Wacana Presiden Tiga Periode, UIY Ibaratkan Don't Change the Winning Team



TintaSiyasi.com-- Menanggapi wacana jabatan presiden tiga periode, Cendikiawan Muslim Ustaz Ismail Yusanto (UIY) mengibaratkan, dont change the winning team (jangan ganti tim pemenang), jika di sepak bola.

"Buat mereka yang punya 'kepentingan', rezim sekarang ini ibarat tim sepak bola itu dont change the winning team," tuturnya di kanal YouTube Rayah TV bertajuk Ada Apa di Balik Wacana Presiden 3 Periode? Ahad (21/3/2011).

Menurutnya, ungkapan ringkas itu don't change the winning team. Jadi, kalau sudah punya tim yang menang, maka jangan diubah.

"Siapa strikernya, siapa back-nya, kipernya, termasuk pelatih juga jangan diganti. Siapa sih yang disebut the winning team itu?" tanyanya.

Ia memaparkan, the winning team itu buat suporternya, buat pemilik channel, dan klubnya, untuk penonton dan lawan mendapat kekalahan.

"Pemilik klub sepak bola ini adalah 'keberuntungan', ini adalah kemenangan, ini adalah keberhasilan. Nah, jadi yang dimaksud dengan the winning team itu bohir, para oligarki, buat mereka-mereka yang selama ini merasakan keuntungan macam-macam juga begitu," paparnya.

Ia mengatakan dengan perumpamaan berikut, kalau (saat) ini sudah menang, satu, dua periode, mengapa dilanjutkan dengan tiga periode? Mungkin kalau sudah tiga periode, kenapa enggak empat? 

"Saya kira sesederhana itu saya menganalisis yang sedang terjadi saat ini. Yang pertama itu adalah kepentingan politik-ekonomi didalamnya termasuk pebisnis, pemilik modal," ujarnya.

Ia membeberkan, seluruh kepentingan harapan dan juga angan-angan yang selama ini nyaris mustahil itu sekarang bisa diwujudkan.

"Ada satu level bila anak muda bilang itu aja gile. Ini ungkapan yang wah sekali. Jadi ini kepentingan atau keuntungan luar biasa. Di era mana sebuah perusahaan bisa royalti nol persen?" tanyanya.

Ia mengatakan, royalti nol persen artinya itu 'yuk ambil suka-suka' tanpa satu rupiah. "Jadi, ini puncak dari  keuntungan. Minta berapa lagi kalau sudah nol persen? Kalau royalti sepuluh persen itu masih angka, lima persen juga masih ada, satu pun masih ada itu. Tapi, kalau nol persen belum pernah ada," pungkasnya.[] Munamah

Posting Komentar

0 Komentar