Jurnalis Ini Ungkap Pentingnya Paham PUEBI dalam Menulis



TintaSiyasi.com-- Jurnalis Joko Prasetyo ungkap pentingnya memahami Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) bagi para penulis, yaitu, untuk meningkatkan kredibilitas.

“Jadi, kita semua paham perlunya PUEBI untuk memudahkan kita semua. Ada satu lagi selain untuk memudahkan, yaitu meningkatkan kredibilitas,” jelasnya pada acara Pelatihan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI), Kamis (01/04/2021) di Zoom Meeting

Ia mengatakan, secara pragmatis, pedoman PUEBI bagi para penulis, baik berita atau opini, itu tujuannya adalah untuk memudahkan atau tidak memusingkan editor dalam mengedit tulisan.

"Itu poin penting kenapa kita berkumpul berada di sini mempelajari PUEBI. Poin pentingnya lagi adalah, sebenarnya hanya satu tadi yaitu mempermudah editor, dipahami pembaca, dalam konteks Indonesia adalah bahasa Indonesia bahasa pemersatunya," jelasnya.

Oleh karena itu, menurutnya, para penulis, baik berita atau pun opini mestilah mempelajari dengan baik terkait Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI), karena ada banyak hal tentang kepenulisan yang harus dihafal di luar kepala.

"Bayangkan kalau misalnya seperti tulisan tidak sesuai kaidah PUEBI ditulis dan dikirim ke media. Tanggapan Mbak Ika sebagai editor, tulisannya besar semua. Kredibel enggak orangnya? Semacam itu. Hal ini juga meningkatkan kredibilitas medianya. Kredibilitas media bisa juga jatuh karena tulisannya tidak sesuai PUEBI," ujarnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan, menulis hukumnya mubah, termasuk juga dalam masalah berbahasa Indonesia. Tetapi, menurutnya, bisa jadi ada hal-hal yang sifatnya mubah menjadi berpahala, bila dalam mengerjakannya diniatkan untuk dakwah dan mempermudah. 

"Bila diniatkan ini untuk mempermudah dakwah, agar pembaca lebih paham,  untuk memudahkan editor agar tidak berat dalam mengedit, itu semua kita Insyaallah mendapatkan pahala dari Allah SWT. Sehingga pekerjaan kita tidak sia-sia," tuturnya.

Menurutnya, dalam menulis, kesalahan tata bahasa tidak membuat penulis otomatis berdosa. Tetapi, mungkin dalam hal tertentu bisa berdosa, bila dalam maknanya terkait yang haram. 

"Kita berkumpul di sini karena ingin berdakwah. Ingin menjadikan menulis sebagai uslub dakwah. Niatnya harus begitu. Kalau enggak begitu kita rugi bandar. Sudahlah enggak ada yang bayar, ngapain kita susah-susah berkumpul di sini. Tapi, kalau memang ini kita dari awal niatkan sebagai uslub dakwah, insyaallah itu berpahala," pungkasnya.[] Reni Tri Yuli Setiawati

Posting Komentar

0 Komentar