Jurnalis Ini Ungkap Sepuluh 'Dosa' Penulis Opini




TintaSiyasi.com-- Pemimpin Redaksi (Pemred) TintaSiyasi.com, Jurnalis Topswara.com Ika Mawarningtyas S.Pd., mengungkapkan sepuluh 'dosa' yang sering menghinggapi para penulis opini. 

“Sekarang kita akan masuk untuk membongkar, mengupas, menguliti, ya, 10 dosa penulis opini,” ungkapnya dalam diskusi online Tinta Intens ke-5: Membongkar 10 'Dosa' Penulis Opini, Ahad (04/04/2021).

Kak Rose, sapaan akrabnya, menjelaskan, di antara 10 dosa penulis opini tersebut di antaranya, pertama, menunda-nunda. Menurutnya, ketika seseorang terjun di kancah kepenulisan politik Islam, artinya ia mengkritisi peristiwa yang sendang terjadi. Jika penulis menunda-nunda, maka hal yang dikritisi itu akan out of the date. 

“Ketika kita terlalu banyak menunda-nunda, akhirnya yang kita kritisi itu out of the date, akan kedaluarsa, menjadi basi, begitu. Makanya, kita jangan menunda-nunda,” ujar Kak Rose.

Ia menghimbau, agar para penulis tidak menunda-nunda jika akan memulis dan perlu mengingat ajal. “Kita enggak tahu, apakah ini karya saya akan berlanjut. Atau jangan-jangan ini karya terakhir saya? Kita enggak tahu. Kita senantiasa minta kepada Allah SWT agar kita ketika menemui ajal itu husnul khatimah dan karya-karya yang kita sumbangkan itu mencerahkan umat,” ungkapnya.

Kedua, semangat yang naik turun. “Selanjutnya, dosa yang kedua, dosa dalam tanda petik, ya, adalah semangatnya naik turun. Semangatnya kayak roller coaster,” ujarnya.

Untuk mengatasi hal itu, ia mengingatkan akan situasi dunia saat ini yang dipenuhi opini-opini yang bertentangan dengan Islam, bahkan menyesatkan. Karena itu, menurutnya, penulis perlu mengingat bahwa orang-orang yang mengajak kepada kemungkaran pun rela tidak tidur demi menyesatkan manusia. 

"Mereka yang amar mungkar nahi makruf aja sampai tidak tidur demi menyesatkan manusia. Lah, kita ini bagian yang menulis opini Islam, kok kita semangatnya naik turun?" tanyanya. 

Ketiga, malas. Yakni malas membaca, menulis, bergerak. Untuk mengatasi hal itu, ia menghimbau agar penulis menempatkan rasa malas sebagai musuh, sehingga timbul dorongan dalam diri untuk memeranginya. 

Keempat, nyinyir saja, tidak konstruktif. Padahal menurutnya, ibarat bangunan, penulis opini mesti merobohkan bangunan yang rusak lalu membangun kembali dengan bangunan baru yang benar dan kokoh. 

"Karena kalau kritik saja, nyinyir doang, itu memang cepat viral. Tetapi, karena kita adalah penilis opini Islam yang ideologis, selain membongkar opini yang salah, yang bertentangan dengan Islam, kita juga harus membangun opini yang benar sesuai dengan Islam. Inilah yang dimaksud kritik yang konstruktif tadi," terangnya. 

Kelima, kurang memperhatikan adab jurnalistik. Menurutnya, penulis yang beradab mesti mencantumkan sumber, ketika mengutip pendapat tokoh, ulama atau penulis lain. 

Keenam, ceroboh. Yaitu cepat respons namun tidak tepat, mengikuti sesuatu yang ternyata hanya hoaks. "Kalau ini kan berbahaya. Sebagai muslim kan tidak boleh berbohong. Apalagi kita penulis, kita tidak boleh berbohong. Jangan sampai kita itu mengkritisi suatu berita yang ternyata itu hoaks. Jadi, kita harus benar-benar meastikan bahwa kejadian itu bukan hoaks," bebernya. 

Ketujuh, kurang percaya diri. Ia mengatakam hal itu terjadi, karena penulis kurang menguasai topik yang dibahas, muncul dugaan-dugaan dan kurang tsaqofah. Hal itu menurutnya bisa diatasi dengan banyak belajar dan berlatih. 

"Kita harus menyadari, tidak ada orang yang tiba-tiba sukses. Makanya kita harus belajar dan berlatih. Meningkatkan kembali tsaqofah Islam," ujarnya. 

Kedelapan, sombong. Ia mengingatkan bahwa sebagai penulis, tidak boleh sombong. Menurutnya, tulisan itu viral karena Allah telah menggerakkan hati netizen untuk menyebarkannya. Sebuah tulisan dimuat media karena Allah telah menggerakkan hati redakturnya. 

"Sombong itu tidak akan pernah mendatangkan keuntungan. Justru akan mendatangkan kerugian. Sombong itu aplikasinya itu juga bisa berupa menolak kritikan, menolak masukan, menolak nasihat," pesannya. 

Kesembilan, mudah putus asa dan kurang sabar. Ia menerangkan, jika tulisan banyak mendapat koreksi, penulis mesti bersabar dan introspeksi dan berubah. Ia menambahkan, rasa kecewa itu adalah fitrah, tetapi penulis tak boleh larut dalam kekecewaan karena tidak ada kesuksesan yang instan. 

"Ketika mendapatkan kritikan, kita harus muhasabah dan mau berubah," imbuhnya. 

Kesepuluh, penulis tidak mau meng-upgrade diri. Ia mengingatkan pada sebuah hadits yang menyatakan bahwa usia seseorang yang dihabiskan untuk menuntut ilmu Islam, bagaikan satu tetes air di ujung jari yang dicelupkan ke laut. 

"Ilmu kita hanya bagaikan satu tetes air di ujung jari dibandingkan air laut. Jadi, kita itu harus haus ilmu, harus meng-upgrade diri," pungkasnya. [] Saptaningtyas

Posting Komentar

0 Komentar