Peneliti Senior AEPI: Cengkraman Kekuasaan Kapitalisme tidak Produktif



TintaSiyasi.com-- Menanggapi persoalan keuangan di Indonesia dengan munculnya Lembaga Penjamain Investasi, Peneliti Senior Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Salamuddin Daeng mengatakan, kapitalisme yang menyusun kekuasan di Indonesia tidak produktif sama sekali.

“Kapitalisme yang menyusun kekuasan Indonesia sama sekali tidak produktif,” tuturnya dalam acara Insight ke-3 Pusat Kajian dan Analisis Data: Antara Markobar, LPI dan Korupsi, Rabu (24/03/2021) di kanal YouTube Pusat Kajian dan Analisis Data (PKAD).

Ia mengatakan, saat ini Indonesia bertahan hidup dengan mengandalkan proyek-proyek yang di danai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). “Proyek-proyek itu nanti dibangkrutkan, kemudian dapatlah dana talangan dari negara itu sudah dasar modus operasinya begitu kapitalisme Indonesia,” imbuhnya.

Ia mengungkapkan, jika saat ini Indonesia sekarat karena utangnya semakin besar tidak adanya produktivitas, hidup dari anggaran negara APBN, kemudian proyek-proyek dari anggaran APBN.

“Proyek-proyek APBN sendiri kan dibiayai oleh utang. Sementara produktivitas mereka sebetulnya enggak ada, akibatnya apa, bikinlah project-project yang tidak properly,” imbuhnya.

Ia memaparkan, jika pembentukan lembaga-lembaga yang ada sekarang ini bukanlah urusan productivity. “Produktivitasnya enggak ada, karena apapun uang yang dicari oleh Pak Jokowi utang semua itu,” tegasnya.

Ia menjelaskan, saat ini negara membuat sebuah lembaga yang diperuntukkan untuk menjamin investasi asing yang tidak berani berinvestasi secara langsung.  

“Melalui lembaga-lembaga keuangan yang dibikin oleh pemerintah dengan alasan state garansi, secara rinci katanya dengan alasan dijamin oleh negara di ujung-ujungnya merampok APBN,” tegasnya.

Ia mengungkapkan ada upaya kerja sama yakni apabila negara tidak mampu membayar kewajiban dan reability besar mengakibatkan perampokan dalam APBN. “Ujung-ujungnya mengambil uang negara. karena usaha mereka tidak produktif dan kongkalingkonglah dengan pejabat negara kita, saling memakan,” imbuhnya.

“Polanya itu dari dulu mainnya ya begitu-begitu saja, enggak pernah berubah. Buat poyek yang enggak masuk akal, enggak properly, ambisius, mercusuar, mengada-ada, annggaran tidak jelas, nanti ujung-ujungnya kan enggak produktif nih, ditalangi oleh negara,” pungkasnya. [] Sri Nova Sagita

Posting Komentar

0 Komentar