Indahnya Ramadhan Dirasakan Setiap Saat, Jika Taat Syariat

Bulan mulia, ku nanti-nanti.
Penuh suka-cita kita menyambutnya. 
Bulan mulia, ku nanti-nanti. 
Penuh bahagia menanti karena cinta. 
Ramadhan, ku rindu untuk bertemu. 
Siapkan hatiku juga hatimu. 
Ramadhan, ku rindu untuk bertemu. 
Dengan penuh cinta, jemput indah Ramadhan.

Ya, jika kita sering mendengar lagu itu berarti bulan Ramadhan 2021 tidak lama lagi akan tiba, umat Islam di dunia menyambutnya dengan sukacita. Bagi masyarakat di Indonesia, Ramadhan menjadi bulan penuh berkah, tidak saja bagi sektor perdagangan, ekonomi, transportasi tetapi juga hiburan, termasuk siaran televisi, semua berlomba berharap keberkahan di bulan Ramadhan.
Bahkan untuk menyambut bulan Ramadhan, lembaga Penyiaran Indonesia sudah memberi ancang- ancang menerbitkan sebuah aturan tayangan bagi acara televisi di bulan Ramadhan nanti.

Sepanjang Ramadhan 2021, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) melarang televisi menyiarkan adegan berpelukan hingga yang mengandung unsur lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT). Aturan itu tercantum dalam Surat Edaran KPI 2/2021 berdasarkan keputusan pleno 16 Maret 2021. Tujuannya, meningkatkan kekhusyukan menjalankan ibadah puasa. "Sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai agama, menjaga dan meningkatkan moralitas," tulis Ketua KPI Pusat Agung Suprio itu dalam surat tersebut. Setidaknya terdapat 14 poin aturan yang diminta KPI ke lembaga penyiaran (Tirto.id, 20/3/2021).

Selain itu, lembaga penyiaran dilarang mengeksploitasi konflik dan atau privasi seseorang, bincang-bincang seks, serta muatan yang bertentangan dengan norma kesopanan dan kesusilaan. Tidak menampilkan pengisi acara yang berpotensi menimbulkan mudarat atau keburukan bagi khalayak kecuali ditampilkan sebagai orang yang menemukan kebaikan hidup, insaf atau tobat, lanjut aturan tersebut.

Dalam sistem kapitalis saat ini, agama dipisahkan dari semua lini kehidupan, maka ini adalah hal  yang biasa terjadi. Ketika menghadapi Ramadhan, media berlomba untuk mencari keuntungan agar banyak peminat, maka acaranya pun disesuaikan dengan kondisi masyarakat, agar memperoleh rating yang tinggi, sehingga akan mendapatkan keuntungan yang tinggi pula.

Padahal kaum Muslim tidak hanya membutuhkan tayangan yang mendukung tercapainya tujuan puasa, tapi juga sistem yang benar-benar mewujudkan tujuan takwa, apalagi larangan tayangan selama Ramadhan semestinya berlaku sepanjang waktu, bukan hanya momen Ramadhan.

Ramadhan tanpa sistem Islam, kebahagian umat tidak sempurna, karena tanpa adanya sistem yang menerapkan syariat secara kaffah, tidak ada yang bisa melindungi akidah umat dari serangan musuh-musuh Islam, mereka secara sistemis dan gencar menyerang akidah umat, lewat berbagai media dan aturannya.

Dalam sistem Islam, tidak perlu menunggu bulan Ramadhan baru akan menjaga tayangan agar tidak menampilkan konten yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Tapi, setiap hari tanpa melihat momen, negara menjalankan aturan ketat bagi setiap tayangan yang akan ditonton masyarakat, apakah itu mengandung syirik, ide-ide sesat, atau yang berbahaya dan mendangkalkan akidah umat.

Negara Islam juga tidak akan membiarkan adanya informasi atau iklan tentang produk-produk yang membangkitkan nafsu belanja di bulan Ramadhan, yang akan mengarahkan masyarakat ke pola hidup yang konsumtif, namun justru akan mengarahkan ke pola hidup tertib dan bersahaja, banyak berinfak, sedekah dan kegiatan yang bisa meringankan beban orang lain.

Karena dalam Islam, penjagaan suasana kehidupan yang penuh dengan ketakwaan, tidak cukup dilakukan oleh lembaga independen seperti KPI. Tetapi, penjagaan suasana kehidupan yang penuh dengan ketakwaan akan dilakukan langsung oleh negara. Negara yang bersistem Islam dengan kekuatannya, akan melindungi keimanan dan ketakwaan individu dan masyarakat. Selain mengatur arus informasi agar tidak bertentangan dengan aturan-aturan Islam, negara juga akan senantiasa memberikan pembinaan-pembinan keislaman, bukan hanya di Ramadhan saja.

Sistem Islam akan menjaga kehormatan umat, akidah, agama serta menciptakan suasana ketakwaan dalam masyarakat dan negara. Dengan sistem Islam akan terwujud ketakwaan secara totalitas, karena semua hukum akan berdasarkan hanya pada syariat-Nya saja. Sehingga suasana ketakwaan benar-benar akan terasa tanpa harus menunggu bulan Ramadhan tiba.

Oleh karenanya, menjadi kewajiban bagi kita sebagai umat Islam untuk memperjuangkan Islam agar tegak di muka bumi. Perjuangan ini akan lebih mudah dilakukan jika seluruh komponen umat menyadari dan bergerak bersama untuk mengembalikan kehidupan Islam. Bukan hanya selama Ramadhan saja umat Islam terjaga kehidupannya dari kemaksiatan, tapi sepanjang masa jika hidup dalam ketaatan kepada syariat Allah SWT dalam sebuah bingkai sistem Islam. Wallahu a'lam bishshawab.[]

Oleh: Isty Da'iyah

Posting Komentar

0 Komentar