Direktur EL HRC: Jangan Kaitkan Isu Terorisme kepada Islam!



TintaSiyasi.com-- Menyikapi teror bom di Makassar Direktur El Harokah Research Center (HRC) Achmad Fathoni mengingatkan, jangan kaitkan isu terorisme dengan Islam.

“Kita berharap pada para penguasa kaum muslimin khususnya Indonesia agar tidak mudah mengaitkan isu terorisme kepada Islam dan kelompok kaum muslimin dan juga syariat islam,” ujarnya dalam Kabar Malam-Menyikapi Teror Bom di Makassar, Senin (29/3/2021) di YouTube News Khilafah Channel.

Ia menjelaskan, adanya isu terorisme di Indonesia tidak bisa dilepaskan dengan kondisi perpolitikan di dunia. Diawali peristiwa 11 September 2001 yang dikenal dengan N11 atau nine one one yaitu peristiwa penabrakan oleh pesawat komersial Amerika serikat terhadap gedung kembar World Trade Center ( WTC) di Amerika serikat.

“Presiden AS ketika itu ialah Josh Bush menyebutkan sangat jelas ideologi Islam di balik aksi-aksi terorisme atau rasisme di dunia internasional yang menjadi musuh nyata khususnya AS saat itu,” bebernya.

Ia pun menerangkan, akar terorisme yang ada di dunia Islam yaitu karena ada beberapa beberapa hal yang melatarbelakangi.

Pertama, adanya pemahaman agama yang kurang tepat," imbuhnya. Ia mencontohkan, ada yang berpandangan yaitu menjadikan teror atau kekerasan adalah jalan jihad sebagai bagian dari upaya melakukan perubahan di tengah-tengah masyarakat. 

“Ini tentu bertentangan dengan apa yang dilakukan oleh Rasulullah Muhammad Saw sebagai uswatun hasanah kita. Karena beliau selama fase Mekah itu tidak pernah melakukan tindakan kekerasan fisik meski rezim Quraisy waktu itu melakukan tindakan fisik, tapi tidak pernah dilawan, untuk melihat siapa yang ada di baliknya,” terangnya.

Ia mengatakan, kedua, adanya faktor eksternal yakni adanya terorisme yang terjadi oleh negara-negara penjajah semisal AS dan sekutunya diberbagai belahan dunia termasuk di negeri-negeri kaum muslimin yang disebut dengan state terrorism atau terorisme negara.

“Negara-negara yang melakukan teror tapi tidak disebut teroris misalnya, AS telah melakukan infansi di Afganistan dan telah membumihanguskan Irak, Israel yang telah melakukan tindakan merampok (dan) merampas negeri Palestina, serta pemerintah Myanmar telah melakukan pengusiran, penyiksaan, pembunuhan, bahkan terhadap etnis muslim Rohingya, dan mereka tidak pernah disebut teroris,” terangnya.

"Ketiga, ada upaya dari intelijen asing untuk melakukan stigmatisasi terhadap Islam serta ajaran Islam sesuai dengan apa yang digariskan oleh negara penjajah," ujarnya.

“Negara-negara penjajah ingin mengacaukan masyarakat dan negara demi kepentingan politik, ekonomi sambil mendiskreditkan Islam, organisasi Islam dan kegiatan dakwahnya. Serta melakukan rekayasa systemic dan sistematis, provokasi keji untuk terus menyudutkan negara Indonesia ini menjadi sarang teroris,” terangnya.

Ia mengingatkan dan berharap kepada seluruh komponen umat harus terus bersatu. Selain itu, agar tidak gampang terprovokasi, apalagi tersulut untuk menyalahkan elemen umat Islam yang lain. “Dengan berpedoman kepada firman Allah dalam surat Al-Hujurat ayat 6, Wahai orang-orang yang beriman jika datang kepada kalian orang yang fasik membawa suatu berita maka periksalah dan telitilah. Agar kalain tidak menimpakan suatu musibah atas suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kalian menyesal atas perbuatan kalian itu," imbuhnya.

“Inilah yang harusnya menjadi menjadi menjadi patokan kita bersama menjadi panduan kita yang umat Islam tidak gampang kalau kemudian ada berita yang menyudutkan Islam dan kaum muslimin terkait dengan isu terorisme ini, kita jangan percaya begitu saja,” pungkasnya.[] Sri Nova Sagita

Posting Komentar

0 Komentar