Inggris Jadikan Indonesia Poros Indo-Pasifik, Pengamat: Hati-Hati terhadap Agenda Global



TintaSiyasi.com-- Merespons manuver politik luar negeri Inggris yang tertuang dalam Integrated Review untuk menjadikan Indonesia sebagai poros Indo-Pasifik, Pengamat Hubungan Internasional Budi Mulyana, S.IP., M.Si. memperingatkan, untuk berhati-hati terhadap agenda-agenda global yang dirancang oleh Inggris

“Dalam konteks Inggris, dengan latar belakang histori dan karakteristiknya yang kita sudah sama-sama fahami, semestinya harus berhati-hati terhadap agenda-agenda global yang dicanangkan oleh mereka,“ terangnya dalam acara Kabar Malam: Sinyal Campur Tangan Inggris Di Indonesia, Kamis (08/04/2021) di News Khilafah Channel.

Budi menyatakan, adanya Integrated Review tersebut, memperlihatkan adanya perluasan kepentingan Inggris di kawasan Indo-Pasifik.

“Setiap kunjungan suatu negara ke negara lain pasti ada nilai politisnya. Apalagi negara ini memiliki kekuatan global yang mantan adi daya,” ungkapnya. 

Ia mengungkapkan, agenda Integrated Review Inggris bisa ditelaah, dipelajari, dan didalami dengan baik untuk mengungkap keinginan Inggris di Indo-Pasifik serta akibat implementasinya terhadap negara besar (Amerika Serikat dan China) yang sudah eksis sebelumnya. 

“Secara tradisional, dulu Indo-Pasifik adalah kawasan yang dikuasai Inggris. Inggris mencoba mengembalikan positioning di Indo-Pasifik ini,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kerjasama terkait terorisme Inggris dan Indonesia bisa dijadikan pijakan persaingan dengan Amerika Serikat. Ditambahkannya, Inggris tidak bisa vis a vis (berhadap-hadapan langsung) dengan Amerika.

“Kalau kita lihat sejarah atau tipikal karakteristik bangsa Inggris ini, mereka selalu berusaha bermain politik yang menyembunyikan maksud. Tidak blak-blakan seperti Amerika Serikat,” bebernya.

Ia menjelaskan, persaingan antara  Inggris dan Amerika sangat kentara dalam kasus Papua. Ia mengatakan, tokoh separatis Papua Benny Wenda adalah warga negara Inggris.

“Itu menjadi semacam pemicu bagaimana Papua diperebutkan oleh dua kekuatan. Amerika dengan penguasaan Freeport. Inggris melalui tindakan politiknya berusaha mengganggu kepentingan itu. Sangat kentara persaingan antara Inggris dan Amerika di kawasan Indo-Pasifik," jelasnya.

Ia mengimbau, agar Indonesia dan negeri-negeri Muslim lainnya jangan sampai dipermainkan negara-negara besar, seperti Inggris, Amerika Serikat, Cina, Uni Soviet, atau Rusia. 

“Negeri-negeri Muslim kaya dengan sumber daya dan potensinya luar biasa, masih menjadi negeri yang dipermainkan, dimanfaatkan, atau menjadi kepentingan negara dengan kekuatan global. Ini sangat disayangkan,” tandasnya. 

Budi mengingatkan, negeri-negeri Muslim, khususnya Indonesia, harus introspeksi untuk membangun kekuatan secara mandiri dan bisa berhadapan vis a vis dengan negara-negara berkekuatan global itu. 

“Indonesia punya kapasitas. Kita negara yang cukup besar, sumber daya alamnya  luas, jumlah penduduk juga banyak. Cuma tadi, pride yang belum tumbuh bagi bangsa ini. Sehingga, seolah-olah kepentingan-kepentingan negara global itu tidak bisa terelakkan," bebernya. 

Ia menyayangkan, ada pula oknum boneka yang ditancapkan oleh negara global di negeri-negeri Muslim yang lemah. "Terlebih ada oknum yang menjadi agen atau boneka dari negara-negara global ini. Tentu itu sangat tidak layak. Inilah yang menjadikan negeri-negeri Muslimmuslim lemah. Tidak bisa menunjukkan potensi yang dimilikinya,” pungkasnya.[] Reni Tri Yuli Setiawati

Posting Komentar

0 Komentar