Mengkambinghitamkan Islam

Bom gereja kembali terjadi, tepatnya berada di gereja Katedral, Makassar, Sulawesi Selatan hari Minggu (28/03/2021) pagi. Korban akibat ledakan bom yang terjadi berjumlah 14 orang. Namun menurut Kapolda Sulawesi Selatan, korban mengalami peningkatan (28/03/2021, PikirRakyat.com).

Berbagai opini tersebar di masyarakat bahwa pelaku berpaham radikal, ingin menegakkan khilafah, Islam fundamental dan sebagainya. Muhammadiyah telah mengimbau agar kejadian bom yang meledak tidak dikaitkan dengan agama atau golongan umat beragama tertentu (Kompas.com, 28/03/2021).

Isu terorisme pertama kali digaungkan pada peristiwa WTC (11/09/2001) di Amerika Serikat. Peristiwa tersebut membuat berbagai negara mengopinikan dengan bantuan media “perang melawan terorisme”. Selain itu, isu terorisme dikaitkan dengan suatu agama yakni agama Islam.

Awal peristiwa peledakan bom di Indonesia terjadi di Bali 2002 hingga bom gereja Katedral Makassar. Rentetan peristiwa tersebut menandakan bahwa ini peristiwa serius. Namun mengapa belum diusut tuntas. Apakah ada maksud tertentu dari peristiwa ini? 

Bergulirnya narasi jihad menjadi alasan untuk melakukan pengeboman, padahal makna jihad itu sendiri untuk menyebarkan ajaran agama Islam. Hukum jihad dalam bentuk ofensif pun haram jika tidak dilakukan pada sistem pemerintahan Islam (khilafah), sebab seruan jihad hanya dikeluarkan oleh khalifah. Sehingga tujuan jihad yang dilakukan saat ini sangat salah, sebab sistem pemerintah sekarang adalah sistem kapitalisme.

Dengan adanya peristiwa pengeboman, isu Islam radikal gencar diopinikan. Islam radikal ditujukan kepada orang-orang yang berdakwah Islam kaffah, bercadar, celana cingkrang, berjenggot, orang-orang yang mulai belajar Islam. Pengopinian ini, mengakibatkan orang-orang takut mengenal agamanya sendiri dan takut belajar Islam.

Penggiringan opini yang dilakukan para buzzer, yang mengatakan pengeboman akibat paham Islam radikal menjadi persoalan. Seolah-olah Islam sumber kekerasan. Mereka mengkambinghitamkan Islam, agar paham sekularisme semakin berkembang dan umat Muslim mulai abai terhadap agamanya sendiri.

Islam tidak mengajarkan kekerasan, begitupun bunuh diri dan melukai orang lain. Allah telah berfirman sebagai berikut: “Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.” (QS. Al-Maidah: 32).

Islam mengajarkan untuk amar ma’ruf nahi mungkar dengan cara yang baik. Seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Dalam perang (jihad) pun Rasulullah Saw melarang untuk membunuh wanita-wanita, anak-anak, merusak rumah ibadah agama lain dan menebang pohon-pohon. Bagaimana mungkin yang saat ini terjadi, makna jihad yang dipertontonkan adalah bunuh diri, merusak rumah ibadah agama lain dan melukai orang lain. Ini bukan ajaran Islam, jihad yang bermakna tersebut telah melenceng dari ajaran syariat dan Rasulullah Saw. 

Allah pun berfirman: “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari mungkar, dan beriman kepada Allah…” (QS. Ali Imran: 110).

Jika ingin mengetahui teroris yang sebenarnya, maka ditujukan kepada Israel dan sekutunya. Israel telah membunuh jutaan Muslim yang ada di Palestina. Mereka mengebombardir rumah-rumah sipil, mengambil tanah-tanah masyarakat Palestina, membunuh tanpa melihat usia dan sebagainya.

Bukan hanya di Palestina tetapi juga di Suriah, Afganistan, Rohingya dan sebagainya pun terjadi. Mengapa mereka tidak dikaitkan dengan terorisme, padahal mereka membunuh jutaan manusia. Apakah kata terorisme hanya ditujukan kepada orang yang dikatakan ‘orang Islam’ dan mengatasnamakam jihad?

Penyudutan kata terorisme yang ditujukan kepada orang-orang Islam, bertujuan untuk menghambat terjadinya kebangkitan Islam. Sebab, mereka tahu bahwa fase kelima yakni kebangkitan kembali khilafah akan terjadi. Sehingga berbagai upaya dilakukan untuk menghambat kebangkitan tersebut tentu dengan menghadirkan narasi yang menyudutkan Islam dan mengkambinghitamkan Islam melalui tindakan kekerasan.

Sebagai umat Islam harus menyakini bahwa Islam adalah agama Rahmatan Lil Alamin. Bukan agama kekerasan. Jangan takut terhadap agamamu sendiri. Kenalilah agamamu dengan belajar Islam secara kaffah. Dengan begitu, kamu akan tahu makar-makar yang dilakukan orang-orang kafir untuk menghambat kebangkitan Islam.[]

Oleh: Nur Ana Sofirotun

Posting Komentar

0 Komentar