Tanggapi Bom Makassar, Aktivis 98: Itu Framing yang Rugikan Umat Islam



TintaSiyasi.com-- Menanggapi peristiwa ledakan bom di depan Gereja Katedaral Makassar, Ahad (28/03/2021) Aktivis 98 Agung Wisnuwardana menilai hal itu adalah sebuah framing yang sangat merugikan umat Islam.

“Jadi saya memandang bahwa ledakan di Gereja Katedral ini adalah sebuah framing (pembingkaian) yang sangat merugikan umat Islam, “ ungkapnya kepada TintaSiyasi.com, Selasa (30/03/2021).

Ia menjelaskan, ledakan di depan Gereja Katedral Makassar, serta munculnya korban itu fakta. Tetapi, menurutnya, pemberitaan media dan tuduhan bahwa hal itu dilakukan oleh kelompok “teroris” adalah opini.

“Kelompok teroris itu di-framing-kan kepada kalangan umat dan aktivis Islam. Ini jelas opini. Kita tahu bahwa di Twitter setelah agenda itu muncul hashtags Munarman Otak Teroris. Ini jelas bukan fakta, tetapi opini, termasuk ungkapan hal ini dilakukan oleh kelompok radikal,” paparnya.

Ia mengungkapkan bahwa dalam pandangan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), radikalisme itu adalah akar dari terorisme. Sementara kriterianya menurut BNPT sendiri disebut dengan radikal, kelompok radikal atau pemikiran radikal, adalah mereka yang berpikir untuk menegakkan syariat Islam secara kafah dan ingin tegaknya khilafah.

“Makna rekayasa itu bisa tiga. Pertama, memang di setting oleh kalangan tertentu dengan sengaja. Kedua, ada pihak tertentu yang secara tidak langsung dipengaruhi, sehingga muncul ledakan. Ketiga, ada dugaan orang dengan kondisi yang mungkin dimasukkan bahan peledak di dalamnya dan kemudian di remote dari jarak jauh. Ini juga dimungkinkan beberapa hal itu,” jelasnya.

Ia menjelaskan, war on terrorism tersebut di Indonesia muncul pasca bom Bali. Dan hal itu merupakan bagian dari settingan Amerika Serikat pascaperistiwa World Trade Center (WTC) 11 Sepetember (911). 

“Ini yang kemudian menimbulkan arah Amerika untuk membangun aktivitas war on terrorism. Dan dunia didorong untuk melakukannya. Apakah mereka dukung war on terrorism-nya Amerika atau mereka bagian dari terorisme itu sendiri. Dan akhirnya, seluruh dunia men-setting itu semua. Dan tentu Indonesia tidak lepas dari konteks demikian,“ bebernya.

Dugaan Pengalihan Isu

“Beberapa hari kemarin, beberapa kalangan memang menduga ada konteks pengalihan isu dengan adanya ledakan di Gereja Katedral. Kenapa dugaan ini bisa mendekati tepat juga, karena kita tahu bahwa rezim negeri ini dalam kondisi yang secara faktual itu memiliki kebijakan-kebijakan yang mengkhianati rakyat, boleh dikatakan,” lugasnya. 

Ia mengatakan, rakyat mulai terbuka kesadarannya terkait dengan pengkhianatan itu. Misalnya terkait impor beras, Omnibus Law, korupsi ASABRI dan Jiwa Sraya yang, rencana utang luar negeri seribu trilyun, kebijakan kemudahan invesatasi, alih fungsi lahan pertanian, dan fly ash and bottom ash (FABA) yang diubah menjadi kategori limbah non-B3 (Bahan Beracun dan berbahaya) yang diprotes banyak kalangan. 

“Banyak sekali borok-borok yang dilakukan oleh rezim negeri ini yang mulai disadari oleh rakyat. Termasuk bagaimana mereka, dalam kondisi carut marut negara, malah saling berebut tentang (pemilu) 2024,” ujarnya. 

Ia mengungkapkan, rakyat sudah muak melihat kondisi yang ada. Adanya bom Katedral cukup menyita perhatian dan secara tidak langsung, kebobrokan rezim tersebut agak sedikit tertutupi olehnya. 

“Sekarang semua orang, media mem-framing bahwa pengeboman di Katedral itu adalah bagian dari gerakan radikal. Dan ini serasa sekali setting-annya. Jadi dugaan beberapa kalangan bahwa ini menjadi pengalihan isu dari kebobrokan kebijakan penguasa, termasuk kebobrokan attitude penguasa, ini dimungkinkan sekali,” katanya.

Ia menuturkan, di setiap masa pascareformasi, terutama pasca bom Bali seperti itu, ada kalangan tertentu yang sering mengaitkan peristiwa kekerasan kepada kelompok Islam yang konsisten mendakwahkan penerapan Islam secara kafah. 

“Kalau ini diarahkan, tentu ini yang saya katakan framing dan berarti mereka sebenarnya melaksanakan agenda Barat, wa bil khusus Amerika Serikat terkait war on terrorism," katanya. 

"Jadi, kalau rezim negeri termasuk para pendukungnya menganggap bahwa hal yang terjadi di Makassar itu sebagai tindakan kelompok radikal, dan kelompok radikal itu dimaknainya ormas yang konsisten mendakwahkan penerapan Islam secara kafah, jelas ini bagian dari remote Amerika Serikat. Karena kita tahu war on terrorism ini sebenarnya war on Islam,” terangnya. 

Ia mengungkapkan, bahwa yang ditakuti kapitalisme pasca runtuhnya Uni Soviet dengan komunismenya, adalah kebangkitan Islam yang tidak lepas dari perjuangan penegakan syariat Islam secara kafah dan khilafah. 

“Makanya wajar bila war on terrorism itu diarahkan ke war on kebangkitan Islam. Siapa sih yang sebenarnya takut dengan kebangkitan Islam? Yang jelas kapitalisme dengan negara adidaya yang mengampu ideologi kapitalisme. Termasuk mereka memberdayakan atau me-remote agen-agen mereka di negeri-negeri Islam, termasuk di negeri Indonesia ini,” paparnya.

Peringatan Keras kepada para “Dalang” 

“Saya ingatkan kepada “dalang”, ingat bahwa azab Allah itu sangat pedih. Kalau anda buat rekayasa, maka rekayasa Allah itu jauh lebih canggih. Ingat saja akan ada waktunya. Anda tidak bertaubat, maka anda akan mengalami kemurkaan Allah di dunia dan juga di akhirat. Azab Allah di dunia dan di akhirat. Catat secara khusus oleh kalian, hai para dalang,” tegasnya.

Ia menyatakan, sangat memalukan bila ada yang mengendalikan ledakan di Katedral Makassar. Ia mengatakan, masyarakat tahu dan menjadi rahasia umum siapa di balik semuanya. Masyarakat menyadari bahwa itu framing dan opini yang dibangun untuk menyudutkan Islam. 

“Sehingga dalang yang masih menggunakan aktivitas-aktivitas kekerasan kepada non Muslim, yang jelas ini adalah sikap yang bertentangan dengan Islam. Tetapi yang jadi jelek umat Islam juga. Ini tindakan yang sangat memalukan. Jadi tindakan dalang yang melakukan rekayasa terhadap hal ini adalah tindakan yang memalukan yang sebenarnya sudah diketahui publik. Siapa di balik ini semua,” pungkasnya.[] Reni Tri Yuli Setiawati.

Posting Komentar

0 Komentar