Pemberdayaan Ekonomi Perempuan, Ustazah Iffah: Salah Kaprah, Perlakukan Perempuan sebagai Aset Ekonomi



TintaSiyasi.com-- Menanggapi pernyataan, ekonomi merupakan langkah dasar untuk pemberdayaan diri perempuan yang diucapkan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Bintang Puspayoga, Aktivis Muslimah Ustazah Iffah Ainur Rochmah menuturkan, hal itu pernyataan salah kaprah (misleading), karena memperlakukan perempuan sebagai aset ekonomi belaka.

"Ini juga pernyataan yang misleading ya, pernyataan yang bisa salah kaprah bagi arah pemberdayaan perempuan. Inilah cara pandang kapitalistik yang memperlakukan perempuan sebagai aset ekonomi belaka," ujar Ustazah Iffah, sapaan akrabnya, kepada TintaSiyasi.com, Selasa (30/3/2021) 

"Padahal, semestinya perempuan tidak dinilai dari kontribusi ekonominya karenanya dasar pemberdayaan perempuan meskinya bukan ekonomi," imbuhnya.

Menurutnya, hal itu sebuah perspektif yang makin menggambarkan pemikiran kapitalistik pada diri sang menteri atau bahkan pada keseluruhan stakeholder pemangku kepentingan negeri ini terhadap perempuan.

"Jadi perempuan itu dinilai partisipasinya, kontribusinya, dan perannya dalam kehidupan masyarakat maupun bernegara dari ukuran-ukuran materialistik," ujarnya. 

Dalam pandangan kapitalistik, ia jelaskan, perempuan yang berkontribusi secara ekonomi, yakni bisa menghasilkan pemasukan secara ekonomi bagi keluarganya akan berdampak pada ekonomi bangsa. Karena dengan itu, maka perempuan tersebut setidaknya bisa menyumbang pajak atau kemudian secara komulatif bisa meningkatkan jumlah pemasukan atau pendapatan negara. 

Menurutnya, kalau dinyatakan dengan berdaya secara ekonomi, perempuan akan punya posisi tawar yang lebih baik. Kemudian, bisa lepas dari problem kekerasan dan menentukan masa depannya sendiri. "Nah, ini lahirnya adalah dari cara pandang sekuler kapitalistik tadi," tegasnya. 

"Jadi, kalau perempuan itu berdaya secara ekonomi itu, kita sudah bisa melihat bahwa hari ini banyak sekali atau data menyebutkan banyak sekali perempuan-perempuan yang lebih mapan secara ekonomi berkorelasi positif dengan kehancuran keluarganya," bebernya. 

Misalnya, ia ambil data dari Badan Peradilan Agama (Badilag), dinyatakan, perceraian meningkat dan angka yang signifikan adalah gugat cerai dengan latar belakang penggugat dari kalangan-kalangan terpelajar. "Bahkan ada yang menyebut secara khusus bahwa sejak adanya sertifikasi guru, berarti secara ekonomi semakin meningkat (gaji yang didapat guru), ternyata berkorelasi semakin banyaknya angka perceraian," jelasnya. 

Menurutnya, hal itu adalah sebuah bukti enggak ada jaminan. Bahkan, menyalahi realita berdaya secara ekonomi akan membawa kondisi lebih baik bagi perempuan. "Justru kemudian ada data yang menyebut kehidupan keluarganya ada keretakan," tambahnya. 

Kemudian, ia sampaikan, pernyataan terkait pemberdayaan perempuan dapat terhindar dari kekerasan, juga salah kaprah. "Kekerasan yang dialami oleh perempuan ini akibat apa? Akibat cara pandang yang salah terhadap perempuan," ungkapnya.

Menurutnya, kekerasan seksual karena cara pandang yang salah terhadap perempuan baik oleh individu, sebuah masyarakat, atau bangsa. "Misalnya, banyak kekerasan terhadap perempuan. Kenapa? Karena perempuan memang didorong untuk bebas ditempatkan sebagai komoditas," paparnya.

"Maka banyak sekali perempuan-perempuan membuka aurat di tempat-tempat umum, perempuan menjadi bintang iklan atau berbagai produk. Mempertontonkan auratnya dan seterusnya," imbuhnya. 

Menurutnya, akibat cara berpikir masyarakat terhadap perempuan sebagai objek seksual. "Maka, cara pandang atau pikiran yang salah inilah muncul banyak sekali kekerasan. Termasuk kekerasan di dalam rumah tangga, itu juga kita dapati, karena cara pandang yang salah," jelasnya.

Ia mengatakan, karena tidak memiliki ketaatan pada agama dalam memandang persoalan, apalagi tidak paham bagaimana aturan agama dalam memperlakukan perempuan. "Maka, terjadi banyak kekerasan, jadi salah kaprah kalau dikatakan perberdayaan ekonomi akan mengentaskan perempuan atau menyelesaikan problem kekerasan pada perempuan," tegasnya lagi.


Cara Pandang Islam

Ia memaparkan, yang bisa menyelesaikan problem-problem tersebut adalah cara pandang yang benar, yaitu, sesuai dengan tuntunan Islam, pemberlakuan syariat Islam secara total dalam kehidupan keluarga, masyarakat, maupun dalam berbangsa dam bernegara. 

"Jadi, kalau syariat Islam diterapkan secara kafah, perempuan tidak akan dieksploitasi, perempuan juga tidak perlu didorong-dorong untuk menambah bebannya dengan aktivitas ekonomi yang mungkin ia tidak sanggup mengerjakannya," paparnya. 

Karena ia melihat, dalam cara pandang kapitalistik, perempuan dieksploitasi dengan alasan menolong keluarga atau pun mendongkrak ekonomi bangsa. Tetapi, dengan pemberlakuan Islam secara kafah, maka kehidupan ekonomi dan sosial akan membaik.

"Tentu saja problem-problem perempuan bisa dieliminir sedemikian rupa. Jadi, kita sekarang bukan butuh pemberdayaan ekonomi perempuan sebagai basis pemberdayaan bagi perempuan, tapi kita hari ini, kaum perempuan membutuhkan berlakunya seluruh syariat pada seluruh seluruh aspek kehidupan," bebernya.

Menurutnya, perspektif yang benar tentang apa atau bagaimana Sang Pencipta menempatkan perempuan di dalam kehidupan keluarga maupun masyarakat. Yaitu, perempuan sebagai ibu bagi generasi. "Perempuan itu adalah sebagai bagian dari aktor penting dalam mencetak generasi unggul yang akan berpengaruh besar terhadap masa depan sebuah bangsa," paparnya.

"Baiknya perempuan, yakni baiknya dalam pemahaman terhadap agama, baiknya dalam pengelolaan terhadap rumah tangga, maupun dalam pendidikan terhadap anak," tambahnya.

Menurutnya, hal itu akan berpengaruh terhadap baiknya masa depan bangsa, karena kontribusi perempuan yang benar. "Dan sebaliknya buruknya perempuan dalam perannya dalam keluarga , perannya dalam mendidik generasi itu juga akan berpengaruh terhadap masa depan suatu bangsa," tandasnya.[] Sri Astuti


Posting Komentar

0 Komentar