Analis Senior PKAD: War on Terrorism Sesungguhnya adalah Perang Melawan Islam



TintaSiyasi.com-- Analis Senior Pusat Kajian dan Analisis Data (PKAD) Fajar Kurniawan menyatakan, war on terrorism, radicalism, dan extremism, (perang melawan terorisme, radikalisme, dan terorisme) sesungguhnya adalah perang melawan Islam itu sendiri.

War on terrorism menutupi kebobrokan barat, termasuk Amerika Serikat dan sekutunya. Yang sesungguhnya terjadi adalah perang melawan Islam. Baik war on terrorism, war on radicalism, war on extremism, sesungguhnya tak lebih dari war on Islam atau perang terhadap Islam itu sendiri,“ ujarnya dalam acara Focus Group Discussion Pusat Kajian dan Analisis Data (PKAD) ke-24: Terorisme Dalam Kacamata Para Tokoh, Sabtu (03/04/2021) di kanal YouTube PKAD. 

Ia menyatakan, dunia barat telah menjadi sponsor utama lahirnya istilah tertentu sebagai propaganda, seperti war on terrorism, war on radicalism, war on extremism. Ia menegaskan, Islam dan umat Islam ditempatkan sebagai pihak tertuduh sekaligus menjadi korban utamanya.

“Bagi Amerika Serikat dan sekutunya sangat penting untuk mencegah kebangkitan Islam. Karena, akan menimbulkan yang disebut Samuel Huntington clash of civilization atau benturan peradaban. Pasti bangkitnya peradaban Islam itu akan vis a vis (berhadapan) dengan peradaban kapitalisme yang diusung oleh Amerika Serikat dan negara barat lainnya,” terangnya.

“Menyedihkan, semua propaganda dan istilah terorisme, radikalisme, ekstremisme terlanjur dipahami umat sebagaimana pemahaman yang diinginkan Barat, termasuk oleh tokoh agama dan intelektual,” tambahnya.


Bumi dan Langit

Ia menegaskan, istilah terorisme tidak dikenal dalam khazanah peradaban Islam. Islam tidak pernah, dan Islam tidak akan pernah mengajarkan, serta tidak boleh dikaitkan dengan terorisme. 

“Narasi terorisme selalu dikaitkan dengan jihad di dalam Islam. Padahal, antara jihad dan terorisme itu seperti bumi dan langit,” tegasnya.

Fajar menerangkan, jihad adalah ajaran Islam, sementara terorisme dilarang di dalam Islam. Ia pun menegaskan, bunuh diri sangat diharamkan Allah ﷻ. Bom bunuh diri merupakan perbuatan kebodohan dan kejahatan, yang dilakukan orang tertentu atas nama jihad.

“Bom bunuh diri diatasnamakan jihad di Indonesia yang tidak memiliki argumen dan dalil syariat, adalah gabungan kepentingan, kejahilan, dan kejahatan. Jika ada orang atau pihak sengaja menebar narasi dan framing jahat, maka bukan hanya bodoh dan jahat, juga bermaksud merusak Islam itu sendiri,” tandasnya.

Ia menyitat pernyataan John Pilger, jurnalis berkebangsaan Australia, bahwa yang menjadi korban terbesar terorisme adalah umat Islam dan hakikat perang terhadap terorisme adalah perang menggunakan alasan terorisme.

Fajar pun menukil qaul Syekh Ali Jum'ah, terorisme tidak mungkin lahir dari agama tapi terorisme merupakan produk dari akal yang tidak sehat, hati yang keras, dan jiwa yang sombong.

Menurutnya, umat Islam hendaklah memiliki pemahaman mendalam atas ajaran Islam. Sehingga tidak dimanfaatkan kafir imperialis untuk melakukan tindakan yang merugikan citra Islam sendiri. "Umat Islam hendaknya paham bahwa terorisme bagian dari ghazwul fikri (perang pemikiran) untuk menyerang Islam. Maka, diperlukan kesadaran politik di dalam diri umat Islam,” pungkasnya.[] Reni Tri Yuli Setiawati

Posting Komentar

0 Komentar