KPI Melarang Tayangan Vulgar di Bulan Ramadhan, Cukupkah?


Tak terasa, hari yang dinantikan umat Islam khususnya di Indonesia tinggal menghitung beberapa hari lagi. Tidak hanya masyarakat saja yang menantikan momen Ramadhan ini, pemerintah Indonesia selaku  stake holder di negeri bermayoritaskan Muslim pun demikian. Biasanya di momen tertentu terdapat beberapa kebijakan khusus yang digulirkan, tak terkecuali di momen Ramadhan. Semisal pada Ramadhan di tahun 2020 terdapat imbauan pemerintah dalam melaksanakan ibadah tarawih di rumah dikarenakan pandemi Covid-19. 

Demikian dengan Ramadhan tahun ini, salah satunya adalah pengaturan tayangan di media TV. Tercantum dalam Surat Edaran KPI/2/2021 berdasarkan keputusan pleno 16 Maret 2021, KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) melarang televisi menayangkan adegan berpelukan hingga yang mengandung unsur lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT). Setidaknya terdapat 14 poin aturan yang diajukan KPI kepada lembaga penyiaran. Beberapa diantaranya, melarang menampilkan gerakan tubuh yang berasosiasi erotis, sensual dan cabul. Begitu juga ungkapan-ungkapan dan makian bermakna cabul dan agama lain. Adapun kebijakan tersebut bertujuan untuk membantu menjaga kekhusyukan masyarakat dalam menunaikan ibadah puasa (Tirtoid, 20/3/2021).

Upaya yang diambil oleh KPI tersebut patut diapresiasi oleh masyarakat Muslim Indonesia dalam melakukan pengawasan dan kontrol terhadap media sepanjang Ramadhan. Langkah tersebut menandakan bahwa masih terdapat usaha guna mencegah kemaksiatan dan menjaga kesucian bulan Ramadhan. Namun kebijakan tersebut disayangkan bila hanya digulirkan selama Ramadhan saja. Padahal selain di momen Ramadhan, tepatnya 11 bulan masyarakat Muslim tetap menjalankan ibadah. Tak ada perbedaan dan pengecualian. 

Adanya kebijakan yang dikhususkan pada momen tertentu saja menandakan bahwa negeri dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia ini masih terikat dengan nilai-nilai sekularismenya, yakni memisahkan agama dari kehidupan umum. Seolah-olah larangan bermaksiat hanya berlaku di bulan Ramadhan. Sekularisme mengharuskan individu Muslim menjalankan nilai-nilai agama dalam segi ibadah ritual saja, tidak dengan aturan dalam bersosial, pendidikan, ekonomi, politik dan sebagainya. Terlebih lagi jika hanya dikhususkan di momen tertentu saja, semisal Ramadhan, musim haji dan sebagainya.

Padahal kewajiban dalam menjalankan syariat tidak mengenal momen tertentu melainkan sepanjang waktu, yakni sejak seorang Muslim baligh hingga akhir hayatnya. Hanya saja pada momen yang spesial ini, Allah SWT memberikan pahala yang berlipat dibanding selain di bulan suci ini. Artinya, pengawasan Allah terhadap hambanya tidak pernah alpha di luar bulan Ramadhan.

Selain mengakibatkan ketakwaan yang tidak sempurna, nilai-nilai sekularisme juga telah nyata merusak pemikiran masyarakat Muslim kita. Dengan menyempitkan makna agama hanya pada ibadah ritual semata menjadikan masyarakat kita merasa aman dalam melakukan kemaksiatan selain di bulan Ramadhan. Maka ketika kemaksiatan telah merajalela, terjadilah berbagai kerusakan. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surat Thaha ayat 124: “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta”. Naudzubillah.

Adanya kerusakan pada masyarakat tentu tak dapat dilepaskan dari kebijakan yang ditelurkan oleh negara karena memang demikian besar lah peran negara dalam membentuk kebaikan dan ketakwaan masyarakat. Pun demikian sebaliknya. Tujuan utama dalam menjalankan ibadah puasa adalah menjadi hamba yang lebih bertakwa. Namun ketakwaan tersebut tidak akan terwujud tanpa adanya peran sentral negara. 

Dalam khilafah, khalifah bertanggung jawab menjaga keimanan masyarakatnya dengan membuat kebijakan-kebijakan yang selaras dengan tujuannya. Kebijakan tersebut tentu tidak mengenal bulan atau momen tertentu saja melainkan sepanjang waktu. Dengan kebijakan yang diterapkan secara sempurna dan sepanjang waktu  jelas akan melahirkan masyarakat yang betakwa dan takut akan melakukan segala jenis kemungkaran yang dapat mengakibatkan kerusakan. Wallahu a’lam bishshawab.[]

Oleh: Alfiana Norsha Audina S., S.Pd. (Pengajar)

Posting Komentar

0 Komentar