Aksi Penolakan Kunjungan PM India ke Banglades, Mohamed Islam: Bukti Konsep Persaudaraan One Ummah Masih Melekat



TintaSiyasi.com-- Menanggapi aksi protes di Bangladesh atas kunjungan Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi yang baru-baru ini terjadi, Aktivis Muslim Inggris mengatakan, aksi penolakan tersebut adalah satu bukti bahwa konsep persaudaraan one ummah (umat Islam adalah umat yang satu) masih melekat di tengah-tengah umat Islam. 

“Mengapa umat Islam turun melakukan aksi protes besar-besaran menolak kedatangan Modi? Padahal ia datang ke Bangladesh bukan untuk membunuh umat Islam sebagaimana ia lakukan terhadap warga Muslim di India? Inilah buktinya, bahwa konsep persaudaraan dalam Islam yaitu one ummah masih melekat," tuturnya dalam satu diskusi bertajuk 50 years of Bangladesh, The Illusion of Independence, Ahad (28/03/2021) di kanal YouTube AlWaqiyahTV.

"Artinya, di mana pun saudara-saudara Muslim kita dibantai, dijajah, mengalami kekerasan, kita berpihak kepada mereka dan berdiri mendukung saudara-saudara kita. Dan pelakunya, baik Modi atau siapa pun tidak boleh dijadikan teman juga tidak layak disambut kedatangannya," imbuhnya.

Menurutnya, aksi protes penolakan kedatangan Modi ke Bangladesh juga membuktikan, masyarakat muslim Bangladeshs sudah tidak percaya lagi dengan peraturan pemerintah yang tidak berpihak kepada umat. Bahkan, peraturan yang diadopsi umat Islam di negara mana pun hari ini, menurutnya, telah berusaha keras untuk menghapus atau mengubah konsep persaudaraan one ummah tersebut yang membuat umat Islam tersekat-sekat.

Di samping itu, Mohamed Islam menyatakan, peraturan yang ada di tengah-tengah umat hari ini hanyalah ingin membuktikan betapa bencinya musuh-musuh Islam kepada kaum Muslimin. "Betapa bencinya peraturan mereka kepada kita sebagai umat Islam. Hal itu, terlihat saat kita melakukan aksi protes, saat kita mengkritik, dan ketika kita melawan peraturan mereka, maka jawaban yang diberikan adalah shooting death,” jelasnya. 

Ketika dikaitkan dengan realitas negara Bangladesh yang sudah 50 tahun merdeka, ia menjelaskan, Bangladesh tidak berbeda dengan negara-negara Muslim lainnya. Sekitar lebih kurang 50 negara Muslim yang telah menyatakan dirinya merdeka, menurutnya, karena sebelumnya merasa tertindas secara ekonomi, konflik rasial, eskploitasi sumber daya alam oleh elit politik di negara mereka sendiri. 

“Pada dasarnya Bantglades tidak berbeda dengan negara Muslim lainnya yang kini berjumlah lebih kurang 50 negara. Semua negara tersebut lahir dari hasil penindasan dan tekanan secara ekonomi, rasial, serta penjarahan sumber daya alam yang tidak lain dilakukan oleh segelintir elit politik di negara mereka sendiri,“ tegasnya. 

Ia mengungkapkan, dengan merdeka, umat Islam seperti warga Muslim Bangladesh mengira semua tekanan dan penjajahan elit politik akan berakhir, dan sumber daya alam mereka dapat kembali kepada rakyat. Ia menyayangkan, justru ironis yang menimpa umat Islam. Setelah 50 tahun Bangladesh meraih kemerdekaannya, ternyata tetap berada di bawah tekanan dan penjajahan.

“Apa yang terjadi setelah 50 tahun merdeka? Tetap di bawah kendali tekanan. Dengan arti lain, lepas dari satu pintu penjajah masuk ke pintu penjajah lain,“ paparnya.

Aksi protes umat terhadap penolakan kunjungan PM India ke Bangladesh yang telah merenggut nyawa kaum Muslimin, menurutnya adalah satu tanda tanya besar bagi umat. "Apakah umat benar-benar merdeka atau kemerdekaan itu hanya slogan, bahkan tidak memberikan manfaat apapun bagi rakyat sesungguhnya," ujarnya.

Ia mempertanyakan, perayaan Bangladesh setalah 50 tahun merdeka telah membawa hasil atau hanya slogan tak bermanfaat. "Berhasil merayakan 50 tahun hari kemerdekaan, namun di waktu yang sama, kita bisa melihat suasana masyarakat di negara itu benar-benar merdeka atau tidak? Dan apakah kemerdekaan itu ternyata hanya sebatas slogan, bahkan tidak memberikan manfaat apapun bagi rakyat sesungguhnya?” pungkasnya.[] M. Siregar

Posting Komentar

0 Komentar