Impor Garam, Untuk Siapa?


Wacana impor sedang hangat dibicarakan, salah satunya pemerintah merencanakan untuk melakukan impor garam industri pada tahun ini. Jumlah garam yang akan di impor kali ini diperkirakan akan lebih banyak 13% dari kebutuhan seharusnya. Tentu ada alasan mengapa pemerintah melakukan impor. Hal yang mendasari adanya impor garam disebabkan oleh kuantitas atau jumlah yang dihasilkan oleh petani garam dalam negeri belum mencukupi kebutuhan industri, dan kualitas garam industri dalam negeri belum sesuai dengan klasifikasi yang diharapkan oleh pihak industri. 

Begitulah alasan pemerintah yang mendasari keharusan untuk melakukan impor. Lalu bagaimana dengan fakta jika terdapat gudang yang menyimpan puluhan ton garam industri di salah satu kabupaten di Nusa Tenggara Timur (NTT) selama bertahun-tahun? Para petani tentu resah akibat adanya wacana impor padahal sudah menyampaikan bahwa terdapat puluhan ton garam yang belum dimanfaatkan. Petani garam juga merasakan keresahan dengan adanya impor, tentu garam yang telah mereka panen tidak akan terjual habis sebab harga garam impor jauh lebih murah dari garam dalam negeri. 

Lalu sebenarnya impor ini untuk kemaslahatan dan kebutuhan siapa? Dan apa yang menyebabkan selalu saja bergantung pada impor? Karena bukan sekali saja impor garam diadakan namun hampir setiap tahun direncanakan untuk impor dengan alasan serupa. 

Alasan yang sebenarnya hanyalah satu, meraup keuntungan materi. Mengapa demikian? Tentu dalam sistem kapitalisme saat ini materi adalah segalanya, ketika melakukan sesuatu harus dipastikan mendapat manfaat dari keputusan tersebut. Saat melakukan impor ada beberapa pihak yang akan mendapatkan keuntungan. Pertama, importer yang merupakan pedagang besar akan mendapatkan keuntungan apabila menjual barangnya dengan harga yang lebih mahal di dalam negeri. Tentunya importer ini mengantongi banyak izin jika mau memasok barangnya ke dalam negeri. Kemungkinan besar pejabat yang berhubungan dengan importer agar melancarkan keinginan importer tersebut harus dilicinkan dengan uang, sehingga impor akan berjalan dengan lancar. Para pejabat korup ini merupakan orang kedua yang akan mendapatkan keuntungan. Lalu yang ketiga, pihak industri yang menggunakan garam tentu akan mendapatkan keuntungan karena bisa membeli garam dengan harga murah dibandingkan jika membeli di dalam negeri. Bukankah ketiganya untung banyak dengan adanya impor ini?

Mereka yang mementingkan materi diatas segalanya tentu tidak memikirkan bagaimana nasib para petani garam. Para petani adalah bagian terbawah dalam piramida kapitalisme, menjadi yang paling tertekan dan terhimpit. Begitulah cara berpikir dalam sistem ini. Sistem yang hanya mengagungkan materi, yang dipikirkan hanyalah bagaimana cara agar bisa mendapatkan banyak materi tanpa memikirkan nasib orang lain. Dan selama kita masih menggunakan sistem kapitalisme, pemberdayaan dan tata kelola agar para petani bisa menghasilkan lebih banyak garam dengan kualitas yang bagus tidak akan dipikirkan. Dalam sistem ini kita tidak akan dibiarkan mandiri tanpa mengandalkan impor. Karena ideologi kapitalisme tidak akan membiarkan negeri jajahannya kuat. 

Jika kita mau terbebas dan keluar dari jeratan sistem kufur ini, satu-satunya cara hanyalah menutup sistem kapitalisme. The End. Setelah itu kita kembali pada aturan Allah SWT, dalam siatem ini kita bisa mendapatkan pemimpin yang taat pada syariat. Pemimpin yang berambisi pada pahala bukan materi, yang memikirkan bagaimana caranya agar swasembada pangan bisa baik sehingga tidak bergantung pada negara lain. Apabila pemimpin dalam sistem Islam sudah mengusahakan untuk memenuhi kebutuhan pangan namun masih tidak mencukupi baru boleh impor tetapi dengan syarat usaha yang sangat matang dan maksimal. 

Dalam Islam swasembada pangan adalah kewajiban yang harus dipenuhi, sehingga tidak akan dibiarkan begitu saja. Pemimpin dalam Islam akan memperbaiki kualitas lautnya agar tidak tercemar dan menghasilkan garam yang berkualitas, mendirikan pabrik-pabrik, bahkan sekolah insinyur untuk menopang perkembangan industri. 

Begitulah sosok pemimpin yang didambakan saat ini, namun hanya dengan meninggalkan sistem kufur kapitalisme dan kembali pada aturan Allah baru kita bisa mewujudkan kehidupan yang ideal dengan pemimpin yang memahami perannya dalam mensejahterakan rakyatnya.[]

Oleh: Nida'ul Haq 
(Mahasiswi)

Posting Komentar

0 Komentar