Dianggap Bom Makassar Skenario, Begini Tanggapan Jurnalis Senior



TintaSiyasi.com-- Dianggap tragedi ledakan bom di depan gereja katedral Makassar sebagai bentuk skenario yang sengaja dibuat, Jurnalis Senior Asyari Usman mengatakan, hal itu tidak mengherankan.

“Tidak mengherankan, jika orang melihat sebagai bentuk skenario yang sengaja dibuat,” ungkapnya dalam acara Catatan Peradaban: Teror Bom Meneror Umat Islam, Kamis (02/04/2021) di kanal YouTube Peradaban Islam ID.

Menurutnya, ada pihak-pihak yang berupaya mengalihkan isu dari persoalan-persoalan besar yang dihadapi pemerintah seperti korupsi bansos yang mengindikasikan keterlibatan elit pemerintah dan elit politik di parlemen.

“Para penguasa mengalami jalan buntu, lalu bagaimana cara untuk keluar dari ini untuk sementara waktu,” bebernya.

Ia mempersoalkan kecepatan investigasi yang kurang dari 24 jam dalam kejadian bom Makasar.

“Bom bunuh diri di Makassar itu luar biasa cepat investigasinya dan menghasilkan data yang begitu lengkap, mulai dari tadi Kemenhan sebut tadi apa namanya CCTV, rekaman CCTV yang lengkap sekali, tajam, berwarna dan kita lihat lebih kurang seperti rekaman film layar lebar gitu semuanya kelihatan,” tuturnya.

Ia mengatakan, berbeda dengan peristiwa KM 50 yang sangat sulit diungkap.

“Nah, kalau dibandingkan dengan susahnya mengungkap peristiwa KM 50 ya, jadi peristiwa bom bunuh diri di Makassar ini lebih cepat,” jelasnya.

Ia menilai, penyelidikan kasus Bom Makasar seperti mendapatkan perlakuan yang istimewa dari berbagai pihak.
“Istimewa dalam arti penyelidikannya lancar, kemudian pelakunya juga diungkap sedemikian detail, nikahanya enam bulan yang lalu, ada surat wasiat lah, macam-macam jadi lengkap sekali,” tandasnya.

Ia menambahkan, sangat berbahaya mengkaitkan kejadian bom Makasar dengan orang Islam, sebagaimana perkerjaan para buzzer

“Jadi, nah pastilah para buzzer akan gaspol untuk mengaitkan ini bahkan untuk langsung menuduh bahwa ini adalah kerjaannya orang Islam,” jelasnya.

Menurutnya, sangat berbahaya apabila investigasi yang dilakukan keliru. “Investigasinya masa cepat sekali bisa mengambil kesimpulan, itu terlalu cepat itu. Sehingga orang bisa salah nanti memberikan perspektifnya,” pungkasnya. [] Aprilia Soga

Posting Komentar

0 Komentar