Gus Tuhu: Rasa Gembira Menyambut Ramadan Indikator Iman Kita Hidup



TintaSiyasi.com-- Bulan suci ramadan segera tiba, Pengasuh Majelis Taklim (MT) Al-Mustanir Probolinggo Gus Tuhu mengatakan, rasa gembira dalam menyambutnya adalah indikator keimanan yang masih hidup.

“Rasa gembira menyambut ramadan sebagai bagian dari keimanan, bergembira akan datangnya bulan ramadan itu indikator bahwa iman kita adalah iman yang hidup,” ujarnya dalam Kajian Islam Tematik ke-42: Ramadan Segera Tiba, Apa Persiapan Kita? Senin ( 5/4/2021), di kanal YouTube Bromo Bermartabat.

Ia menjelaskan, kegembiraan orang yang beriman berjumpa dengan bulan yang setiap waktunya semua dinilai ibadah dengan pahala yang berlipat ganda.

“Maka bagi orang yang sudah mengetahui ini, bahwa kita sepakat, kita harus bergembira dengan datangnya bulan suci ramadan ini,” ungkapnya.

Gus Tuhu meyampaikan beberapa hal persiapan dalam memyambut yang harus dilakukan. Yaitu, pertama, memiliki niat yang kuat untuk taat kepada perintah Allah SWT. Karena menurutnya, kewajiban puasa ramadan tidaklah ringan selain waktunya sebulan penuh, puasa sejati bukan sekedar menahan haus dan lapar namun, puasa juga bermakna menahan diri dari setiap hal yang dilarang Allah SWT.

“Maka setiap mukalaf harus memiliki niatan yang kuat untuk semata-mata taat pada Allah SWT. Dengan kata lain, berpuasa dengan penuh keikhlasan sampai level mutaqin,” ujarnya.

“Ditambah lagi kita hidup dalam suasana masyarakat yang tidak diatur dengan syariat Islam, maka tantangannya semakin hebat,” tambahnya.

Kedua, me-refresh (menyegarkan kembali) diri tentang syariat puasa. Ia menjelaskan bahwa siapapun yang berharap puasanya diterima oleh Allah SWT maka hendaknya mengetahui syariat puasa dengan benar.

“Seluruh keilmuan seputar puasa harus dipahami, misalnya kapan mulai puasa dan kapan berakhirnya, apa yang menjadi pembatal puasa dan pembatal pahalanya, Intinya kita harus benar-benar menjaga agar puasa kita tidak sia-sia,” jelasnya.

Ketiga, menyiapkan diri lebih dekat dengan Al-Qur'an, ia menjelaskan bulan Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur'an sebagai petunjuk kehidupan yang benar berasal dari Zat yang Maha Benar.

“Jadi, di bulan ramadan ini kita harus lebih dekat lagi dengan Al-Qur'an melalui memperbanyak membacanya hingga khatam, mengkajinya dan berusaha tetap menjadikannya sebagai petunjuk kehidupan,” ungkapnya.

Keempat, menyiapkan diri agar bisa meraih malam kemuliaan. Ia mengatakan, di bulan ramadan ada satu malam spesial yang bernilai lebh baik dari 1000 bulan dan itu hanya dikhususkan untuk umat Nabi Muhammad Saw. 

“Maka akan beruntung bagi siapa yang bisa meraihnya dan akan merugi bagi siapa yang luput darinya, hal ini perlu azzam tersendiri untuk meraihnya,” ujarnya.

Kelima, menyiapkan harta terbaik untuk dikeluarkan. Ia menjelaskan, kesempatan terbaik di bulan Ramadan mengeluarkan harta mengiringi ibadah puasa, lipat ganda pahala yang dijanjikan di dalamnya menjadi pendorong utama mengeluarkan harta.

“Termasuk ibadah harta disini adalah zakat mal yang boleh jadi sudah wajib dikeluarkan bagi mereka yang mampu. Zakat fitrah juga sudah boleh dikeluarkan mulai awal bulan ramadan hingga pelaksanaan shalat Idul Fitri,” ujarnya.

Keenam, tetap berdoa. Gus Tuhu mengatakan, meski bulan Ramadan telah di depan mata, namun fakta menunjukkan masih ada di bulan syaban. Maka, tetap berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Allah SWT agar benar-benar mempertemukan kita dengan bulan muliaNya.

“Harapan perjumpaan diiringi dengan harapan meraih kemuliaan di dalamnya agar Allah SWT berkenan menerima seluruh amal baik kita dan kita tidak luput dari keberkahan di dalamnya. Ramadan kali ini menjadi bulan ampunan bagi seluruh dosa-dosa kita,” pungkasnya.[] Lukman Indra Bayu

Posting Komentar

0 Komentar