Jejak Khilafah di Nusantara, Sejarawan Muslim: Tidak bisa Dipungkiri dan Diperdebatkan


TintaSiyasi.com-- Menanggapi jejak khilafah di Nusantara, Sejarawan Muslim Septian AW mengatakan, jejak khilafah sesuatu yang tidak bisa dipungkiri dan diperdebatkan.

“Relasi jejak dari khilafah di Nusantara itu merupakan sesuatu yang sudah tidak bisa dipungkiri lagi, sudah sesuatu yang tidak bisa di debatkan,” ungkapnya dalam acara Kabar Malam: Ada Jejak Khilafah dari Makam-makam Kuno di Nusantara, Sabtu (27/3/2021), di kanal YouTube News Khilafah Channel.

Menurutnya, hal yang tidak perlu diperdebatkan yakni ada atau tidaknya hubungan khilafah di Nusantara. "Melainkan sejauh mana bukti, hubungan, peninggalan dan pengaruh khilafah di Nusantara," imbuhnya.

Ia mengatakan, dengan adanya beberapa bukti peninggalan makam menandakan adanya pengaruh kekhilafahan di Nusantara.

"Hubungan khilafah dan Nusantara dibuktikan oleh makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik," ujarnya. Ia mengungkapkan, menurut para sejarawan sejak abad 15 Masehi makam tersebut sudah ada bisa dilihat dari khat kufi dan istilah tulisannya. Makam ini menandakan pengaruh wilayah Timur Tengah yang notabene merupakan wilayah dari Kekhilafahan Utsmani.

"Kemudian pada abad ke13 Masehi di daerah Pasai Aceh Utara," imbuhnya. Ia menyebutkan, terdapat makam Malikul Shaleh yang sangat kental dengan kebudayaan Islam, baik dari khat maupun teks dalam kalimat batu nisannya.

“Ini kan menandakan bahwasannya ada pengaruh khilafah disana meskipun mungkin tidak erat,” tuturnya.

Pengaruh khilafah ini, menurutnya, dibuktikan adanya makam Tengku di Bitay yang terdiri dari ulama, guru, prajurit, teknisi perang yang dikirimkan Kekhilafahan Utsmani sekitar 480 tahun lalu. "Sebagai sokongan atau bantuan terhadap kerajaan Aceh Darussalam untuk melawan penjajah Portugis," bebernya.

Lebih lanjut ia mengungkapkan, terdapat makam perkumpulan para pasukan tantara Turki yang dikirim oleh Kekhilafahan Utsmani sekitar tahun 1662 oleh Sultan Sulaiman Al-Qonuni (Sultan Selim I) untuk melawan pengaruh Portugis di Selat Malaka.

Nah, prajurit-prajurit ini yang kemudian datang untuk membantu Aceh yang dia tidak kembali lagi ke Turki sampai wafatnya di Aceh, dan Kemudian di makamkan di daerah tadi yang menjadi cagar budaya Tengku di Bitay tadi,” pungkasnya.[] Aprilia Soga

Posting Komentar

0 Komentar