Pemerhati: Akar Masalah Keterpurukan Perempuan bukan Ketidakberdayaan Ekonomi



TintaSiyasi.com-- Menanggapi langkah dasar Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) dalam bidang ekonomi, Pemerhati Masalah Anak dan Keluarga Dra (Psi) Zulia Ilmawati mengatakan, akar permasalah dari keterpurukan perempuan bukan karena ketidak berdayaan dari sisi ekonomi.

"Akar masalah dari keterpurukan perempuan saat ini bukan dari ketidak berdayaan perempuan dari sisi ekonomi," tuturnya kepada TintaSiyasi.com, Senin (5/4/2021).

Ia menjelaskan, dalam sistem kapitalis dimana materi sebagai tolok ukur peran dan keberdayaan perempuan, menjadikan arah pemberdayaan perempuan difokuskan pada pemberdayaan ekonomi.

"Pemberdayaan perempuan semestinya selaras dengan peran utama perempuan sebagai ummun wa rabatul bait, ibu dan pengatur (manajer) dalam rumah tangga," imbuhnya. Ia mengungkapkan, sebenarnya pemberdayaan perempuan dalam bidang ekonomi akan memalingkan perempuan dari tugas utamanya.  

"Akar masalah dari keterpurukan perempuan saat ini bukan dari ketidak berdayaan perempuan dari sisi ekonomi," tegasnya.

Ia mengatakan, Islam telah memberikan aturan yang jelas kepada kaum perempuan untuk mengemban tanggung jawab kepemimpinan dalam rumah tangga, suaminya sekaligus menjadi pemimpin bagi anak-anaknya. “Setiap kalian adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya, seorang perempuan adalah pemimpin atas rumahtangga suaminya dan anak-anaknya yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya” (HR Bukhari-Muslim)

"Sebagai ibu, perempuan memegang peran penting dan strategis dalam mencetak generasi penerus umat," imbuhnya. 

Ia mengungkapkan, perempuan di dalam Islam memiliki peran yang penting dalam mendidik, mengarahkan, membimbing anak-anak dengan landasan akidah yang kuat, hingga akan lahir generasi yang taat pada syariat.

"Sebagai manajer rumah, perempuan berperan penting menjadikan rumah penuh dengan ketenangan, kedamaian dan kenyamanan bagi penghuninya. Baiti janati kata Nabi, rumahku surgaku," bebernya.

Lebih lanjut ia mengatakan, perempuan bagian dari masyarakat, oleh karenanya memiliki peran untuk kebaikan masyarakat yang harus dimainkan. "Islam telah memberikan ruang bagi perempuan untuk berkiprah di dalam aktivitas yang terkait dengan perannya sebagai bagian dari anggota masyarakat," imbuhnya.

Ia memaparkan, Islam membolehkan perempuan untuk terlibat dalam aktivitas muamalah, dan aktivitas dakwah (amar makruf nahi mungkar), memperhatikan urusan umat yang hukumnya memang wajib.

"Inilah arah pemberdayaan perempuan dalam pandangan Islam. Pemberdayaan seperti ini hanya akan dapat dilaksanakan ketika Islam diterapkan secara kafah," pungkasnya [] Alfia Purwanti

Posting Komentar

0 Komentar