dampak pandemi. Terlebih, presiden Jokowi sendiri pernah mengatakan tidak ingin menjabat presiden tiga periode.

"Jadi menurut saya itu ya, yang mengada-ada tadi," pungkasnya.[] Nurwati

Posting Komentar

0 Komentar