Islam Kaffah Melindungi Pemuda Peradaban Bangsa


Kasus Prostitusi Online Melibatkan Anak di Bawah Umur

Baru-baru ini kasus prostitusi online kembali dilaporkan. Kali ini isu tentang aktivitas prostitusi di Hotel Alona, Tangerang, Banten milik salah seorang artis (Cynthiara Alona) telah memicu amarah warga setempat. Menurut CNN Indonesia, pihak kepolisian telah melakukan penggrebekan kasus prostitusi online di Hotel Alona pada 18 Maret 2021. Mirisnya, kasus kali ini melibatkan 15 anak di bawah umur dengan kisaran usia 14 hingga 16 tahun. 

Hasil penyelidikan melaporkan bahwa motif prostitusi online ini merupakan dampak dari sepinya pengunjung akibat pandemi Covid-19 sehingga pihak hotel menerima kasus-kasus perbuatan cabul untuk memastikan operasional hotel tetap berjalan. Recruitment calon pekerja seks diperoleh melalui yayasan penyalur pembantu maupun modus penipuan lainnya kemudian dijual lewat aplikasi chat. Berdasarkan laporan tersebut, seluruh pelaku dijerat dengan UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan atau Pasal 296 KUHP dan atau Pasal 506 KUHP dengan ancaman pidana maksimal 10 tahun penjara.


Kasus Prostitusi Online Bukan Masalah Baru di Indonesia

Meskipun aktivitas prostitusi mendapatkan penolakan dan kemarahan dari masyarakat karena dinilai sebagai perbuatan yang melanggar nilai dan norma masyarakat. Akan tetapi, pada faktanya praktik kemaksiatan tetap marak terjadi. Parahnya lagi, anak-anak di bawah umur pun tidak lepas dari kemungkinan terjerumus pada aktivitas perzinaan tersebut. Padahal mereka adalah para pengemban masa depan bangsa ini sehingga wajib mendapatkan perhatian khusus oleh seluruh pihak termasuk negara. 

Rasulullah Saw sangat menyoroti peran para pemuda sebagai tonggak peradaban bangsa sehingga wajib memperlakukan dan memenuhi kebutuhan mereka demi mewujudkan generasi yang cemerlang. Sayang sekali, wujud perhatian tersebut tidak nampak di negeri ini. Mengacu pada maraknya kejadian kasus prostitusi anak telah membuktikan kebobrokan negara dalam memenuhi hak-hak para pemuda negeri ini. Kemiskinan selalu menjadi faktor utama yang melatarbelakangi hampir sebagian besar kasus prostitusi. Namun seiring berjalannya waktu, alasan tersebut justru berkembang menjadi hobi baru bagi pelaku untuk memuaskan diri hingga mempengaruhi orang-orang di sekitarnya agar melakukan hal yang sama. Masalah ini wajib kita lihat sebagai sebuah persoalan sistemik. 

Mengapa? Tanpa kita sadari, saat ini kita hidup dalam ketidakidealan sebuah sistem berpondasi lemah, yaitu sistem kapitalis sekuler. Sistem ini dibentuk dengan berdasar pada akal manusia. Sistem kehidupan kapitalistik hanya memberikan kebahagiaan semu dan terbukti merusak tatanan kehidupan yang ideal bagi manusia. Ekonomi berbasis riba, pendidikan berbasis materialistik, gaya hidup bebas ala Barat, dan aturan tambal sulam bukanlah hal baru dalam sistem ini. Oleh karena itu, sangatlah wajar jika kemiskinan selalu melanda negeri bersistem ini dan menyebabkan setiap orang mau menempuh jalur manapun asal dapat bertahan hidup.


Penerapan Islam Kaffah Mampu Menghapus Segala Bentuk Kekerasan dan Prostitusi

Rasulullah Saw. bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin, yang bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya. Seorang penguasa yang memimpin manusia (rakyat) adalah pemimpin, dan dia bertanggung jawab terhadap mereka.” (HR al-Bukhari).

Negara merupakan pondasi utama dalam mewujudkan generasi terbaik penerus bangsa. Hal ini hanya dapat terwujud dengan pengaturan sistem yang sempurna dalam wadah khilafah melalui pelaksanaan fungsi-fungsinya pada jalur hukum (sanksi), pendidikan, ekonomi, sosial dan politik. Khilafah wajib menyediakan pendidikan bermutu yang fokus membangun karakter intelektual pemuda –termasuk memberikan bekal keahlian bagi warganya- sehingga mampu bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pendidikan bukan diarahkan hanya sekadar mengejar prestise dan populatitas sebagaimana yang terjadi saat ini.

Khilafah wajib menyediakan lapangan pekerjaan yang memadai bagi rakyatnya sehingga setiap orang dapat mencari nafkah dengan cara yang halal dan prostitusi tidak lagi dilegalkan untuk tujuan memenuhi kebutuhan hidup. Selain itu, negara harus mengoptimalkan pengelolaan sumber daya yang dimiliki untuk kemaslahatan umat bukan untuk dikuasai individu tertentu. Khilafah memegang peranan penting dalam hal kontrol sosial melalui pembinaan dalam lingkup keluarga, masyarakat hingga negara sebab generasi berkualitas akan lahir dari lingkungan yang berkualitas pula.

Khilafah memiliki pengaturan sanksi tegas yang mampu menimbulkan efek jera bagi semua yang terlibat dalam aktivitas perzinahan, yaitu bagi fasilitator (mucikari), pelaku (pelacur/Pekerja Seks Komersial; PSK), maupun pemakai jasanya. Sangat kontras dengan aturan saat ini, hanya menjadikan PSK dan pemakai jasa berstatus sebagai korban sehingga bebas berkeliaran.

Melalui fungsi-fungsi tersebut, sangat mungkin terlahir para pemuda pilar peradaban yang gemilang. Sebagaimana Ibnu Firnas, Ibnu Sina dan Maryam Al-Asturlabi para ilmuan Islam yang berprestasi di bidang sains, teknologi dan ahli ilmu fiqih, bahasa arab, dan ilmu-ilmu Islam lainnya. Generasi-generasi ini hanya terbentuk dengan menggunakan sistem Islam dengan segala idealitasnya tentang kehidupan. Oleh karena itu saatnya kita mengambil sistem Islam sebagai aturan kehidupan dan menerapkannya secara kaffah dalam bingkai Khilafah Islamiyah. Inilah yang seharusnya kita perjuangkan untuk diterapkan di tengah kerusakan umat saat ini.[]

Oleh: Honey Dzikri Marhaeny, S.Farm

Posting Komentar

0 Komentar