Jurnalis: Iringi Semangat Membara dengan Karya Cetar Membahana


TintaSiyasi.com-- Jurnalis Topswara.com, Puspita Satyawati berpesan kepada penulis opini Islam, agar mengiringi semangat yang membara dengan terus belajar demi menghasilkan karya cetar membahana. 

"Alangkah indahnya jika semangat penulis yang membara ini, diiringi kesungguhan belajar teknik menulis sehingga menghasilkan karya cetar membahana. Yaitu tulisan enak dibaca dan mudah dicerna," pesannya dalam Tinta Intens 5 bertajuk Membongkar 10 'Dosa' Penulis Opini, yang digelar TintaSiyasi.com, Ahad (4/4/2021). 

Puspita yang juga fasilitator di Kelas Jurnalistik Dakwah ini menyampaikan, penulis opini Islam memiliki dua bentuk pertanggungjawaban. Baik secara vertikal maupun horizontal. 

"Secara vertikal, dia bertanggung jawab kepada Allah. Maka luruskan niat, fillah, lillah.  Pastikan tulisan mengangkat fakta benar dan bahas dengan mengedepankan kebenaran ajaran-Nya," ungkapnya. 

Adapun secara horizontal, ia menambahkan, penulis bertanggung jawab di hadapan publik. Karena tulisannya akan dibaca oleh orang banyak. Bahkan bagi penulis ideologis, targetnya tak sekadar dibaca, namun juga dimengerti, diterima, hingga gagasan Islam didukung dalam penerapannya. 

"Inilah fungsi strategis penulis opini Islam. Ia berperan penting dalam membangun opini publik Islam berikut dukungan publik terhadap perjuangan Islam. Sehingga menjadi penulis ideologis itu luar biasa," tegasnya.

Maka menurutnya, tak cukup berbekal semangat, penulis opini Islam mesti maksimal menghadirkan karya tulis terbaik. 

"Jangan sampai kita telah memiliki gagasan cemerlang, konten keren, namun cara menuliskannya kurang baik alias acakadut tak karuan. Ini akan mengurangi kredibilitas penulis dan membuat pembaca enggan menyelami pemikiran kita," jelasnya.  

Ia menilai, menjadi keniscayaan bagi penulis untuk belajar teknik menulis yang baik. Meskipun ini perkara mubah/boleh, namun saat meniatkannya sebagai upaya agar gagasan Islam mudah dipahami publik dan memudahkan media menayangkannya, tentu di situ ada keutamaan dan kebaikan yang diraih. 

Selanjutnya, ia membeberkan sepuluh "dosa" penulis opini yang sering ia temui saat mengoreksi tulisan yang masuk ke medianya. 

"Setidaknya ada sepuluh hal yang masih diabaikan khususnya oleh penulis pemula. Yaitu: menulis tanpa perencanaan, tulisan kurang proporsional antara pengantar dan pembahasan, terjadi jumping conclusion, pembahasan kurang utuh dari awal hingga akhir, abai terhadap PUEBI, boros kata, kalimat terlalu panjang, kata diulang-ulang, Ratu Copas, dan lupa memberikan kalimat penguatan atau penekanan di penutup," jelasnya. 

Ia pun menutup sesi materinya dengan sebuah closing statement. 

"Jika Anda merasa hari ini dalam suasana perang pemikiran, dan Anda adalah salah satu pasukannya, tentu Anda tak akan pernah membiarkan lawan terus menyerang. Maka, tak ada pilihan lain. Menangkan pertempuran ini. Tinggikan opini Islam di atas opini lainnya. Tuliskan karya opini terbaik demi tegaknya kalimat ilahi. Allahu akbar!" pungkasnya.[] Anita Puspasari

Posting Komentar

0 Komentar