Tanggapi UU Sisdiknas, Prof. Suyanto Ungkap Dulu Kata Iman dan Takwa Diserbu Mati-Matian


TintaSiyasi.com-- Berbicara pembahasan draf Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) terkait tujuan pendidikan nasional dahulu sebelum disahkan, Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta Profesor Suyanto Ph.D mengatakan, dalam drafnya tersebut kata iman dan takwa diserbu mati-matian.

"Di situ iman dan takwa itu sudah diserbu mati-matian, ketika kita berbicara mengenai tujuan pendidikan nasional ini," tegasnya dalam Live Event - Fokus Group Discussion #10: Peta Jalan Pendidikan Indonesia, Sabtu (13/03/2021) di kanal Youtube Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa.

Ia menceritakan, peristiwa itu terjadi di era Menteri Pendidikan Nasional dijabat oleh Yahya Muhaimin (1999-2001). "Perjuangan untuk menghilangkan kata iman takwa itu sudah sejak ketika saya diserahi oleh dulu, waktu menterinya Pak Yahya Muhaimin," tambahnya.

Ia mengungkapkan, terkait tugasnya yang menyiapkan draf UU Sisdiknas, telah mendapat tekanan/kekuatan (luar) yang menurutnya ingin bangkit lagi melalui peta jalan pendidikan Indonesia itu. "Memang ada kekuatan. Kekuatannya mau bangkit lagi ini. Ini melalui peta jalan itu," ungkapnya.

Menurut mereka, lanjutnya, kata iman dan takwa merupakan bahasa asing. Padahal menurut ia, banyak kata-kata bahasa Indonesia berasal dari bahasa asing. Antara lain, kata majelis permusyawaratan rakyat. "Majelis itu juga kata asing," tambahnya.

Di sisi lain, ia bersama aktivis-aktivis Islam juga sempat melakukan demonstrasi sekadar mempertahankan kata iman dan takwa dalam rancangan undang-undang Sisdiknas saat itu. Sehingga lanjutnya, dari pengawalan ketat, mampu mempertahankan kata itu di dalam Undang-undang Sisdiknas.

"Untung, karena iman dan takwa masih ada di situ akibat dari pengawalan yang ketat dari masyarakat dan kita bersama," pungkasnya.[] Zainul Krian

Posting Komentar

0 Komentar